Mendidik (Ulang) Fitrah Diri #NHW4

Bismillahirrahmanirrahim

Setelah flashback dan diajak merenung ke dalam tentang diri dan keluarga selama sebulan, mulai dari memilih jurusan di universitas kehidupan, membuat ceklis “kualitas diri”, dan merenungkan kembali misi penciptaan dan misi pernikahan yang Allah telah gariskan, kali ini saya diajak untuk mulai “action”, mulai mengejawantahkan konsep di laptop (dan kertas coret-coretan kurikulum bikinan pak bos) menjadi praktek.

Fase ini mengingatkan saya pada suatu training bertajuk Self Transformation (ST) yang merupakan lanjutan dari training Self Insight Awareness (Siaware). Cara yang diajarkan MIIP ini mirip dengan cara yang diajarkan ST. Saya lumayan terbiasa melakukan cara ini untuk self improvement, baik secara sadar saya susun di atas keyboard, maupun secara tak sadar sudah jadi kebiasaan.

Pengalaman ini memudahkan saya untuk sampai pada kesadaran bahwa untuk menjawab poin pertama NHW kali ini, saya perlu mundur dulu beberapa tahun dalam menetapkan titik 0. Sebelumnya, saya curhat di grup bahwa saya merasa clueless dan ragu langkah apa yang perlu saya ambil untuk memulai. Bahkan saya takut saya salah jurusan hahaha. Saya sempat terpikir untuk memulai prakteknya setelah tunai matrikulasi ini, sehingga saya ada map yang jelas tentang how to-nya.

Ternyata, kuncinya satu saja : berani. Saya perlu berani mengakui bahwa kondisi psikologis saya saat ini kurang sehat. Saya perlu berani mengakui bahwa saya masih merasakan luka lama yang tak kunjung sembuh dan luka baru yang masih menganga dan tidak saya obati. Luka itu masih menginfeksi hati saya.

Tepatnya sejak Oktober 2015.

Sebelum bulan itu, saya tidak merasakan adanya “rasa sakit” pada siapapun. Saya adalah pribadi yang bahagia, penuh ide, semangat, dan playful. Namun, rasa dikhianati, dimanfaatkan, tidak dihargai, tidak dipercaya oleh orang yang sangat dekat, mengusik makhluk kecil yang terluka yang selama ini sudah bahagia dengan kehidupannya.

Ungkapan, “jadi cuma segitu doang nilai saya di mata _ _ _ _ _ (jumlah strip tidak merujuk pada nama, tapi kamu atau kalian, ekekek)”, adalah suara hati pilu yang saya rasakan hingga saat ini.

Saat mengikuti kelas “Forgiveness Therapy”, pak Asep menyadarkan saya bahwa terlalu banyak kata “seharusnya” yang saya sematkan atas luka batin saya. Harusnya kamu ga begitu, harusnya orang baik itu begini, harusnya orang berilmu tinggi itu begini, harusnya orang terdekat itu tidak begitu, harusnya harusnya harusnya, harusnya saya tidak usah hidup saja jika memang tidak ada nilainya di dunia ini.

Ya, saya sudah mencapai kalimat yang terakhir.

Kalimat itu membuat saya menyadari mengapa Allah mengambil Al Fathihah sebelum saya tuntas bulan membesarkannya dalam rahim yang Allah titipkan pada saya. Kalimat itu juga membuat saya menyadari, bukankah saya dulu (saat masih dalam perut ibu saya) juga merasa “protes” kok dunia yang akan saya hadapi segitu kerasnya ya Allah? Saya mau dunia yang baik, sebaik perlakuan-Mu padaku sebelum ini.

Pantas saja saya belum dipercaya mengasuh Al Fathihah.

Lalu saya berkata pada suami saya, “Dedey ingin Allah kasih lagi kalo Dedey udah siap lahir batin dan bisa ngasih anak kita suasana yang bahagia”.

Itulah kenapa jurusan saya di universitas kehidupan adalah “child well-being” Dan di NHW kali ini, saya diingatkan kembali pada cara-cara yang selama ini saya tinggalkan untuk transformasi diri saya. Kenapa saya tinggalkan dulu? (sejak tahun 2011an)

Saya pernah ada di satu masa “ngotot” sama kemauan. Saya menjadikan usaha sebagai tuhan baru, saya menjadikan doa sebagai alat, dan saya menjadikan Allah sebagai “tukang stempel” buku takdir. Ya, segitu buruknya saya dulu. Tapi dulu saya merasa betapa kerennya diri saya menyandang label : orang yang kuat kemauan dan pekerja keras. Saya melewatkan proses bertanya, “Duhai cintaku, Allahu Rabbi… sebetulnya apa yang Engkau mau dariku? Saya nurut aja…”.

Jawaban dari pertanyaan itu adalah sebuah email berjudul :

Baca geura isinya (tulisan di belakang judul email). Geuleuh yaaaa.. tapi alhamdulillah, rizki terbaik da. Sayanya nih yang belum, wkwkwk.

Saat itu saya lagi ga kepikiran sama sekali soal cari jodoh. Lagi semangat-semangatnya belajar parenting dari maestro dan berkesempatan mengikuti kemana maestro pergi, jinjing tasnya kesana kemari, ikut sarapan pagi dan makan malam satu meja sehingga jadi ngobrol sama suaminya (yang ini asli melelahkan hahaha). Jadi, boro-boro setor proposal trus nitip-nitipin.

Namun, 2 bulan sebelum email itu masuk, suara hati saya kuat banget akan datang seseorang yang menjadi jawaban dari pertanyaan saya tadi. Disclaimer : saya pernah tidak ingin menikah bahahaha.

Dan, saat email itu datang, saat saya sedang dalam perjalanan ke Tuban untuk takziyah ibunya teman kantor, saya senyum-senyum sepanjang perjalanan dan berkata, “jadi ini ya saya nurut aja”. XD XD XD XD

Nah, sejak saat itu, saya merasa ingin banyak mendengar maunya Allah aja dan meninggalkan cara yang diajarkan ST. Saya mau hidup let it flow.. Namun ternyata ada masa-masa saya overdosis let it flow, wkwkwkw. Kenapa overdosis? Karena saya tidak merawat hati saya dari penyakit-penyakit hati. Sedangkan cahaya Allah itu ga bisa masuk ke hati yang kotor. Bukan hanya dengki, iri, marah saja penyakit hati itu. Tapi juga kagum berlebihan pada manusia.

Masa-masa sebelum Oktober 2015 adalah salahsatu masa dimana saya overdosis, duh sampe sekarang saya ngikik deh dengan istilah-istilah yang muncul di masa itu, sinonim lah sama kata “let it flow”. Ya bener kata Bung Karno lah (entah BK quote dari siapa), kalo kita ga punya mimpi, ya orang lain yang nitipin mimpi mereka (buat kita kerjain).

Overdosis “let it flow” ini yang saya rasakan membuat saya (yang bakat “dominan”nya nyungslep ini) kehilangan tali kekang “kuda” saya sendiri. Kebayang ga kalo kuda ga dipegang kuat dan diarahkan, akhirnya kejedot sana kejedot sini dan sakit sendiri kan. Apakah yang sakit cuma si penunggang kuda? Enggak juga, yang kejedot kuda juga sakit. Cobain aja kejedot kuda. XD

Artinya, cara hidup saya yang kemarin itu, bukan cuma menorehkan luka batin di diri saya, besar kemungkinan dalam diri orang lain juga. Selain itu, luka batin itu juga meninggalkan persepsi yang salah di kepala saya karena (kalo pake bahasanya orang2 kantor) saya ada di sistem limbik dan batang otak.

Saya merasa tidak aman dengan hidup saya sendiri, seakan selalu siaga siapa tau ada lagi orang-orang yang mengecewakan, menyakiti, memanfaatkan, endebray. Hasilnya, negative thinking melulu dan sulit percaya bahwa tidak semua orang (baik) seperti itu, ada juga yang tulus.

Saya pernah menanyakan ini pada Pak Asep, “Pak, kalo misalnya kita ngerasa udah enough dengan teman dalam artian oke saya memaafkan kamu, namun dampak lanjutannya kita jadi sulit berteman dengan orang lain yang tidak berkaitan dengan masalah sebelumnya, itu berarti udah selesai belum, Pak?”

Belum!, katanya.

Sudah selesai itu jika kita sudah tidak sensitif lagi terhadap suatu peristiwa atau orang, dan hati kita merasa tenang, lanjutnya.

Lalu, Pak Asep menarik satu peserta pria dan memperagakan suatu gerakan silat.

Skema 1 : Diam

Pak Asep meninju, dan peserta tersebut diam. Yang terjadi? Sakit lah..

 

Skema 2 : Menangkis atau melawan

Pak Asep meninju, dan peserta tersebut menangkis atau melawan. Yang terjadi tetap sakit. Bisa jadi dua-duanya sakit.

 

Skema 3 : Waspada

Pak Asep meninju, dan peserta tersebut berkelit. Yang terjadi? Capek…

 

Skema 4 : Tangkap dan arahkan

Pak Asep meninju, dan peserta tersebut menangkap tangan Pak Asep, terserah abis itu mau jabatan tangan, mau digandeng ajak jalan, dll. Yang terjadi? Damai.

 

Dari 4 skema itu, saya ada di skema 3, kata Pak Asep. Orang yang sudah selesai ada di skema 4. Itulah kenapa saya gampang capek sejak Oktober 2015. Luka batin dan capek hati membuat saya jadi mudah marah dan meledak-ledak. Wajar, sebetulnya itu bentuk frustasi dan “permintaan tolong” yang tak bersuara.

Kondisi ini menjadi rumit ketika saya sudah punya anak. Akan sangat berbahaya jika saya masih terus-terusan merasa frustasi dan hidup dengan luka. Anak bisa menjadi korbannya.

Prolognya panjang banget yaa hahaha.. keburu aliran rasa duluan (maap). Namun, ini akan menjawab jawaban-jawaban di NHW kali ini. Langsung ajalah kita jawab PR NHWnya.

Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?

Hmmm.. jurusan saya adalah child well-being. Seperti yang saya bilang di atas, Akan sangat berbahaya jika saya masih terus-terusan merasa frustasi dan hidup dengan luka karena anak bisa menjadi korbannya. Bagaimana mungkin anak saya menjadi pribadi yang well being jika saya masih begini-begini aja? Saya duluan yang harus well being. Pepatah mengatakan, happy mom make happy children.

Maka, setelah merenung dan mengingat-ingat yang diajarkan guru-guru saya di Self Transformation, bahwa untuk mencapai suatu tujuan, jalan kita tidak selalu lurus ke depan. Kita bisa berbelok bahkan mundur sementara untuk mengambil jalan memutar.

Saya tetap memilih jurusan child well-being dan saya akan menuju Oktober 2015 dulu untuk menyelesaikan yang belum selesai dan berubah wujud menjadi manusia yang well being. I have to become a person whom good to myself.

 

Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.

Contoh :
Seorang Ibu setiap kali beraktivitas selalu memberikan inspirasi banyak ibu-ibu yang lain. Bidang pelajaran yang paling membuatnya berbinar-binar adalah “Pendidikan Ibu dan Anak”. Lama kelamaan sang ibu ini memahami peran hidupnya di muka bumi ini adalah sebagai inspirator.
Misi Hidup : memberikan inspirasi ke orang lain
Bidang : Pendidikan Ibu dan Anak
Peran : Inspirator

 

Tadi pagi saya nanya sama suami, menurut dia apa kekuatan saya. Dia bilang : man behind the gun. Saya sudah menemukan frasa itu jauh-jauh hari. Iya, saya sudah sering menjalankan peran seperti itu hingga hari ini. Saya mah ga bakat ngartis, wkwkwk. Pertanyaannya, saya mau jadi penembak yang gimana, nembak apa, spesialisasinya apa? Penembak runduk? Penembak jitu?

Beberapa hari lalu, saya nemu lagi status saya di tahun 2013 :

Orangtua saya ngasih nama saya bagus banget. Kadang ngerasa kebagusan. Ga tau gimana mengejawantahkan doa mereka dalam nama saya, seumur hidup bo!

Miftahul = pembuka
Hidayah = petunjuk (hidayah)

Jadi ortu saya berdoa supaya saya jadi pembuka hidayah. Teuing saya ge kumaha cara na.

Cuman saya sangat sadar sesuatu, pembuka hidayah ya cuma membuka saja. Namanya pembuka ga akan ada artinya klo hidayahnya ga ada. Sedangkan hidayah hanyalah milik Allah.

Jadi, yg paling penting adalah bukan seberapa hebat pembuka itu. Yang paling penting adalah apakah Allah mau menjadikan saya pembuka hidayahNya, karena Ia bisa menggunakan apapun yang dimilikiNya.

Dan ini lah jawabannya. Jelas dalam nama saya sendiri Allah menginginkan saya untuk tujuan apa. The gun is hidayah. Apa itu hidayah? Karena ini kalimat islam, yuk cari definisinya sama ulama, bukan sama kamus kbbi xixixi.

Hidayah, seperti dituturkan Ust Khalid Basalamah, adalah ilham yang Allah masukkan ke dalam hati manusia karena mengikuti panduan wahyu. Hidayah seringkali sudah hadir, tapi kotornya hati membuat kita tak merasakan. Hidayah itu seperti cahaya, sedangkan hati adalah ruangan berjendela. Kita jungkir balik minta dikasih cahaya, tapi ga pernah nggosok hatinya supaya cahaya masuk. Hiks!

Salahsatu hal yang paling menarik adalah yang terpenting dari datangnya hidayah bukanlah siapa yang membawa, tapi apa yang dibawa. Saya jadi inget kata-kata Pak Asep tentang metafora lilin. Dalam kesulitan hidup, seringkali manusia seperti ayam sekarat di lumbung padi. Dia ada di pusat sumber daya, tapi tak mampu melihat. Tugas kita bukanlah menyuapi si ayam sekarat dengan beras yang ada di sana, tapi menjadi pembawa cahaya (lilin) sehingga ayam bisa melihat dan memilih aneka sumber daya yang bisa dimakan.

Dalam konteks manusia, orang yang paling tahu bagaimana cara terbaik dalam menyelesaikan masalah adalah orang itu sendiri, bukan terapis paling hebat di mana pun.

 

Jadi, terjawab sudah…

Misi Hidup : menjadi jalan (pembuka) hidayah bagi hidup saya sendiri, keluarga saya, dan orang lain.
Bidang : child well-being.
Peran : Man behind the gun (penulis dan pengonsep gerakan/kampanye).

 

Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.

Contoh : Untuk bisa menjadi ahli di bidang Pendidikan Ibu dan Anak maka Ibu tersebut menetapkan tahapan ilmu yang harus dikuasai oleh sebagai berikut :

1. Bunda Sayang : Ilmu-ilmu seputar pengasuhan anak
2. Bunda Cekatan : Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga
3. Bunda Produktif : Ilmu-ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian finansial dll.
4. Bunda Shaleha : Ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang

 

Hal terpenting dari misi hidup saya adalah kata “ilham Allah” dan “panduan wahyu”. Keduanya sebetulnya sudah terinstall dalam diri setiap manusia, jika ia mau berpikir (ta’lim, ta’qilun, dan tatafakkarun). Jadi, sebetulnya saya ga perlu capek-capek ngajarin, wkwkwk. Menjadi teman belajar bersama atau menjadi cermin mungkin lebih tepat.

Untuk menjadi ahli di bidang itu, yang utama tentu pembersihan jiwa saya sendiri dulu supaya bisa jadi cermin yang jernih dan apa adanya. Selain itu juga ilmu komunikasi yang benar, baik, dan menyenangkan (pas banget, siang ini mau sharing KBBM sama Nuparents). Dipraktekin yes Pi.. biar ga kaburomaktan..

Sedangkan untuk menjadi ahli di bidang child well-being, saya perlu belajar dengan sudut pandang 7 aspek perkembangan agar genap seksualitas(kepribadian)nya :

  1. Ilmu dasar : Ilmu agama dan Neurosains (Islamic-Brain Based)
  2. Spiritual : Ilmu agama
  3. Sosial dan moral : Ilmu perkembangan manusia, Neurosains
  4. Emosi : Ilmu perkembangan manusia, Neurosains, Montessori, Ilmu Disiplin dengan Kasih Sayang (DKS)
  5. Motorik : Ilmu perkembangan manusia, Montessori
  6. Bahasa : Neurosains, Pembuatan cerita dan lagu anak
  7. Kognitif : Neurosains, Ilmu perkembangan manusia
  8. Seksualitas : Ilmu agama, Neurosains, Ilmu perkembangan manusia, Ilmu pendidikan seksualitas (di YKBH namanya PESARI, Bulan Juli mau ada -promo detected), pemetaan minat dan bakat

Nah, jadi ilmu-ilmu yang perlu saya ambil adalah tazkiyatun nafs, ilmu komunikasi º, ilmu agama, neurosainsº, ilmu perkembangan manusiaº (secara kedokteran dan psikologi), filosofi Montessori, ilmu DKSº, pembuatan cerita dan lagu anak, pendidikan seksualitasº, pemetaan minat dan bakatº.

º = sudah saya pelajari sebagian. Penilaian saya terhadap pengetahuan saya di bidang itu ada di antara 25-85% lah kira-kira.

 

Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup

Contoh : Ibu tersebut menetapkan KM 0 pada usia 21 th, kemudian berkomitmen tinggi akan mencapai 10.000 (sepuluh ribu ) jam terbang di satu bidang tersebut, agar lebih mantap menjalankan misi hidup. Sejak saat itu setiap hari sang ibu mendedikasikan 8 jam waktunya untuk mencari ilmu, mempraktekkan, menuliskannya bersama dengan anak-anak. Sehingga dalam jangka waktu kurang lebih 4 tahun, sudah akan terlihat hasilnya.
Milestone yang ditetapkan oleh ibu tersebut adalah sbb :
KM 0 – KM 1 ( tahun 1 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang
KM 1 – KM 2 (tahun 2 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Cekatan
KM 2 – KM 3 (tahun 3 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif
KM 3 – KM 4 ( tahun 4) : Menguasai Ilmu seputar Bunda shaleha

 

Ini beneran ST banget caranya xixixi.

Di atas, saya udah bilang kalo tahapan belajar saya mundur dulu ke Oktober 2015. Jadi titik 0 saya dimulai dari mendalami ilmu tazkiyatun nafs dan membentuk kebiasaan komunikasi yang benar, baik, dan menyenangkan dulu. Saya juga udah dibikinin kurikulum oleh suami untuk tazkiyatun nafs (yang mana banyak masuk juga soal ilmu agama).

Berdasarkan kurikulum suami, durasi belajar saya tiap hari adalah 4 jam mengkaji, dengan 8 jam praktek (24 jam – waktu non produktif kayak tidur, makan, pupup, dll). Jadi, 10.000 jam saya sekitar 2.5 tahun. Supaya saat mempelajari ilmu baru saya ga lupa ilmu sebelumnya, saya menerapkan sistem belajar major-minor. Tazkiyatun Nafs dan Ilmu dasar jadi ilmu major, sisanya (karena sebagian udah dipelajari dan nemu benang merah kontennya) jadi ilmu minor. Pemilihan tahun 1 dan 2 mengikuti kebutuhan bayi H mana yang lebih urgent.

KM 0 – KM 1 (1 tahun) → Major : Tazkiyatun Nafs dan Self Healing (ilmu-ilmu dari Pak Asep); Minor : ilmu komunikasi, perkembangan manusia, pembuatan cerita dan lagu anak.

KM 1 – KM 2 (2 tahun) → Major : Ilmu Dasar; Minor : KM 0-1, filosofi Montessori, DKS, pendidikan seksualitas

KM 2 – KM 3 (3 tahun) → KM 0-2, pemetaan minat dan bakat.

 

Ada amanah yang kalo dalam istilah IIP termasuk ilmu Bunda Cekatan, Bunda Produktif, dan Bunda Shaleha. Bagaimana nasibnya? Tetep dikerjain dan ga saling mengurangi durasi ya, idealnya. Mudah-mudahan Allah mampukan. Bismillah 🙂

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *