Ibu dan Istri Idaman, seperti Apa? -NHW2

Bismillahirrahmanirrahim

Mulai dari mana ya, haha. Duh IIP, PR-nya yah luar biasa hahaha.

Oke, lagi-lagi postingan saya isinya PR dari matrikulasi IIP, dan yang kali ini perlu berantem dulu buat bahas adem ayem, wkwk. Padahal cerita orang-orang malah jadi pada malu-malu gitu XD. Berantemnya ngasih pelajaran sih, jadi kan saya nanya istri idaman paksu teh siga kumaha. Lalu, dijawabnya teh yang beberapa waktu ini juga dibahas sebagai PR saya, trus saya pundung, haha. Cuma 2 jam sih, abis itu ya ngobrol lagi setelah maaf-maafan dan paksu bantu cuci piring (karena saya tidur) wkwk

Pelajarannya apa?

Sebelum kasih masukan, terima dulu kebaikan-kebaikan yang kita syukuri. Jadi, kesan yang tercipta adalah membangun bersama, bukan ngasih kritik, wkwk.

Oke, lanjut ke PR ya.. NHW kali ini saya dikasih PR untuk bikin KPI Ibu Professional Kebanggaan Keluarga. KPI ini hanya berlaku untuk diri saya seorang, belum tentu kompatibel buat orang lain. Da kitanya beda, suaminya juga beda. Kecuali kalo mau jadi istri kedua suami saya #CynLiatKepalBogemSayaGa muahahahha

KPInya menyangkut 3 peran, sebagai individu, istri, dan ibu. Makanya saya tanya “Istri dan Ibu Idaman, menurut Ucuy seperti apa?”, karena beliau kan pendidik keluarga yang utama (ehem, kurikulum buat Dedey belum jadi, Cuy) dan penentu GBHK.

Sebenernya, KPI ini udah dibuat di GBHK (kami mah nyebutnya Grand Design Keluarga), cuman kalo untuk peran istri dan ibu belum detail sampe memenuhi kaidah SMART. Kalo sebagai Individu, udah disusun bareng dan dievaluasi tiap bulan. Thanks to IIP, paksu jadi bikin kurikulum buat sayanya pake indikator yang dibikin disini, ahahaha. Oia, paksu menetapkan standar umumnya dengan satu kata : shalehah. Wadah berat euy..

Definisi shalehah itu, oleh paksu ditetapkan dalam 10 standar utama (adopsi dari 10 muwashofat Hasan AlBanna). Copas yang ada di Grand Design Keluarga aja yaa.. Berhubung vanjang penjelasannya, tak singkat-singkat aja..

10 standar ini yang akan menjadi tolak ukur apakah saya menuju proses menjadi individu, istri, dan ibu shalehah atau tidak. Sedangkan untuk mencapainya, saya buat action plan yang lebih detail yang mencakup guideline SMART (spesific, measurable, achievable, realistic, timebound). Yang berkaitan dengan indikator individu akan lebih general, sedangkan yang berkaitan dengan peran istri dan ibu akan lebih rinci.

Berikut adalah 10 standar utama individu, istri, dan ibu shalehah menurut paksu :

  1. Salimul Aqidah

Aqidah yang bersih (salimul aqidah). Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam (QS 6:162).

  1. Shahihul Ibadah

Ibadah yang benar (shahihul ibadah). Dalam satu haditsnya, Rasulullah saw berkata: “shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat”. Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul saw tanpa penambahan atau pengurangan.

  1. Matinul Khuluq

Akhlak yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. ]

  1. Qowiyyul Jismi

Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi), berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal. Rasulullah sSaw bersabda : “Mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah”. (HR. Muslim).

  1. Mutsaqqoful Fikri

Intelek dalam berpikir (mutsaqqoful fikri). Rasulullah memiliki sifat fatonah (cerdas) dan Al-Qur’an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berpikir.

  1. Mujahadatul Linafsihi

Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatul linafsihi). Setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Oleh karena itu hawa nafsu harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam. Rasulullah saw bersabda : “Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam)” (HR. Hakim).

  1. Harishun Ala Waqtihi

Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi). Allah swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur’an dengan menyebut nama waktu. Allah swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi.

  1. Munazhzhamun fi Syuunihi

Teratur dalam suatu urusan (munzhzhamun fi syuunihi), baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah. Dengan kata lain, suatu urusan dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya.

  1. Qodirun Alal Kasbi

Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan mandiri (qodirun alal kasbi). Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi.

  1. Nafi’un Lighoirihi

Bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi). Jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tidak mengganjilkan. Rasulullah saw bersabda : “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Qudhy dari Jabir).

 

PS :

Saya sengaja menambahkan Be/Values agar jelas tujuan akhir yang ingin dicapai dan saya menjalankannya tidak sebagai rutinitas belaka. Semua saya rancang sebagai rutinitas, kami menyebutnya “Kultur Keluarga”. Iya, di keluarga Miftahany memang ada Kultur Keluarga yang diperjuangkan bersama tetap terlaksana sebagai sarana pencapaian visi misi pernikahan dan peningkatan kapasitas diri.

Sedangkan Do hanyalah alat untuk memenuhi kaidah Spesific, bukan indikator pencapaian. Bisa saja kami ganti alat, yang semula rutin membaca buku, bisa diganti dengan rutin berdiskusi dengan guru, misalnya. Topik-topiknya akan lebih spesifik dikupas oleh suami ketika ia mengajukan Kurikulum Pendidikan khusus untuk saya dan dirinya.

Indikator di bawah bukanlah indikator pencapaian dari BE atau VALUES itu sendiri, hanya indikator rutinitas tercapai saja. Indicator ini juga tool untuk memenuhi kaidah Measurable, Achievable, dan Realistic. Timeboundnya bagaimana? Menjadi rutinitas 🙂

Saya juga memasukkan “potential” atau bakat yang menunjang saya sukses melaksanakannya. Bismillah 🙂 Btw, bakat suami saya juga sebelas-dua belas sama bakat saya :))

Dalam tabel SMART, tertuang seperti ini :

Indikator Individu

 

 

Indikator Istri

 

Indikator Ibu

 

Sebelum posting ini diakhiri, saya berdoa semoga Allah meridhai hidup saya, keluarga saya, dan keturunan saya. Semoga keberkahan hidup selalu mengalir dalam keluarga kami. Aamiinnn

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *