Mengapa Aku Dilahirkan sebagai Manusia?

Menjadi manusia, dengan tugasnya di muka bumi, bukanlah hal yang gampang. Waktu saya usia 4 tahunan, saya pengen jadi kancil aja. Bebas dan riang tanpa beban. Anak saya sekarang, 3 tahun, obsesi banget jadi kucing. Mungkin dilihatnya enak kali ya, hidup leyeh-leyeh dikasih makan, pipis boleh sembarangan (soalnya bocahe baru lulus Toilet Training dan dia suka protes kok enak kalo kucing bisa pipis di mana aja). Hhhhhhhhhh. Ternyata, anaknya teteh saya di ITBMh juga sempat bilang ogah jadi manusia di usia 10 tahun karena jadi manusia teh banyak tuntutan syariat.

Dikisahkan dalam Surat Al-Ahzab Ayat 72-73, gunung, langit, dan bumi pun menolak tugas manusia!

إِنَّا عَرَضْنَا الأمَانَةَ عَلَى السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الإنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا (72) لِيُعَذِّبَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا 
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Sebenernya amanat itu hanya satu : taat padaNya. That’s it.

Di akhir ayat 72, disebut “Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” karena emang they didn’t have any idea betapa susahnya menjalani amanat itu. Caranya emang hanya dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Namun, ada karakter dasar manusia di saat itu (sebelum lahir ke dunia) yang membuatnya merasa mampu menjalankan amanat yang… engingeng… berat.

 

Dalam tafsir Ibnu Katsir, Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Abu Bisyr, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya Al-Ahzab: 72, Ibnu Abbas mengatakan bahwa lalu amanat itu ditawarkan kepada Adam seraya berfirman, “Ambillah amanat ini berikut segala konsekuensinya. Jika kamu taat Aku beri kamu ampunan dan pahala; dan jika kamu durhaka, maka Aku akan mengazabmu.”

Udah mah PD banget, diimingi pahala pula. Adam pun berkata, “Saya terima.” Lalu amanat itu diambil oleh Adam.

Padahal, masih dalam Tafsir Ibnu Katsir, diriwayatkan dari Mujahid. Ketika amanat ini ditawarkan kepada langit, maka langit menjawab,

“Ya Tuhanku, Engkau telah memikulkan kepada kami bintang-bintang, semua penduduk langit, dan lain-lainnya. Kami tidak menginginkan pahala dan kami tidak mau memikul suatu kewajiban apa pun.

Lalu ditawarkan kepada bumi. Maka bumi menjawab,

Ya Tuhanku, Engkau telah menanamkan semua pohon padaku, dan Engkau alirkan semua sungai padaku serta penduduk bumi dan segala sesuatunya, aku tidak menginginkan pahala dan aku tidak mau memikul kewajiban lainnya lagi.

Hal yang sama dikatakan oleh gunung-gunung. Lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh ( Al-Ahzab: 72) dalam memikirkan akibat urusannya.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Juraij, dari Ibnu Asywa’ yang mengatakan bahwa ketika Allah menawarkan amanat kepada mereka untuk dipikul mereka, maka semuanya bergetar mengajukan protes kepada Allah Swt. selama tiga hari tiga malam, lalu mengatakan, “Wahai Tuhan kami, kami tidak kuat mengamalkannya dan kami tidak menginginkan pahala.

Mereka bukan ga mau taat, mereka malah maunya cuma taat aja. Sedangkan manusia, seperti halnya jin, memiliki kecenderungan untuk taat dan tidak taat. Seperti dalam surat Asy Syams ayat 8 :

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.

 

Jadi, apa sih alasan manusia PD banget merasa dirinya akan bisa selalu taat?

Iya, kita semua, diwakili nabi Adam as SANGAT PERCAYA bahwa apapun yang diberikan dan diperintahkan oleh Allah adalah baik. Adam sangat percaya tanpa rasa curiga, “nih Allah mau ngerjain gue ya“, enggak.

Dalam suatu kisah dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam berkata… Allah berkata kepada Adam as, sedang kedua tanganNya tergenggam “pilihlah, mana yg kau mau“. Lalu adam berkata “aku memilih tangan kanan Rabbku. Dan kedua tangan Rabbku kanan dan penuh keberkahan“.

Adam as seyakin itu bahwa semua pilihan dan perintah Allah itu baik dan penuh keberkahan, karena ia sejuta persen yakin Allah tidak menginginkan kesusahan pada hambaNya.

Yang Adam as tau, Allah adalah Rabb yang Maha Penyayang dan Maha Bijaksana pada hambaNya. Sehingga apapun yang diperintahkan padanya pasti adalah kebaikan. Dan benerkan persangkaan Adam as, begitu amanahNya diterima, langsung diberi pertolongan untuk menjalankannya kan? #selfplak #benchmarkingAdam

Namun, seperti diriwayatkan Ibnu Abu Hatim dalam Tafsir Ibnu Katsir, setelah manusia menerima amanat Allah itu, Allah berfirman, Sesungguhnya Aku akan menolongmu dalam menjalankannya, sesungguhnya Aku akan menolongmu dengan memberi dua kelopak mata. Apabila kedua mata itu menyuruhmu untuk melakukan hal yang kubenci, maka pejamkanlah. Dan aku akan menolongmu dengan memberi lisan yang diapit oleh kedua bibir. Apabila lisanmu menyuruhmu untuk melakukan hal yang Kubenci, maka katupkanlah. Dan Aku akan menolongmu dengan pakaian terhadap kemaluanmu, maka janganlah kamu membukanya untuk hal-hal yang Kubenci.

Oke, itu alasan yang pertama. Adam as sangat percaya pada Allah yang Maha Penyayang dan Maha Segalanya.

Yang kedua, manusia itu nyadar kok dirinya dibangga-banggain ama Allah swt di depan semua makhluk, bahkan semuanya disuruh bersujud sebagai bentuk penghargaan (meureunan kalo kita mah sampe disuruh standing applause gitu lah pas liat karya yang luar biasa. Tapi ini saking hebatnya karya cipta, sampe disuruh sujud). Semua makhluk termasuk malaikat dan iblis (dua makhluk yang paling shaleh di masa itu) karena Allah ingin memamerkan karya cipta terbaikNya. Yang kedua ini, adalah ucapan ust Nouman Ali Khan di Storynight bertajuk “Whisper” hari sabtu, 23 November 2019 lalu.

Jadi, dengan dua alasan tadi, manusia emang PD banget!

Bahkan, becandaannya Ustadz Nouman mah ceunah, ibarat ruh itu lagi nunggu giliran ditiupkan ke alam rahim sebagai perantara alam ruh dan alam dunia, para ruh itu excited banget. “Come on, I wanna born right now!“. Gitu lah kira-kira hahahaha.

Jadi kalo ada yang protes-protes “kenapa aku dilahirkan di dunia? Kenapa aku jadi manusia?“, toyor aja sambil bilang “ai elu, elu sendiri yang pengen dan malahan elu bangga bat elu dijadiin karya cipta terbaikNya. Elunya aja lupa“. Hahahaha, becanda. Dielus sayang ajaaaa…

 

Sewaktu di kuliah Islamic Worldview, ustdaz Wendi pernah bilang bahwa dalam bahasa quran, selain disebut al basyar, bani adam, atau annas, manusia disebut juga al insan. Yang salah satu akar katanya adalah nashiya, artinya lupa. Jadi memang manusia itu insan yang sifatnya lupa.

Boro-boro ingat apa yang pernah terjadi sebelum kelahirannya di dunia, boro-boro inget bahwa di alam ruh itu perasaan kita pada Allah swt tuh hanya ada sayang dan percaya, boro-boro inget bahwa Allah itu sangat membanggakan kita sebagai puncak penciptaannNya, kejadian beberapa minggu lalu aja ga ingat semuanya secara sinematik kan.

وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَىٰ آدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا

Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat. (QS Thaha : 115)

Ini lah yang tidak sadari oleh manusia, termasuk Adam as, sehingga “kebodohan dan kedzaliman”nya itu pula, menurut riwayat Ibnu Abbas dalam Tafsir Ibnu Katsir, dalam waktu yang tidak begitu lama kira-kira antara Ashar dan malam hari pada hari itu juga, Adam melakukan pelanggaran (yaitu memakan buah khuldi). Di antara semua hal yang boleh, yang dilarang cuma satu, jangan dekati pohon itu. Namun, karena bisikan setan lah Adam as dan Hawa ra lupa apa satu-satunya amanat Tuhannya itu.

Gus Baha mengatakan dalam salah satu ceramahnya bahwa “kebodohan dan kedzaliman” Adam as ini sebenarnya bukan dalam definisi yang denotatif. Adam as tertipu oleh syaitan karena ia tidak pernah menyangka bahwa ada makhluk yang bisa menipu dengan mengucap nama Allah swt. Kasarnya mah polos banget lah. Dalam skema pikirnya, ga mungkin ada yang bisa bohong bawa-bawa nama Allah swt. Tapi ternyata memang ada. Yaitu iblis. Maka, melalui Rasulullah saw, Allah mengingatkan kita,

يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ

Wahai anak Adam! Janganlah kalian terfitnah oleh syaithan, sebagaimana dia telah mengeluarkan kedua orang tua kalian dari surga [Al-A’râf/7:27]

 

Menjadi manusia, lengkap dengan segala amanat yang diberikanNya, adalah sebuah karunia terbesar. Bapak kita, Adam as adalah salahsatu dari empat ciptaan Allah yang dibuat dengan tanganNya langsung. Langit dan bumi, bahkan malaikat sekalipun, Ia tinggal berkata “Jadilah!”.

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. (Yasin : 82)

Seperti diriwayatkan oleh Dirimi, Lalikai, Ajuri dan ulama lainnya dengan sanad shahih dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma berkata:

خلق الله أربعة أشياء بيده : العرش والقلم وعدن وآدم ، ثم قال لسائر الخلق : كن فكان

“Allah menciptakan empat hal dengan tangan-Nya: Arsy, pena, surga Adn dan Adam. Kemudian berfirman kepada seluruh makhluk ‘Jadilah, maka terjadi.”

Diriwayatkan oleh Darimi dengan sanad hasan dari Maisarah Abi Sholeh budak Kindah salah seorang tabiin mengatakan:

إن الله لم يمس شيئا من خلقه غير ثلاث : خلق آدم بيده ، وكتب التوراة بيده ، وغرس جنة عدن بيده  

Sesungguhnya Allah tidak menyentuh dalam penciptaannya kecuali tiga hal, menciptakan Adam dengan tangan-Nya, menulis Taurat dengan tangan-Nya dan menanam surga And dengan tangan-Nya.” Naqdu Darimi, hal 99.

Tapi Adam as terbuat dari tanah kering hitam yang hina, sedangkan malaikat dari cahaya, dan jin dari api. Tentulah malaikat dan jin lebih mulia dari manusia. Ntar kubahas ini di tulisan selanjutnya yaa, insyaAllah… ini udah kepanjangan banget XD

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.