Modal Hidup

 

DISCLAIMER :

Tulisan ini akan sangat menyebalkan bagi sebagian orang, mungkin ibu yang bekerja atau ibu yang pro-bekerja. Mungkin juga akan membuat sebagian lagi bilang, “tukan tukan”, lalu dengan “tukan” itu nyinyir pada orang yang tidak mengambil keputusan yang sama dengannya.

Saya insyaAllah berusaha menulis ini dengan netral (karena sebenernya saya ibu bekerja, tapi dari rumah ekekekek), sebagai sarana berbagi nikmat ilmu yang Allah berikan dan melepas tanggungjawab sebagai muslimah untuk saling menasehati dalam kesabaran dan kebenaran.

Saya sarankan kepada pembaca untuk menyudahi proses membaca jika sekiranya tidak mampu mengelola emosi untuk berpikir jernih dan mendapat inti dari tulisan saya : bukan mau menyulut mom-war.

***
Modal hidup. Dua kata itu terlintas di kepala saya secara tiba-tiba ketika memeluk anak saya pagi ini. Bukan tentang uang yang berlimpah, ilmu yang tinggi, atau budi pekerti yang luhur. Saya tahu, tiga hal yang saya sebut tadi juga bisa jadi modal hidup. Namun, ada satu modal hidup yang sifatnya mutlak dan bisa dibilang adalah kebutuhan primitif makhluk hidup : rasa aman.

Ya, modal hidup itu bernama rasa aman.

Sewaktu saya masih ngikut kesana kemari kegiatan seminar ibu Elly Risman (waktu itu masih jadi asistennya), sering saya mendengar beliau mengatakan bahwa akar masalah dari segala perilaku anak yang tidak diharapkan (lebih familiar dengan sebutan “nakal”) adalah karena hilangnya attachment, kelekatan atau umum disebut bonding, yang merupakan sumber dari rasa aman.

Sebagai alumni biologi yang ga murtad-murtad amat, saya bertanya-tanya, bagaimana sebenarnya kelekatan atau bonding itu terbentuk dan bisa membuahkan rasa aman? Bagaimana mekanismenya secara biologis? Lalu, mengapa rasa aman ini merupakan kebutuhan primitif sehingga sangat diperlukan oleh makhluk hidup, apalagi manusia?

Lucunya, Allah swt jawab pertanyaan sayanya nyicil! Hahaha.

Cicilan pertama,

Saya dikenalkan dengan teori perkembangan Erik Erikson yang menyatakan bahwa perkembangan psikososial manusia seperti delapan anak tangga. Anak tangga pertama ada di rentang usia 0-2 tahun. Erikson menyebutnya fase trust vs mistrust.

Setiap anak tangga memiliki kerentanan masing-masing, yang mana jika bisa dilalui dengan baik akan menjadi pondasi kuat untuk ke anak tangga berikutnya. Jika tidak, bayangkan saja jika ada satu anak tangga keropos, akan berpengaruh pada cara kita menaiki anak tangga berikutnya bukan?

Rasa percaya (trust) anak pada dunia (terutama pada orang-orang yang mengasuhnya) adalah pohon yang menghasilkan buah rasa aman, bahwa dunia yang ia hadapi aman untuk ditinggali dan orang-orang yang ia temui aman untuk diakrabi.

Bu Elly dalam seminarnya menggambarkan bahwa rasa percaya (trust) adalah dasar dari pembentukan konsep diri dan kepercayaan diri. Orang yang berhasil melewati kerentanan di masa ini akan tumbuh menjadi orang yang punya prinsip, memiliki relasi sosial yang baik (karena ga curigaan melulu), mengeluarkan energi positif (ga harus cheerful kayak motivator, tapi adem aja gitu bawaannya kayak aagym #eh). Nah, kebayang juga kan kalo yang terbentuk justru mistrust?

Disebut kebutuhan primitif kebayang juga dong kenapa? Iya, karena ini modal hidup seseorang agar ia merasa aman hidup di dunia, sehingga bisa melakukan beragam aktifitas produktif tanpa rasa cemas.

Aktivitas apa yang bisa membentuk kelekatan sehingga berbuah rasa aman ini? Mengasuh dengan kasih sayang, menggendong, memeluk, membelai, menatap mata, memenuhi kebutuhannya (baik gizi maupun psikis), mengajak bicara dan bermain, serta menyusui.

Cicilan kedua,

Allah membuat saya nyangsang (nyangkut) di websitenya Harvard University saat googling soal perkembangan otak. Disana dikatakan bahwa ketika lahir, otak bayi memiliki trilyunan sel saraf yang mayoritas belum bersambungan. Artinya, belum sepenuhnya fungsional. Otak yang berfungsi dengan baik adalah otak yang memiliki banyak sambungan (sampe ka pabaliut).

Pada usia 0-2 tahun, normally, sekitar 700 sambungan baru otak bayi terbentuk setiap detik! MasyaAllah Tabarakallah. Makanya kita takjub dengan kemampuan bayi yang progressnya cepat sekali di rentang usia itu.

Namuuuuuun, para peneliti Harvard Uni mensyaratkan jika ingin sambungan otak itu terbentuk optimal, orangtua BERINTERAKSI LANGSUNG dengan bayi. Ya, yang membentuk sambungan-sambungan itu adalah interaksi dua arah, bukan satu arah seperti media TV atau gadget. Jadi, percuma jika bayi diajak nonton video berkualitas tapi ditinggal, karena sebenarnya bayi belajar bukan dari videonya, tapi dari interaksi kita dengannya.

Berdasarkan penelitian DeLoache dkk pada tahun 2010, tidak ditemukan munculnya kata-kata baru yang dipelajari dari program video meski dirancang untuk meningkatkan kosa kata anak usia 12-18 bulan.

Lagipula, ada bukti kuat bahwa anak yang sudah terpapar dengan layar sebelum usia 2 tahun, akan mengalami gangguan penglihatan (mata anak belum matang untuk menyaring pancaran sinar biru dari layar), defisit perhatian, gangguan dalam perkembangan bahasa, membaca, penurunan kemampuan konsentrasi dan daya ingat jangka pendek atau panjang sekali, dan kecanduan. Oleh karena itu, asosiasi dokter anak amerika melarang anak dibawah usia 2 tahun terpapar layar.

Back to topic…

Cicilan ketiga,

Saya dikenalkan Allah swt pada dokter Tiwi! Suatu ketika saya dikasih tiket roadshow seminar “Breastfeeding 911” oleh teh Monik (FB Monika). Resumenya on progress, heuheu. Disitulah pencerahan mengenai kaitan attachment dan mekanismenya secara biologis semakin terang.

Saya inget banget dr Tiwi berkali-kali bilang bahwa menyusui itu bukan hanya tentang memberi ASI, tapi juga tentang stimulasi. Makanya namanya breastfeeding, bukan milk-feeding. Lalu dr Tiwi menganjurkan para ibu untuk betul-betul fokus pada bayi ketika menyusui. Jangan disambi-sambi. Ajak ngobrol, becanda, jangan malah main gadget kalo anak belum tidur.

Dr Tiwi juga bilang, jangan terlalu bangga dengan stok ASIP yang banyak lalu anak disendokin, ASIP yang masuk kulkas itu isinya tinggal senyawa gizi (laktosa, lemak, mineral), senyawa imunitasnya habis, nyendokinnya sambil nonton lagi.

Ya, intinya menyusui itu bukan tentang memberi anak gizi sempurna aja, tapi juga tentang memberi stimulasi melalui interaksi dua arah bayi dan ibu. Klop sama yang dari webnya Harvard Uni yak 😀

Selanjutnya dr Tiwi menjelaskan mekanisme bagaimana kegiatan menyusui (memberi ASI dan interaksi dua arah) ini membentuk kelekatan atau bonding.

Jadi, sel otak itu terdiri atas dendrit, badan sel, akson yang diselubungi myelin, dan ujung sinaps (tempat sel-sel saling bersambungan). Lihat gambar yak.

neuron_structure

Laktosa dalam ASI adalah senyawa yang dibutuhkan untuk penebalan myelin, semakin tebal myelin maka semakin cepat impuls listrik diantarkan (lihat garis merah) ke sel berikutnya. Berbahagialah mamak yang terpaksa kasih sufor, asal sufornya ada laktosanya..

Sedangkan interaksi dua arah merupakan stimulus yang akan diubah menjadi impuls listrik yang diantarkan. Semakin sering impuls listrik diantarkan, sambungan di ujung sinaps yang menyambungkan dua sel otak semakin banyak dan kuat terbentuk (lihat yang dikotakin).

Inget kan kalo otak fungsional itu yang sambungannya pabaliut? Satu lagi, sifat sel otak itu “use it” or “loose it”. Kalo interaksinya jarang, sambungannya ga kuat, maka akan mudah masuk mode “loose it”.

Disini saya jadi inget status psikolog favorit saya (teh Yeti Widiati) yang menuliskan bahwa prinsip kelekatan/attachment adalah adanya frekuensi, intensitas dan proximity.

– Frekuensi adalah seberapa sering

– Intensitas adalah seberapa kuat (seberapa banyak indra terlibat)

– Proximity adalah seberapa dekat

Iya, seberapa sering itu memperkuat sambungan otak, seberapa banyak indra terlibat itu memperbanyak dan memperkuat sambungan otak, dan seberapa dekat itu memperkuat sambungan otak.

Jadi, sambungan otak itu menciptakan kelekatan? Tergantung, kelekatan ama siapa? Sambungan paling kuat adalah yang paling diingat. Orang kasmaran yang diingat adalah wajah si dia, artinya sambungan otak tentang dia sangat kuat. Semakin sering diinget, semakin kasmaran. Kalo ketemu apalagi. Nah kalo yang paling sering ketemu bayi adalah gadget, wajar dong kalo pas umur 3 tahun udah kecanduan, wong dia kasmarannya sama gadget. Dia lekatnya pada gadget!

Berlaku juga buat pengasuh yang lain, ortunya kah? Neneknya kah? Babysitternya kah? Saya punya temen yang waktu kecil sakit lama ga sembuh-sembuh, ternyata obatnya hanyalah ketemu babysitternya! Sakit kangen orang bilang. Sakit karena kelekatan yang hilang. Ada penjelasan ilmiahnya lagi ini terkait hormon-hormon, tapi ga sekarang lah.. panjang.

Dan cicilan terakhir,

Oleh karena jadi ngefans ama dr Tiwi, saya jadi dipertahukan oleh Allah swt sama seorang dokter spesialis kejiwaan di yutubnya dr Tiwi. Sebenernya video itu membahas tentang Dampak Buruk Gadget. Nah, dokter SpKJ ini namanya dr Siste. Doi membahas tentang apa yang membuat seseorang mengalami kecanduan.

Udah biasa lah saya baca atau dengar tentang penyebab kecanduan gadget yang terkait faktor psikologi semacem anak mengalami BLAST (Bored Lonely Afraid Angry Stress Tired) karena minimnya peran ortu dan sekolah yang terlalu dini (terlalu dini diajarkan hal-hal berbau kognitif). Dr Siste menjelaskan lebih jauh dari itu yang membuat saya paham dimana keterkaitan kelekatan dengan modal hidup (rasa aman).

Dokter Siste bilang, salahsatu faktor penyebab anak mengalami kecanduan adalah kadar dopamin dalam otak yang sangat rendah. Dopamin adalah senyawa kimia (neurotransmitter, yaitu zat yang menyampaikan pesan dari satu syaraf ke syaraf yang lain) yang banyak sekali fungsinya, salahduanya adalah membentuk motivasi dan memberi kesenangan. Dimana letaknya? Lihat gambar.

generic_neurotransmitter_system

Nah, kalo tukang antar pesannya minim, gimana pesan kelekatan bisa dibikin dan diantar? Gimana sambungan sel otak bisa kuat?

Secara ilmiah, minimnya kadar dopamin mengakibatkan seseorang mengalami mood swing, cemas, sulit konsentrasi, tidak mau berinteraksi, dan depresi. Dokter Siste mengatakan, pada anak-anak yang mengalami kecanduan internet, ketika ditelusuri ke belakang, mereka memiliki kelekatan yang kurang dengan pengasuhnya, terutama ibu.

Ternyata, bermain dengan ibu meningkatkan kadar dopamine pada usia 0-1 tahun. Sehingga jika interaksi anak dengan ibu kurang, kadar dopamin ini kurang dan anak akan mencari kekurangannya dari luar.

Saat mendengar pernyataan itu, saya tercenung cukup lama. Sedalam itu kah? Sejauh itu kah pengaruh kelekatan terhadap hidup seseorang? Tiba-tiba banyak bayangan berkelebat, tentang orang yang menuntut pengakuan dan perhatian orang lain, tentang orang yang kerap menjustifikasi “konspirasi wahyudi dan mamarika”, tentang orang yang secara spontan melihat sesuatu dari kacamata negatif, tentang orang yang curigaan melulu, tentang orang yang tanpa sadar memanipulasi orang lain (bahkan mungkin memanipulasi dirinya sendiri). Huft…

Tidakkah orang-orang itu lelah dalam hidupnya? Menganggap dunia ini penuh ancaman, jauh dari rasa aman. Namun, kasian… penyebabnya bisa jadi bukan karena mereka, mereka hanya menanggungkan kekosongan jiwa. Ya, saya salahsatu diantaranya. Namun kita sudah dewasa, sudah tidak ada pemakluman lagi seharusnya. Yang perlu kita lakukan adalah putus mata rantainya dan jangan diteruskan pada anak-anak kita.

2 tahun itu bukan waktu yang lama, tapi berpengaruh pada sepanjang hidup anak manusia… Kalo kata dokter Luh (Luh Karunia Wahyuni, dokter rehab medik anak, dosen UI), otak anak tidak bisa diminta menunggu masalah teknis orang dewasa. Ada masa golden period, masa itu lewat ya sudah bye-bye, selesai..” 

Sebagai sesama orangtua, saya berdoa semoga para ayah dan ibu diberi kemudahan dalam memenuhi kebutuhan primitif ini. Saya juga berdoa semoga para ibu yang tidak punya pilihan sehingga harus meninggalkan bayi-bayi mereka demi bertahan hidup, mudah-mudahan diberi kemampuan memenuhi rasa aman anak-anaknya.

Kita mungkin tidak selalu bisa mewariskan uang dan waktu bagi masa tua anak kita, tapi kita diberi kesempatan untuk mewariskan rasa aman hingga ia menutup mata.

Mau dikembalikan dalam keadaan bagaimana buah hati kita pada Pemiliknya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *