Slow Down and Stay Calm

Tulisan ini dicatat saat hampir satu bulan wabah COVID-19 secara resmi dinyatakan oleh Presiden telah menginfeksi Indonesia.

Sejak 2 Maret 2020, yaitu saat Presiden menyatakan 2 orang pertama positif Corona, saya sudah mendengar himbauan dari nakes untuk tetap tenang dan jangan panik karena sehatnya mental adalah salahsatu kunci kuatnya imunitas. Ah siap lah, aman!

Saya bukan orang yang panikan, bahkan dalam kondisi wajar panik pun saya tergolong orang yang tenang. Sampai hari ini saya tidak merasa perlu untuk membeli banyak-banyak hand sanitizer dan masker, karena kami sekeluarga bisa tetap produktif #dirumahaja. Jadi, himbauan untuk jangan panik ini saya terima sewajarnya saja.

Namun, siapa sangka, dengan ragam berita mulai dari kebijakan pemerintah, jumlah korban meninggal yang naik cepat, hoax bertebaran di mana-mana, bermunculan tokoh yang statementnya viral tapi…..(ilang sinyal), para dokter dan profesor yang gugur, ternyata membuat saya down banget.

Ternyata yang bikin mental saya ga sehat banget itu bukan kepanikan apakah saya akan terinfeksi, atau cemas kapan wabah ini berakhir, kapan hidup bisa normal lagi, atau udah mulai bosan di rumah, tapi karena ngerasa ga bisa apa-apa melihat chaos ini. Saya beneran sempat seharian ga bisa dan ga selera ngapa-ngapain.

Ternyata, saya enggak sendirian. Saya mendengar cerita yang sama dari teman-teman dengan reasonnya masing-masing. Di grup liqo saya, mentor saya, Teh Patra langsung tanggap darurat. Malem ini temen-temen curhat soal kondisi mental, besoknya Teh Patra langsung ngajak liqo online (udah 3 minggu social distancing).

Teh Patra ngasih semangat dengan suntikan renungan Al Baqarah 153-157.

(153) Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat; sesungguhnya Allah adalah beserta orang-orang yang sabar.

(154) Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.

(155) Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

(156) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan : Sesungguhnya kita ini dari Allah, dan sesungguhnya kepadaNya­lah kita semua akan kembali.

(157) Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Nasehat ini seperti saklar yang menyalakan lampu di sanubari saya yang sedang gelap. Kok saya bisa lupa ya, bahwa semua ujian ini pada akhirnya adalah kabar gembira bagi orang yang sabar. Dan mereka ini lah yang kelak akan mendapat anugerah, rahmat, dan petunjuk.

Akhirnya saya cerita ke mantan bos saya yang berprofesi psikolog mengenai apa yang saya rasakan. Jadi, saya harusnya bisa mengukur diri mana yang masalah saya, dan mana yang masalah orang lain. “Kita boleh berempati, tapi jangan jatuh pada simpati“. Karena ketika kita ingin membantu orang lain, kita perlu keluar dari masalah dan melihat dari luar.

Kebijakan pemerintah yang dinilai tidak tepat, itu udah porsi (masalah)nya pemerintah. Kita rakyat jelita tetap fokus pada masalah kita (bisa berkontribusi apa). Para pahlawan kesehatan dan guru besar meninggal itu memang masalah bangsa, tapi itu sudah dalam qadarNya. Masalah saya adalah apakah saya bisa meneruskan perjuangan mereka dengan kemampuan yang Allah berikan pada saya. –baca Al Baqarah 154.

Saya baru ingat bahwa saya belajar memilah masalah ini dari dulu, tapi baru ingat setelah ngobrol dengan mantan bos saya tadi. Mungkin ini lah jawaban kenapa amar ma’ruf nahi munkar itu diwajibkan dalam islam ya. Manusia tea banyak lupanya.

Akhirnya saya ingat dengan nasehat Ustadz Adi Hidayat, bahwa kaidah muslim dalam menerima ujian itu ada 3 :

pertama di Al Baqarah ayat terakhir, bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ini dulu yang harus ditumbuhkan subur-subur. Allah menguji kita karena Allah tau kita sanggup.

kedua di Al Baqarah 153-157 tadi, bahwa ujian sesungguhnya adalah kabar gembira bagi orang yang sabar dan sholat.

ketiga di Asy-Syarh 1-8. Dan saya baru ingat saya punya catatan tentang ini dari kajian tafsir dengan teh Mila.

~~~~~
KAJIAN ASY-SYARH AYAT 1-8 by Mila Anasanti

Sering di antara kita bertanya-tanya, apakah musibah itu adzab atau hukuman?

Dalam Islam, musibah bukan hukuman. Konteks hukuman bagi muslim hanya terjadi di akhirat. Sedangkan apa yang terjadi di dunia, kaidah dasarnya adalah semua qadar Allah ada di atas kasih sayang Allah.

“Rabbmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang (rahmat)” (QS. Al An’am: 54).

Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku” (HR. Muslim no. 2751).

Jika pun suatu musibah terjadi karena dosa, kaidah dasarnya adalah hal itu terjadi karena kasih sayang Allah yang ingin menghapuskan dosa kita atau mengangkat derajat kita. Maka, sakitnya seorang muslim adalah kabar gembira!

Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit (yang terus menerus), rasa capek, kekhawatiran (pada pikiran), sedih (karena sesuatu yang hilang), kesusahan hatiatau sesuatu yang menyakitisampai pun duri yang menusuknya melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidaklah seorang mukmin terkena duri dan lebih dari itu melainkan Allah akan mengangkat derajat dengannya. Atau dihapuskan kesalahannya dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jadi Allah memberi musibah itu bukan untuk menghukum kita, tidak seperti kita yang kalo anak bikin salah trus kasih hukuman buat pelampiasan kemarahan, tapi karena Allah itu sayang.

Di titik ini, saya jadi mikir kalo kita harus belajar, kalau anak bikin salah, kasih konsekuensi yang membuat anak justru melihat betapa besar kasih sayang kita kepadanya. Gimana ya caranya XD Ya Allah, berilah petunjukMu…

Jadi sekali lagi, Allah memberi musibah itu bukan untuk menghukum kita, tapi karena sayang. Kalau ga percaya, lihatlah para nabi, mereka adalah orang yang paling sedikit dosanya, namun paling besar musibahnya.

Nabi yang paling besar musibahnya adalah Nabi Muhammad saw. Makanya Nabi Muhammad saw punya priviledge ketemu Allah swt langsung saat Isra’ Mi’raj.

Nabi yang juga paling besar musibahnya adalah Nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim as diuji dengan umat yang syirik, diuji dengan pengusiran dan pembakaran dirinya, diuji dengan tidak punya anak hingga usianya menua, bahkan diuji menyembelih anak yang telah dinanti-nanti.

Balasan dari Allah untuk Nabi Ibrahim as gimana? Allah tinggikan derajatnya di dunia dan akhirat. Menjadi buah bibir yang sangat indah hingga namanya terus kita sebut dalam sholat kita. Lalu, mendapat keturunan nabi hingga dijuluki bapak para nabi. Dan yang paling ultimate adalah di mana beliau sekarang? Di langit ke 7! Langit yang paling dekat dengan Allah. Jadi bapaknya seluruh anak-anak yang meninggal sebelum baligh. Sweet banget kan?

Kaidahnya apa tadi? SABAR DAN SHOLAT. Setelah tau bahwa musibah adalah bentuk kasih sayang Allah, kita juga BERSYUKUR karena musibah tadi menyimpan kabar gembira bagi orang yang sabar.

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).

Syukur adalah akhlak yang mulia, yang muncul karena kecintaan dan keridho’an yang besar terhadap Allah. Syukur tidak akan mungkin bisa terwujud jika tidak diawali dengan keridha’an. Kata guru saya, Teh Mila, kalo orang ditimpa kesulitan sampai bersyukur, maka itulah namanya ridha,

~~~

Dari tata bahasanya, kesulitan menggunakan kata AL-‘usri. Ada awalan AL ini mengandung arti yang mendalam. Awalan AL ini artinya Allah menggunakan isim ma’rifah atau merujuk pada sesuatu yang spesifik. imbuhan AL ini setara dengan imbuhan ‘the’ di bahasa inggris. Sun artinya matahari, tapi the sun artinya mataharinya yang itu (spesifik bukan matahari lainnya). Artinya, ‘usri itu artinya kesulitan, namun al-‘usri ini merujuk pada SATU kesulitan spesifik.

Sebaliknya, kata kemudahan menggunakan kata Yusro yang merupakan isim nakirah, yang sifatnya lebih general. Jumlahnya minimal 2 atau lebih. Jadi kemudahan disini jumlahnya minimal 2, bisa lebih tergantung variable ridha kita. Seberapa ridha terhadap kesulitan itu.

Jadi, Inna ma’al usri yusro itu maknanya adalah bahwa sesungguhnya dari setiap satu kesulitan yang kita alami, ada minimal 2 kemudahan yang Allah sediakan. Bayangin lah kalo masalah kita numpuk berlapis-lapis kayak wafer tango, mungkin kemudahannya setinggi Burj Khalifa 😀

Gimana? Udah mulai tumbuh benih-benih syukur dalam dirimu? 🙂

~~~

Allah memberi kemudahan sepaket dengan kesulitan ini adalah bagian dari keadilan Allah swt. Kalau seseorang berdosa dan Allah menyayanginya, Allah turunkan musibah agar gugur dosanya yang menjadi penghalang doanya ke langit. Sehingga tidak ada lagi penghalang dirinya dengan Allah. Dengan demikian doanya menembus langit.

Musibah itu Allah hadirkan untuk dicari jalan keluarnya, maka sifat pantang menyerah wajib dimiliki seorang muslim. Sedangkan sebaliknya, berputus asa adalah dosa besar, bahkan tergolong kufur kecil (sifat orang kafir tapi tidak mengeluarkan dia dari islam).

Apalagi kalo kita dapet masalahnya dari kecil, dari belum ngerti apa-apa. Boro-boro mengambil hikmah dari kejadian, mungkin iman kita pada qadar Allah aja belum sempurna. Tentu ga bisa bilang Allah ga sayang sehingga kita merasa jadi anak yang terbuang. Allah justru lagi nabung sesuatu yang akan dikeluarkanNya di saat kita semakin mengenalNya, semakin kuat aqidah kita, semakin sempurna iman kita pada qadarNya. Dan buat saya itu semua butuh ilmu.

Ilmu agama dapat menjauhkan kita pada fitnah syubhat, yaitu pemikiran-pemikiran yang salah yang membuat kita salah bertindak. Untuk memperoleh ilmu agama, kita membutuhkan akal yang mau berpikir. Nabi Ibrahim as menjadi orang shalih bahkan satu-satunya orang shalih di antara umatnya yang berbuat kesyirikan karena ia menggunakan akalnya untuk berpikir dan mengamati.

Allah memberikan akal pada manusia sebagai bentuk keadilanNya. Tugas manusia menjadi khalifah ini tidak mudah, maka Allah memberi akal agar sukses menjalankan misi. Akal adalah sesuatu yang membuat manusia menjadi mulia, sehingga malaikat diperintahkan bersujud pada kita.

Akal membuat manusia ingat persaksiannya dengan Allah di alam ruh. Akal bisa mengantarkan manusia kembali pada islam karena semua manusia di muka bumi ini terlahir sebagai muslim.

Mungkin setiap orang punya cara yang beda-beda untuk memupuk aqidahnya. Saya orang yang pemikir. Tidur aja masih mikir hahaha XD Oleh karena itu, saya yang masih jauh dari sempurna iman kepada QadarNya ini masih sangat butuh ilmu yang benar. Karena syubhat yang sudah terlanjur tertanam baik oleh pengalaman maupun bisikan syetan ini, butuh saya lurusin dengan ilmu. Namun, ada juga teman saya yang menyempurnakan aqidah hanya dengan perbanyak ibadah.

Kenali diri aja, kurikulum Allah biasanya spesifiik 🙂

dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (QS Asy-Syarh ayat 8)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.