Kalau Iman ditambah Ilmu

𝘗𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘨𝘢 𝘴𝘪𝘩 𝘵𝘪𝘣𝘢-𝘵𝘪𝘣𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯, 𝒌𝒆𝒏𝒂𝒑𝒂 𝒔𝒊𝒉 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒈𝒂 𝒃𝒊𝒌𝒊𝒏 𝒔𝒆𝒎𝒖𝒂 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒆𝒓𝒊𝒎𝒂𝒏 𝒂𝒋𝒂? 𝘒𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘔𝘢𝘩𝘢 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘯𝘺𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨, 𝘬𝘰𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘣𝘪𝘢𝘳𝘪𝘯 𝘢𝘫𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘶𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘥𝘻𝘢𝘭𝘪𝘮𝘢𝘯?

𝘈𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘣𝘢-𝘵𝘪𝘣𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯 𝒂𝒏𝒂𝒌𝒌𝒖 𝒈𝒊𝒎𝒂𝒏𝒂 𝒚𝒂 𝒌𝒂𝒍𝒐 𝒂𝒌𝒖 𝒔𝒂𝒌𝒊𝒕 𝒅𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂𝒍, 𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘨𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘶𝘮𝘣𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨? 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘴𝘩𝘢𝘭𝘦𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘰𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘶𝘣𝘶𝘳? 𝘈𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘶𝘴𝘢𝘬 𝘨𝘢 𝘬𝘦𝘶𝘳𝘶𝘴? 𝘋𝘶𝘩 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘴𝘪𝘢𝘱 𝘮𝘢𝘵𝘪𝘪𝘪𝘪𝘪𝘪

𝘈𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘢𝘴 𝘥𝘪 𝘵𝘰𝘬𝘰 𝘮𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘪 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯, 𝘱𝘢𝘴 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘦 𝘵𝘳𝘰𝘭𝘪 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘯𝘨𝘦𝘶𝘩 𝒆𝒉 𝒊𝒏𝒊 𝒃𝒆𝒍𝒖𝒎 𝒂𝒅𝒂 𝒍𝒂𝒃𝒆𝒍 𝒉𝒂𝒍𝒂𝒍𝒏𝒚𝒂. 𝘵𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘯𝘢𝘳𝘰 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘪 𝘳𝘢𝘬.

𝘈𝘵𝘢𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘦𝘬𝘴𝘵𝘳𝘪𝘮, 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘨𝘢 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘪𝘣𝘢𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘬𝘩𝘭𝘶𝘬𝘯𝘺𝘢, 𝒕𝒓𝒖𝒔 𝒌𝒆𝒏𝒂𝒑𝒂 𝒏𝒚𝒊𝒑𝒕𝒂𝒊𝒏 𝒎𝒂𝒌𝒉𝒍𝒖𝒌 𝒄𝒐𝒃𝒂. 𝘈𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘱𝘪𝘢𝘯 𝘵𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘪𝘬𝘪𝘯 "𝘮𝘢𝘪𝘯𝘢𝘯"? 𝘔𝘢𝘯𝘢 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘩𝘭𝘶𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘦𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘺𝘢𝘬 𝘨𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘢, 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘦𝘯𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘈𝘵𝘢𝘶.....𝘨𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘴𝘪𝘩 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢. 𝘕𝘺𝘪𝘱𝘵𝘢𝘪𝘯 𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘴𝘵𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘢𝘱𝘢? 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘮𝘶𝘭𝘢? 𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘴𝘵𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘥𝘢, 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢𝘪𝘯? 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘭? 𝑺𝒊𝒂𝒑𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒏𝒚𝒊𝒑𝒕𝒂𝒊𝒏 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉?

Nah, temen-temen, pertanyaan semacam itu disebut waswasah, atau kita singkat was-was.

Dalam 𝗧𝗮𝗳𝘀𝗶𝗿 𝗝𝘂𝘇 𝗔𝗺𝗺𝗮 𝗸𝗮𝗿𝘆𝗮 𝗦𝘆𝗲𝗶𝗸𝗵 𝗨𝘀𝘁𝗮𝗶𝗺𝗶𝗻, dituliskan bahwa waswasah adalah 𝗮𝗽𝗮-𝗮𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗹𝗼𝗻𝘁𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗵𝗮𝘁𝗶 𝗯𝗲𝗿𝘂𝗽𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗴𝗼𝗱𝗮𝗮𝗻, 𝗽𝗶𝗸𝗶𝗿𝗮𝗻, 𝗸𝗲𝗿𝗮𝗴𝘂𝗮𝗻, dan khayalan yang tidak memiliki kenyataan.

Dilontarkan oleh siapa? ya siapa lagi musuh bebuyutan manusia hhhhhhhh... ntar kapan-kapan kuceritain deh kenapa senjatanya syetan tuh ini melulu.

Sepanjang hayat kita bakal diganggu was-was terus, cuma beda judul aja. Sekarang diwas-wasin soal suami, umur nambah diwas-wasin soal financial establishment, nambah umur lagi diwas-wasin soal kematian, terus aja sampe kita say good bye ke dunia.

Selain lemparan dari setan, seperti dalam AnNas ayat 5 dan 6,

الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ. مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ.

waswasah 𝗷𝘂𝗴𝗮 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝗯𝗲𝗿𝘂𝗽𝗮 𝘂𝗰𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮 yang kontennya sesat dan menyesatkan.

Apa misalnya? ya hoax yang beredar di sosmed itu, atau ucapan salah dari para influencer yang ga sadar atau secara sadar (tapi ga sadar kalo dirinya salah) menyebarkan informasi yang salah. Ini adalah contoh syubhat 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗺𝗯𝘂𝗮𝘁 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗿𝗮𝗴𝘂 𝗸𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗺𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗻𝗴𝗴𝘂𝗵𝗻𝘆𝗮.

Dalam bahasa arab, 𝘄𝗮𝘀𝘄𝗮𝘀 𝗷𝘂𝗴𝗮 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸𝗶 𝗮𝗿𝘁𝗶 𝘀𝘂𝗮𝗿𝗮 𝗴𝗲𝗺𝗲𝗿𝗶𝗰𝗶𝗸 𝗲𝗺𝗮𝘀 𝗱𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗮𝗸. Artinya, 𝗯𝗶𝘀𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗶𝘁𝘂 𝗱𝗶𝘀𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴𝗶 𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮 𝗸𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝘁𝗲𝗿𝗹𝗶𝗵𝗮𝘁 𝗶𝗻𝗱𝗮𝗵, sehingga bisa berupa syubhat, perkara yang dianggap benar atau indah padahal keliru yang menyebabkan kesalahan dan kerancuan dalam berpikir.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah berkata, “Asy-Syubhat, dinamakan demikian karena di dalamnya terdapat kesamaran antara yang haq dengan yang batil, karena sesungguhnya 𝘀𝘆𝘂𝗯𝗵𝗮𝘁 𝘁𝗲𝗿𝘀𝗲𝗯𝘂𝘁 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗸𝗮𝗶 𝗽𝗮𝗸𝗮𝗶𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗵𝗮𝗾 𝗺𝗲𝗻𝘂𝘁𝘂𝗽𝗶 𝗯𝗮𝗱𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗮𝘁𝗶𝗹, dan kebanyakan manusia adalah orang-orang yang baik dari segi zhahir sehingga orang yang melihat pakaian yang ia pakai, meyakininya sebagai kebenaran."

Namun, waswasah ini dilemparkan setan (dari golongan jin dan manusia) hanya akan terkena orang yang 𝗹𝗲𝗺𝗮𝗵 𝗯𝗮𝘀𝗵𝗶𝗿𝗮𝗵𝗻𝘆𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗱𝗶𝗸𝗶𝘁 𝗶𝗹𝗺𝘂𝗻𝘆𝗮.

Seperti yang dikatakan Ibnu Qayim Al Jauziyyah rahimahullah berkata dalam bukunya Ighatsatul Lahafan :

“𝘍𝘪𝘵𝘯𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘶𝘢 𝘮𝘢𝘤𝘢𝘮: 𝘧𝘪𝘵𝘯𝘢𝘩 𝘴𝘺𝘶𝘣𝘩𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘧𝘪𝘵𝘯𝘢𝘩 𝘴𝘺𝘢𝘩𝘸𝘢𝘵. 𝘍𝘪𝘵𝘯𝘢𝘩 𝘴𝘺𝘶𝘣𝘩𝘢𝘵 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢. 𝘔𝘢𝘬𝘢 𝘧𝘪𝘵𝘯𝘢𝘩 𝘴𝘺𝘶𝘣𝘩𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘮𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘴𝘩𝘪𝘳𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘭𝘮𝘶.”

Bashirah (بَصِيْرَةٌ) adalah hati nurani atau 𝗺𝗮𝘁𝗮 𝗵𝗮𝘁𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 𝘀𝘂𝗮𝘁𝘂 𝗵𝗮𝗸𝗶𝗸𝗮𝘁 atau bisa disebut juga 𝗸𝗲𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗺𝗮𝗻.

Bashirah berasal dari kata bashar (بَصَرٌ ) yang berarti mata dan juga ilmu.

Jamak dari bashar (بَصَرٌ ) adalah Abshaar (اَبْصَارٌ ), oleh karena itulah di dalam Al-Qur’an ada istilah “Ulil Abshaar” (اُولِى اْلاَبْصَارِ ) yang berarti orang yang mempunyai ilmu, kecerdasan, wawasan, dan pandangan yang jauh ke depan.

Dengan kata lain, lemahnya bashirah adalah lemahnya pemahaman seseorang.

𝕭𝖆𝖌𝖆𝖎𝖒𝖆𝖓𝖆 𝕴𝖘𝖑𝖆𝖒 𝖒𝖊𝖓𝖌𝖆𝖏𝖆𝖗𝖐𝖆𝖓 𝖐𝖎𝖙𝖆 𝖙𝖊𝖗𝖍𝖎𝖓𝖉𝖆𝖗 𝖉𝖆𝖗𝖎 𝖜𝖆𝖘𝖜𝖆𝖘𝖆𝖍 𝖎𝖓𝖎?

𝘈𝘣𝘶 𝘏𝘶𝘳𝘢𝘪𝘳𝘢𝘩 𝘳𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢, 𝘙𝘢𝘴𝘶𝘭𝘶𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘸 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢, “𝘚𝘺𝘦𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 : “𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘱𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶? 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘱𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶? 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘱𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶?” 𝘚𝘦𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 : “𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘱𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯𝘮𝘶?” 𝘈𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘪𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯, 𝙢𝙖𝙠𝙖 𝙝𝙚𝙣𝙙𝙖𝙠𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙤𝙝𝙤𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙡𝙞𝙣𝙙𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝘼𝙡𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙚𝙣𝙩𝙞𝙠𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖”.

𝘋𝘪𝘯𝘶𝘬𝘪𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢, "𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢 “𝙖𝙢𝙖𝙣𝙩𝙪 𝙗𝙞𝙡𝙡𝙖𝙝𝙞 𝙬𝙖 𝙧𝙖𝙨𝙪𝙡𝙞𝙝” (𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘙𝘢𝘴𝘶𝘭𝘕𝘺𝘢), 𝘮𝘢𝘬𝘢 (𝘨𝘰𝘥𝘢𝘢𝘯) 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢”

Hadist ini derajatnya mutafaqalaih (shahih menurut bukhari dan muslim sekaligus).

Artinya, jika kita tiba-tiba diliputi waswasah (inget ya, bukan hanya pikiran atau ucapan jin dan manusia yang menimbulkan kegelisahan, tapi juga yang menimbulkan keraguan), islam mengajarkan pada kita untuk berhenti dari waswasah itu, lalu 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗻𝘁𝗮 𝗽𝗲𝗿𝗹𝗶𝗻𝗱𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵 agar 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗲𝗻𝘁𝗶𝗸𝗮𝗻 𝘄𝗮𝘀𝘄𝗮𝘀𝗮𝗵 𝗶𝘁𝘂 𝘀𝗲𝗸𝘂𝗮𝘁 𝘁𝗲𝗻𝗮𝗴𝗮 serta 𝗮𝗴𝗮𝗿 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵 𝗯𝘂𝗸𝗮 𝗯𝗮𝘀𝗵𝗶𝗿𝗮𝗵 𝗸𝗶𝘁𝗮 dengan mendalami ilmunya.

Dan ini kaidah/metodologi yang berlaku untuk apa saja, baik perkara aqidah, halal-haram, bahkan kehidupan keseharian.

Kenapa dalil ini (pertanyaan syetan tentang siapa yang menciptakan Allah), karena pertanyaan itu adalah 𝘀𝗲𝗯𝗮𝘁𝗶𝗹-𝗯𝗮𝘁𝗶𝗹𝗻𝘆𝗮 𝘀𝘆𝘂𝗯𝗵𝗮𝘁 dan waswasah. Sehingga kaidah ini yang dijadikan kaidah dalam kasus lain dalam kehidupan sehari-hari.

🅜🅔🅜🅘🅝🅣🅐 🅟🅔🅡🅛🅘🅝🅓🅤🅝🅖🅐🅝 🅟🅐🅓🅐 🅐🅛🅛🅐🅗 🅢🅦🅣

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘢𝘯, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘮𝘰𝘩𝘰𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘪𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩. 𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘋𝘪𝘢-𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘔𝘢𝘩𝘢 𝘔𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘔𝘢𝘩𝘢 𝘔𝘦𝘯𝘨𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪 (QS. Fushilat: 36)

وَقُل رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ* وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحْضُرُونِ

𝘒𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩: “𝘠𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘪𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘪𝘴𝘪𝘬𝘢𝘯-𝘣𝘪𝘴𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘚𝘦𝘵𝘢𝘯. 𝘋𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘪𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨 (𝘱𝘶𝘭𝘢) 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘺𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯𝘬𝘶, 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶 (QS. al-Mu'minun: 97 – 98).

Kita bisa meminta perlindungan pada Allah melalui ta'awudz, karena 𝘁𝗮'𝗮𝘄𝘂𝗱𝘇 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝗻𝗰𝘂𝗿𝗸𝗮𝗻 𝘄𝗮𝘀𝘄𝗮𝘀𝗮𝗵 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝘂𝘀𝗶𝗿 𝘀𝘆𝗲𝘁𝗮𝗻.

Pada dasarnya, setan itu makhluk yang dibacakan basmalah aja ukurannya menciut.

"....𝘶𝘤𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩, ‘𝘉𝘪𝘴𝘮𝘪𝘭𝘭𝘢𝘩…’ 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘤𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘭𝘮𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪, 𝘴𝘦𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘤𝘪𝘭, 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘭𝘢𝘭𝘢𝘵." (HR. Ahmad)

Jika waswasah itu hingga menimbulkan rasa marah, Rasulullah mengatakan ta'awudz bisa menghilangkan rasa marah. Sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang menceritakan tentang dua orang yang saling menghina di hadapan Rasulullah. Satu di antara dua orang tersebut memaki orang yang satunya dengan marah ‘tingkat dewa’ hingga raut mukanya tampak berwarna ‘sangat merah’.

Kemudian Rasulullah bersabda, “𝘚𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘮𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘥𝘪𝘶𝘤𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘳𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨. 𝘒𝘢𝘭𝘪𝘮𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘈’𝘶𝘥𝘻𝘶 𝘉𝘪𝘭𝘭𝘢𝘩𝘪 𝘮𝘪𝘯 𝘢𝘭-𝘚𝘺𝘢𝘪𝘵𝘩𝘢𝘯 𝘢𝘳-𝘙𝘢𝘫𝘪𝘮 (𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘪𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘨𝘰𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘶𝘵𝘶𝘬)”.

Hadist ini menunjukkan ketidakberdayaan syetan dari perlindungan Allah atas diri kita.

🅑🅔🅡🅗🅔🅝🅣🅘 🅓🅐🅡🅘 🅦🅐🅢🅦🅐🅢🅐🅗

Bukan hal yang mudah memang menghilangkan waswasah. Apalagi jika kita masih lemah iman. Namun, paksakan diri. Upaya kita menghilangkan waswasah ini bahkan bisa menguntungkan kita lho, hujan pahala :p (kalo begini kan setan jadi simalakama wkwkwk)

Kenapa kita harus menghentikan waswasah? Karena Allah menjadikan permikiran dan akal kita terbatas, oleh karena itu kita 𝗵𝗮𝗿𝘂𝘀 '𝘀𝗮𝗱𝗮𝗿 𝗱𝗶𝗿𝗶' 𝗸𝗮𝗽𝗮𝗻 𝘄𝗮𝗸𝘁𝘂𝗻𝘆𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗵𝗲𝗻𝘁𝗶 𝗯𝗲𝗿𝗽𝗶𝗸𝗶𝗿 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗵𝗮𝗹 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗹𝗲𝘄𝗮𝘁𝗶 𝗯𝗮𝘁𝗮𝘀 karena banyak hal yang akal kita ga mampu menjawabnya.

Tapi bukan berarti ga boleh mikir lho yaa... tapi menghentikan berpikir ini 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗮𝗸𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗮𝗸𝗮𝗹 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗹𝗼𝗴𝗶𝗸𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗶𝗹𝗺𝘂. Nah, nyambung deh dengan tips ketiga dari Rasulullah saw.

🅘🅜🅐🅝 🅜🅔🅝🅖🅗🅘🅛🅐🅝🅖🅚🅐🅝 🅦🅐🅢🅦🅐🅢🅐🅗

Kaidah seorang muslim dalam menanggapi waswasah adalah 𝗺𝗲𝗻𝗼𝗹𝗮𝗸 𝗮𝗽𝗮 𝘀𝗮𝗷𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗹𝗮𝘄𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗶𝗺𝗮𝗻 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵 𝗱𝗮𝗻 𝗥𝗮𝘀𝘂𝗹𝗡𝘆𝗮. Dan untuk mengetahui apa saja yang masih sejalan dengan syariat islam dan mana yang sudah melenceng, dibutuhkan ilmu.

Inilah kenapa di awal disebut bahwa setan itu menarget korban waswasah ini milih-milih. Mereka milih yang lemah bashirahnya dan sedikit ilmunya.

Syaikh Ali Hasan berkata, “𝘋𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘭𝘮𝘶, 𝙨𝙮𝙚𝙩𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙨𝙪𝙠 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜- 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙘𝙚𝙩𝙚𝙠 𝙞𝙡𝙢𝙪𝙣𝙮𝙖, 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘢𝘴𝘪 ‘𝘬𝘦𝘣𝘢𝘵𝘪𝘭𝘢𝘯’ 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩-𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩, 𝘴𝘦𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘦𝘳𝘶𝘮𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘪𝘭𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘮𝘢𝘯𝘧𝘢𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘳𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘯𝘤𝘪 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘰𝘭𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘬𝘦𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯.”

𝕶𝖆𝖎𝖉𝖆𝖍 𝕯𝖆𝖘𝖆𝖗 𝕯𝖆𝖑𝖆𝖒 𝕴𝖘𝖑𝖆𝖒

اليقين لا يزول بالشك

𝗦𝗲𝘀𝘂𝗮𝘁𝘂 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝘆𝗮𝗸𝗶𝗻𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁 𝗵𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗿𝗮𝗴𝘂𝗮𝗻

اليَقِيْنُ

secara bahasa adalah kemantapan hati, dari kalimat bahasa Arab

يقن الماء في الحوض

“air itu tenang di dalam kolam”.

Yakin juga dapat diartikan dengan 𝗶𝗹𝗺𝘂 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗮𝗱𝗮 𝗸𝗲𝗿𝗮𝗴𝘂𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺𝗻𝘆𝗮.

Sedangkan,
الشك .

Secara bahasa artinya adalah keraguan.

Jadi, makna kaidah ini:

“Bahwa suatu perkara yang diyakini telah terjadi tidak bisa dihilangkan kecuali dengan dalil yang pasti dan meyakinkan. Dengan kata lain, tidak bisa dihilangkan hanya dengan sebuah keraguan.

Demikian pula sebaliknya, suatu perkara yang diyakini belum terjadi maka tidak bisa dihukumi telah terjadi kecuali dengan dalil yang meyakinkan pula.” (Al-Qowaid Al-Fiqhiyyah Al-Kubro oleh DR. Shalih bin Ghanim As-Sadlan hal.101)

Kaidah ini merupakan kaidah yang sangat agung di dalam syariat Islam, dan banyak permasalahan yang dilandasi oleh kaidah ini.

Maka, untuk mengisi kekosongan ilmu, 𝗯𝗲𝗿𝗱𝗼𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗱𝗶𝗽𝗲𝗿𝘁𝗲𝗺𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗴𝘂𝗿𝘂 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗿𝗶𝗱𝗵𝗮𝗶𝗡𝘆𝗮.

Jaman sekarang #SemuaMuridSemuaGuru jadi trend tapi overdosis. Padahal untuk menghilangkan dahaga atas hausnya kita pada ilmu dan iman, 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝗺𝗲𝗺𝗲𝗿𝗹𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗴𝘂𝗿𝘂 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿, 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗿𝗶𝗱𝗵𝗮𝗶𝗡𝘆𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗮𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗯𝗮𝘄𝗮𝗻𝘆𝗮.

Bukan sekedar terkenal, atau bergelar, tapi kaidah-kaidahnya atau apa yang dibawanya melenceng dari syariat islam. Allah sebut mengenai mereka :

إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ

“𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘢𝘯-𝘴𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘪 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘩𝘢𝘸𝘢 𝘯𝘢𝘧𝘴𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢.” [An-Najm : 23]

Berimanlah dengan ilmu, karena Ibnul Qayyim Al-Jauziyah berkata, “(𝘚𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘺𝘶𝘣𝘩𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪𝘢, 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘬𝘢𝘴 𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢). 𝘏𝘢𝘭 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘪𝘭𝘮𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘦𝘮𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘴𝘩𝘪𝘳𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘺𝘶𝘣𝘩𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘱𝘶𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘬𝘢𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘱𝘢 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘨𝘶𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘪𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯, 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘦𝘥𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘰𝘬𝘰𝘩 𝘪𝘭𝘮𝘶𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘴𝘬𝘪𝘱𝘶𝘯 𝘴𝘺𝘶𝘣𝘩𝘢𝘵-𝘴𝘺𝘶𝘣𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘨𝘦𝘭𝘰𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘱𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘬𝘰𝘬𝘰𝘩 (𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨) 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘵 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘨𝘶𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘱𝘶𝘯, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘰𝘬𝘰𝘩 𝘪𝘭𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘢 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪. 𝘔𝘢𝘬𝘢 𝘴𝘺𝘶𝘣𝘩𝘢𝘵-𝘴𝘺𝘶𝘣𝘩𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘰𝘯𝘤𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘴𝘺𝘶𝘣𝘩𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘸𝘢𝘭 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘱𝘢 𝘪𝘭𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘢 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪, 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘴𝘺𝘶𝘣𝘩𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘢𝘱𝘢𝘳 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘶𝘵𝘪𝘬 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘱𝘶𝘯."

𝐁𝐞𝐫𝐢𝐦𝐚𝐧𝐥𝐚𝐡 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐥𝐦𝐮, 𝐦𝐚𝐤𝐚 𝐰𝐚𝐬𝐰𝐚𝐬𝐚𝐡 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐬𝐞𝐭𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐮𝐡 𝐝𝐚𝐫𝐢𝐦𝐮.

~~~~~~~~~~~
Rangkuman kajian dengan bu guru Mila Anasanti

Baabul waswasah wa ta'awudz (Bab waswas dan ta'awudz)

Terjemah kitab dan pembahasan "Bahjatul Qulubil Abrar", karya Imam As-Sa'di rahimahullaah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.