yuwaswisu fī ṣudụr

Liqo kemarin, saya nanya sama mentor saya, gimana ya cara ngilangin cemas alias anxiety?

Pasalnya, untuk beberapa hal, otak saya kayak terprogram untuk pake kacamata negatif. Misalnya, ketika suami pulang telat dan ga ngasih kabar (masalahnya, ini almost everyday), pikiran saya berkecamuk apakah dia kecelakaan di jalan, apakah dia kena begal, bagaimana kalo dia pulang dalam keadaan jenazah? Naudzubillahi min dzalik.

Ragam skenario terburuk itu muncul begitu saja bahkan lebih saya takutkan ketimbang saya sendiri yang celaka.

Padahal, saya sudah paham qadha dan qadar sudah Allah atur di Lauh Mahfudz dan ditulis malaikat di dalam rahim. Padahal saya berusaha pasrah dengan setiap takdir Allah, apapun yang terjadi pasti karena atas kasih sayang Allah. Padahal, saya insyaAllah percaya Allah selalu memberi yang terbaik pada hambaNya.

Tapi saya benar-benar merasa terganggu dengan pikiran buruk itu. Meski pikiran buruk itu tidak membuat saya melakukan hal yang di luar batas kewajaran, saya merasa ingin terlepas dari kecemasan dan merindukan hidup tenang. Saya ingin berhenti dihantui pikiran ga jelas semacam itu.

Teh Patra, mentor saya, bilang bahwa pikiran buruk yang menimbulkan kecemasan itu nama lainnya adalah was-was. Was-was itu bisa jadi bukan karena otak kita rusak atau gimana, tapi dihembuskan oleh setan seperti yang Allah sebutkan dalam surat An Nas.

Saya nengok Tafsir Juz Amma karya Syeikh Ustaimin, dituliskan bahwa waswasah adalah apa-apa yang dilontarkan ke dalam hati berupa berbagai godaan, pikiran, keraguan, dan khayalan yang tidak memiliki kenyataan.

Lalu saya sebagai anak biologi jadi kepikiran, hal ini :

was-was –> kelebihan hormon kortisol –> gangguan kesehatan fisik dan mental.

Entah benar atau tidak, saya jadi berpikir apakah gangguan mental ini akan mempengaruhi spiritualitas kita? Entah semakin kuat atau semakin lemah, mungkin tergantung bagaimana kita mempertahankan diri.

Apakah mungkin gangguan mental ini akan menguatkan spiritualitas jika kita menyandarkan kekuatan untuk tetap sehat mental pada Allah swt? Dan sebaliknya, apakah spiritualitas yang tidak cukup kokoh menopang akan memperparah gangguan mental yang dialami?

Bukan Pipi namanya kalo bertanya tidak mencari jawabnya ahahahahaha. Langsung lah nanya ama teteh guruku yang lain, teh Mila Anasanti. Saya nanya apakah was-was itu dibisikkan oleh setan untuk menggoyahkan iman kita pada qadha dan qadar?

Jawabannya IYES. Supaya kita ga tawakkal sama Allah.

Nah kan was-was tadi bikin kortisol berlebih, berarti orang yang kelebihan kortisol bisa gampang dipengaruhi jin?

Jawabannya IYA kalo makin stres makin gampang diganggu. Tapi catatan dari Teh Mila adalah pada hakikatnya stres itu awalnya bagus, biar taubat dan mendekat ke Allah.

Malam sebelumnya, abis ngaji kitab (jangan tanya judul kitabnya, owe lupa.. Aqidah Thahawiyah gitu kalo ga salah) juga sama teh Mila. Teh Mila cerita bahwa takdir manusia yang udah ditertulis di Lauh Mahfudz sudah ditentukan range pahala atau dosanya tergantung iradah (pilihan hidup) dia dalam menyikapi takdir itu.

Firaun itu di Lauh Mahfudz udah tertulis range pahalanya kalo berhasil jadi raja yang shaleh dan baik akan seperti Sulaiman as yang merupakan raja segala raja dari hewan sampai jin, dan kalo kafir dosanya akan sangat besar karena ragam nikmat yang Allah beri untuk menjadikannya orang shaleh juga berlimpah ruah.

Berarti kalo orang udah punya bawaan genetik mental illness, kesempatan buat dapet pahala karena tawakalnya atau malah kesempatan lebih kufurnya lebih gede juga kayak firaun gitu ya? Tanya saya.

Jawaban teh Mila adalah, “Iya. Ibarat lahir dikasih pedang tapi ga ada manualnya. Orang lain ga dikasih. Nah yang dikasih pedang ga dikasih manual, akan trial n error. Dan kalo banyak gagal jadi terluka. Terluka ibarat penyakit kejiwaan. Tapi kalo nemu manualnya jadi akan melejit. Manualnya itu adalah belajar aqidah“.

Saya jadi inget obrolan dengan pakbos suami, memang hal paling basic dari aqidah adalah meyakini Allah itu Maha Rahman dan Maha Adil. Orang yang di dunia dikasih hidup susah entah dengan musibah yang gifted semisal mental illness atau penyakit fisik karena faktor genetik, akan mendapat peluang masuk surga yang berbeda karena thresholdnya untuk mencapai surga itu beda-beda setiap manusia.

Ini juga yang dibahas teh Mila di pengajian kemarin malam. Bahwa threshold setiap kita untuk masuk surga itu berbeda-beda. Orang miskin bisa dapet pahala 1000 hanya dengan sedekah 100rupiah, tapi orang kayak harus sedekah 1 juta untuk mendapat pahala yang sama. Makanya iman itu ga ada ukurannya, yang tau ukurannya hanya Allah, karena Allah yang juga ngasih takdir itu di Lauh Mahfudz.

Ini jadi kemana-mana wkwkwk

Jadi gimana caranya supaya kita justru panen pahala saat situasi was-was melanda?

Yang diajarin guru-guru saya di atas adalah :

  1. Yakinkan lagi bahwa Allah Rabb kita, yang mengatur segala liku hidup kita
  2. Syetan itu takut sama taawudz, maka begitu was-was melanda, segera taawufdz
  3. Istighfar, siapa tau di alam pikir kita sempet terbersit lupa pada kuasa Allah
  4. Wudlu, karena wudlu itu menenangkan fisik dan jiwa kita
  5. Sempurnakan dengan?
  6. sholat 2 rakaat dan
  7. berdoa minta perlindungan Allah

Untuk poin yang terakhir ini, karena teh Patra sempet mention soal surat AnNas, saya jadi tertarik baca tafsir AnNas yang ditulis oleh Syeikh Utsaimin, disitu ditulis bahwa setan itu biasa bersembunyi, kalah, dan melarikan diri ketika ada dzikir kepada Allah. Maka kita diperintahkan untuk selalu meminta perlindungan meski kita hendak tidur seperti tata cara tidur yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Kalau dalam keadaan tidur aja kita minta perlindungan, istilahnya tidur mah ga akan nyelakain siapa-siapa, apalagi saat sadar.

Di tafsir Fii Zhilalil Quran karya Sayyid Quthb tersirat bahwa manusia itu benar-benar diperintahkan untuk memohon perlindungan dengan Allah sampai-sampai surat AnNas ini menggunakan 3 namanya sekaligus. Rabb, Malik, dan Ilah.

Rabb adalah Tuhan Yang Memelihara, Yang Mengarahkan, Yang Menjaga, dan Melindungi. Al Malik adalah Tuhan Yang Berkuasa, Yang Menentukan Keputusan, Yang Mengambil Tindakan. Al Ilah adalah Tuhan Yang Mahatinggi, Yang Mengurusi, Yang Berkuasa.

Kita diperintahkan untuk berlindung dari al waswasul khannas, yaitu bisikan setan yang tabiatnya memang sering bersembunyi dan kembali lagi.

Manusia itu ketika mengingat sifat setan, akan sadar bahwa bisikan itu dapat diabaikan. Namun, setan dari kalangan jin ini tau tempat persembunyiannya, tempat masuk dan jalannya. Maka apabila ia mendapatkan kesempatan yang tepat, ia pun beraksi dan kembali membisiki.

Peperangan manusia dengan setan sudah terjadi sejak Nabi Adam as, maka Allah jadikan dzikir sebagai perisai, dan permohonan perlindungan ini sebagai senjata. Apa jadinya jika kita meninggalkan perisai dan senjata kita?

Bisikan itu bisa saja dalam bentuk hujatan yang kita pikir dari pikiran kita sendiri, seperti, “Da aku mah apa atuh, ga berharga. Ga berguna. Buat apa aku hidup. Ya udahlah aku mati atau hidup juga sama aja. Mati sekarang atau nanti sama-sama masuk neraka”. Wadezigh! Padahal pikiran ini datangnya dari setan, kita manusia adalah makhluk yang Allah karuniai ruh yang fitrahnya bangga dengan penciptaan dirinya, karena ia makhluk yang Allah muliakan di antara makhluk-makhluk yang lain.

Orang-orang yang konon punya innerchild yang terluka, sangat rentan dengan hal ini. Namun, kembali ingat bahwa segala apapun yang gifted (terberi, misalnya orangtua yang tidak mengayomi) adalah cara Allah untuk membuat kita bertakwa dengan jalan yang sudah ditentukanNya, dan ingat… dengan threshold yang berbeda dengan orang-orang yang mendapatkan orangtua shaleh.

Peperangan dengan setan ini tidak akan berakhir hingga nyawa kita sampai pangkal tenggorokan. Setan akan terus menghembuskan hujatan-hujatan yang melemahkan iman kita terhadap qadhar-Nya. Sehingga mewujud dalam sulitnya memaafkan, menyesali takdir, tidak mau menerima perasaan dan apa yang telah terjadi, dll. Selamanya setan akan bersembunyi dan mencari waktu yang tepat saat kita lengah.

Betapa pengecutnya setan, yang sukanya sembunyi-sembunyi, ga gentle banget! Dan kita, pasti akan menang dengan Allah di sisi kita, dengan perisai dan senjata dariNya. Karena sejatinya peperangan ini terjadi bukan antara kita dan setan, namun antara iblis dan penciptanya sendiri, Sang Rabb, Malik, dan Ilah kita.

Image result for two life path

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.