Customised Learning Design for Pipi ver1.1 #NHW5

Bismillahirrahmanirrahim

NHW kali ini adalah yang… paling… rujit bahahaha.. di grup pada meraba-raba maksudnya gimana, termasuk saya. Pas baca ulang instruksinya :

NICE HOMEWORK #5
MATRIKULASI INSTITUT IBU PROFESIONAL BATCH #4

? BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR? (Learning How to Learn)

Setelah malam ini kita mempelajari tentang “Learning How to Learn” maka kali ini kita akan praktek membuat Design Pembelajaran ala kita.

Kami tidak akan memandu banyak, mulailah mempraktekkan “learning how to learn” dalam membuat NHW #5.

Munculkan rasa ingin tahu bunda semua tentang apa itu design pembelajaran.

Bukan hasil sempurna yg kami harapkan, melainkan “proses” anda dalam mengerjakan NHW #5 ini yg perlu anda share kan ke teman-teman yg lain.

Selamat Berpikir, dan selamat menemukan hal baru dari proses belajar anda di NHW #5 ini.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

Yeay.. Got it! Kata kuncinya ada disini : “Munculkan rasa ingin tahu bunda semua tentang apa itu design pembelajaran.”. Fokus utamanya di bagian yang ditebalkan. Oke, jadi keyword yang mesti ditanya pada guru handal kita, Prof Google, adalah “Learning Design”. Ternyata banyak juga ya model dan teorinya. Salahsatunya adalah di bawah ini.

 

Hasil gambar untuk principle of learning design

Gambar di atas saya ambil dari Georgetown University. Sama persis seperti yang bu Septi sampaikan di video maupun di materi matrikulasi ke 5 ini dan jadi lebih paham apa maksudnya setelah lihat ilustrasi otak mana yang diaktifkan.

Berhubung dalam membuat learning design ini saya berperan menjadi guru bagi diri saya sendiri (sambil meraba-raba, heuheu), saya juga cari tau apa aja prinsip-prinsip dalam strategi pembelajaran. Sehingga sampailah saya ke informasi ini :

Gambar terkait

Pusiang? Bahahahaha.. samaaaaaa… kalo baca mah, kayaknya ini udah dipake juga dalam MIIP ini. Nice 🙂

Nah, gara-gara saat browsing lihat gambar pedagogy vs andragogy, jadi penasaran juga. Apa sih andragogy? Ternyata kalo andragogy diperuntukkan untuk peserta belajar orang dewasa.

Hasil gambar untuk principle andragogy

Sampe sini, ngerti nggak? Nggaaaaaak hahaha.. saya cuma kebayang prinsip besarnya. Intinya adalah :

  1. Desain pembelajaran yang dirancang perlu mengaktifkan semua bagian otak saat belajar (sistem limbik dengan menstimulus hadirnya rasa suka untuk membuka pintu gerbang ilmu (secara biologis memang supaya informasi bisa masuk ke neokorteks, kalo ga suka wajar proses belajar terhenti alias ga ngerti-ngerti), neokorteks untuk menyimpan beragam info, dan PFC untuk merekonstruksi informasi menjadi knowledge dan wisdom).
  2. Setiap pengalaman dan pengetahuan sebelumnya, menjadi bahan baku rekonstruksi data menjadi informasi, kemudian menjadi knowledge, sehingga memunculkan insight, dan mengkristal menjadi wisdom.

Dua itu aja yang saya ngerti, yaaa what do you expect gitu lhooo belajar cuma lewat google dan cuma beberapa jam.

 

Lalu saya browsing lagi yang lebih praktikal dalam learning design ini ragam framework-nya kayak gimana. Ndilalah teman dari kelas Jakarta juga kemarin chat dan berbagi pengalamannya ketika ikut workshop Design Thinking. Doi langsung kepikiran ini karena ada beberapa keyword dari materi yang mengarah kesini.

Lihat istrinya sutris, Paksu jadi lirik-lirik. Kenapa sih kok ngerjain NHW kayak susah banget, mungkin gitu pikirnya. Lihat saya browsing soal Design Thinking, eh lah doi cerita ternyata pernah mau ikut course di Stanford University soal Design Thinking ini, katanya Stanford adalah sekolah paling bagus buat topik ini TAPI GA JADI oleh karena kedodolan kemenristek telat ngasih duit dan akhirnya doi 2 minggu di Amerika cuma buat jadi turis. “Saska tuh ahlinya, Dedey”, kata Paksu. Yatapi masa minta ajarin Kak Saska tengah malem gini, Cuy..

Berhubung teman saya dan paksu bilang kalo framework Design Thinking ini paling sederhana, human centred, mudah dipraktekkan, namun cukup lengkap, yaudah deh saya fokus aja belajar soal ini. Kalo saya perhatikan, sampai materi 5 ini MIIP juga pake framework ini, setidaknya untuk 5 materi awal ada di tahap empathizedefine dan ideate.

Pas didalami, kok kayak udah kenal gitu mindset kayak gini, persis yang dibiasakan oleh makbos saya di kantor. Apa-apa pake cara ini terus, wkwkwk. Ini dia framework-nya. Di bawah, langsung saya jabarkan aja ya customised learning design buat saya 😀

Hasil gambar untuk design thinking

Customised Learning Design for Pipi ver 1.1
Understanding My Self

Dari gambar di atas, yang pertama perlu saya lakukan adalah understanding myself dengan tahapan seperti di atas.

EMPATHIZE

Who is my user? What matters to this person?

Dalam learning design ini, user saya adalah diri saya sendiri. Hasil akhir dari proses ini adalah empathy mapping yang berisi “apa yang saya katakan, lakukan, rasakan, dan pikirkan”.

Untuk berempati pada diri saya sendiri, berdasarkan penjelasan dari manual book Learning Design Stanford University, yang perlu saya lakukan adalah observe, engage, and watch-listenDalam materi Learn How to Learn, ternyata bu Septi pake ini juga.

 Observe.

Inti dari kegiatan ini adalah melakukan riset dan mengamati diri saya apa adanya termasuk pola perilaku saya dalam keseharian, disamping melakukan teknik “wawancara” alias bertanya pada diri sendiri. Alat riset yang saya pilih adalah tool asesmen Talents Mapping dan Empathy Mapping.

Berikut adalah Hasil Talents Mapping saya :

 

TM saya ini menarik ya hasilnya, semuanya ada di tataran pemikiran dan relasi. Di NHW sebelumnya saya cerita kan kalo saya trauma punya teman? Nah, ternyata kalo dari hasil TM mah itu artinya saya sedang tidak efektif, karena aslinya saya orang yang senang berteman dan guyub.

Sedangkan dalam tataran pemikiran, saya tipikal orang yang look in dengan perenungan (intellection) sekaligus look out dengan mengumpulkan informasi yang saya sukai (input). Bukan hanya itu, saya juga bisa menjahit hasil dari keduanya dengan realita sehari-hari menggunakan bakat connectedness sekaligus menjadikannya suatu karya dengan bakat ideation. Oleh karena itu, personal branding saya di TM ini memang creator.

Sedangkan kalo dalam team work (keluarga), ternyata saya tipikal strategic thinker dan relationship building, sedangka paksu tipikal strategic thinker dan executing. YEAYYYY.. Best buddy!

Nah, kata manual book soal design thinking ini, cara paling powerful untuk mengenali kebutuhan user (yaitu saya sendiri) adalah “noticing a disconnect between what someone says and what he does“. Di saya, adalah tidak terealisasinya planing karena saya paling lemah di controling.

 

Berikut adalah hasil Empathy Mapping saya :

Saya adalah

(selain dari yang terbaca talents mapping)

Perempuan, 29 tahun yang punya innerchild yang playful dan spiritual namun seringkali dibajak sama yang vulnerable dan angry, hidup dengan 1 anak usia 9 bulan yang insyaAllah jadi penyejuk hati, serta 1 suami baik hati dan ga enakan, saat ini sedang merasa mediocre pisan wkwkwkwk, serta takut emosi yang ga stabil ini mengancam kebahagiaan keluarga dan anggotanya, ga bawa keluarga kemana-mana, sehingga ga tercapai visi dan misi keluarga.

I Said…

Visi keluarga kami adalah “Ridha Allah agar pulang ke surga dalam keadaan husnul khatimah” melalui kendaraan “baiti jannati”. Saya menikah karena saya percaya selain bernilai ibadah dan menyempurnakan agama, menikah juga mendewasakan dan melembutkan jiwa-jiwa manusia serta membuat hidup tentram dan berkasih sayang. Suami saya adalah orang yang sangat baik, sabar, dan pengertian. Namun, beberapa episode di hidup saya tiba-tiba meluap, membuat saya mudah meledak-ledak dan sering kali sulit terkontrol oleh saya. Kami punya impian besar sebagai keluarga, masalah saya ini membuat kami tidak kemana-mana. Suami saya adalah seorang achiever, karena mengurusi keerroran saya, dia jadi ga perform. Akibatnya, self worthnya juga jadi turun. Saya ingin kami keluar dari kondisi ini. Apa yang harus kami lakukan? Apa yang harus saya lakukan?

I feel…

Saya seringkali merasa putus asa terhadap diri saya sendiri, saya merasa menjadi penghalang masa depan suami dan anak saya, saya merasa diri saya tidak berharga dan tidak layak untuk hidup, saya merasa bosan dan lelah dengan situasi ini. Saya merindukan diri saya yang produktif, ceria, dan menggembirakan orang lain. Saya merasa jauh dari Allah karena bodohnya saya tentang ilmu agama. Saya merasa bertanggungjawab atas apa yang terjadi pada self worth suami dan anak saya. Saya sedih mengapa saya jadi kasar justru setelah diamani suami dan anak, hiks. Padahal dulu saya tidak seperti ini.

I think…

Saya seringkali merenungkan di mana saja lubang-lubang itu berada, saya bersedia menutupnya kembali. Lubang-lubang yang membuat kantong jiwa saya bocor setiap hari. Saya bersedia menyembuhkan diri saya dari trauma, saya pikir akan sangat baik jika dimulai dengan penyembuhan jiwa melalui pendekatan islam dan psikologi. Saya bersedia fokus melakukan tazkiyatun nafs dan self healing, mengurangi beban pikiran dan emosi hingga saya merasa kuat untuk menghadapkan wajah pada dunia. Saya membayangkan wajah suami dan anak saya yang ceria dan penuh kebahagiaan, mereka tumbuh sehat lahir batin, sukses dunia akhirat, karena saya mengisi jiwa mereka dengan emosi positif. Saya membayangkan kami bersama-sama lagi di surga kelak.

I do…

Selama ini yang telah saya lakukan adalah melakukan perenungan. Proses merenung merupakan salahsatu teknik self healing yang efektif buat saya. Saya juga mengikuti beragam workshop terapi yang sayangnya tidak rutin saya amalkan, dan mulai mengumpulkan buku-buku keislaman untuk mengisi jiwa saya agar semakin ma’rifah kepada Allah.

 

Engage.

Dari manual book Stanford mah, inti dari proses ini adalah ngobrol, bukan sekedar wawancara. Katanya, yang diperlukan dalam proses ini adalah daftar pertanyaan sebanyak-banyaknya. Di materi Learn How to Learn, bu Septi kasih keyword 6W1H. Nah, berhubung repot kalo bikin banyak daftar sekarang, wkwkwk, bikin list pertanyaan yang nyambung sama NHW sebelum-sebelumnya aja lah yaa.. jadinya seperti ini.

  • Who am I? Saya adalah pembuka hidayah Allah.
  • What am I doing? Belajar lagi tentang memahami diri, memaafkan, dan melakukan kerja-kerja supaya Allah mempercayai saya menjadi pembawa hidayah-Nya
  • Why am I here (in this world)? Agar saya menjadi jalan (pembuka) hidayah bagi hidup saya sendiri, keluarga saya, dan orang lain.
  • When do I start the purpose of my life? Saat ini dan selamanya
  • Where do I start the purpose of my life? Di mulai dari alam pikir dan rasa saya sendiri, lalu keluarga saya, dan terus ke arah luar diri saya.
  • Which one do I prefer, be a mediocre and live in comfort zone or be a extraordinary and fight for my purpose of life? the second one.
  • How do I start? Tazkiyatun Nafs through forgiveness and healing innerchild within, belajar ilmu dasar (ilmu islam dan ilmu hayat), konsisten menjalankan family meeting.

Watch and Listen

Inti dari proses ini adalah “Ask someone to show you how they complete a task”, so saya bertanya pada diri sendiri bagaimana saya menyelesaikan tugas. Hmm.. biasanya dimulai dari proses merenung, idenya seringkali muncul saat beberes rumah, mandi, atau ngobrol sama paksu. Lalu, saya butuh buddy buat mendukung, mengingatkan, dan mengontrol. Paksu aja yang jadi buddy, haha! Last but not least, saya butuh ada family meeting buat menentukan target dan evaluasi.

DEFINE

Create a point of view that based on user’s needs and insights, what are their needs, kata manual book. Rumus untuk proses ini adalah :

Hasil gambar untuk design thinking define

Jadi, dari proses empathize, dirumuskan POV statement sebagai berikut (dibantuin paksu):

Saya adalah seorang perempuan yang ramah, open minded, banyak ide, dan spiritual, ibu yang care dan telaten, istri yang perhatian dan cerdas yang saat ini terpenjara oleh luka batin dan trauma, membutuhkan sebuah cara untuk berdamai dengan diri sendiri, memaafkan orang lain, terhubung dengan Allah, dan menjadi oase bagi keluarga karena saya berharga dan mampu untuk mewujudkan visi keluarga saya.

 

Setelah merumuskan POV statement, saya perlu membuat daftar pertanyaan yang dalam metode ini disebut “How Might We” questions.

  • bagaimana jika saya membuat karya (tulisan, cerpen, puisi, lirik lagu) untuk menyelesaikan satu masalah, sehingga proses berdamai dengan diri sendiri menjadi kegiatan yang positif dan produktif
  • bagaimana jika saya membuatkan atau mengirimkan hadiah dan doa kepada orang-orang yang perlu saya maafkan, sehingga lebih mudah bagi saya memaafkan mereka setelah saya berbuat baik pada mereka
  • bagaimana jika saya membuat challenge yang berbeda dalam rangka terhubung dengan Allah setiap periode tertentu, sehingga proses ini berjalan dengan istiqomah, produktif, dan menyenangkan

 

Explore My Self

Setelah memahami diri lebih jauh, yang perlu saya lakukan adalah mengkristalkan informasi yang saya dapat dari proses sebelumnya untuk membuat solusi melalui learning design yang akan dibuat. Tahapannya ada dua, yaitu Ideate dan Prototype

IDEATE

Generate a range of crazy creative idea (to solve the problems)

  • Menyediakan ruang dan waktu khusus untuk mengkristalkan pemikiran saya dan belajar ilmu dasar
  • Melakukan family meeting dengan buddy yang mendukung, mengingatkan, dan mengontrol saya dalam bergerak menjalankan misi hidup saya, menentukan target dan melakukan evaluasi
  • Melaksanakan kultur Kuliah Lail (terjadwal dan ada PJnya)
  • Membuat puisi, poster, video, cerpen, lirik lagu, pantun, quotes, gombalan, dari hikmah kehidupan dan ilmu yang didapatkan selama proses makrifatullah.
  • Mengaplikasikan metode yang sudah pernah diperoleh ketika workshop atau pelatihan dengan rinci dan terstruktur
  • Membuat cerita dengan melakukan modifikasi mengubah frame kisah getir menjadi kisah bodor dan mengambil hikmahnya
  • Melakukan aktifitas produktif (contoh menjahit, merajut, dan membuat kue)
  • Merutinkan memberi hadiah kepada diri sendiri untuk setiap pencapaian diri yang berhasil
  • Menyusun kurikulum dan portofolio untuk Habibie
  • Menyayangi ucuy dengan setulus hati (pesenan paksu)
  • Gerakan gigit lidah (kalo emosi memuncak)

Nemu gambar bagus btw, simpen ah wkwk

Hasil gambar untuk principle of learning design pedagogy

 

PROTOTYPE

Prototype dibuat agar desainer bisa tahu apakah produknya “tepat guna” dan “user friendly”, sehingga yang perlu diujikan adalah produk yang bisa diukur daripada ide abstrak dan bisa dikerjakan segera. Dari proses ideation, kira-kira prototype strategi belajar yang akan diujikan adalah :

  • Pembiasaan kultur We time (termasuk kuliah lail) setelah qiyamul lail sampai subuh (jam 3.30 – 4.30) setiap hari. Ini isinya saya dan suami belajar bareng, bahas materi dari buku atau video, lalu didiskusikan. Hasil diskusinya bisa dibuat aneka produk.
  • Family meeting setiap hari ahad jam 20.00
  • Membuat puisi, poster, video, cerpen, lirik lagu, pantun, quotes, gombalan, (, = atau) dari hikmah kehidupan dan ilmu yang didapatkan selama proses makrifatullah seminggu sekali
  • Memberi hadiah kepada diri sendiri untuk setiap pencapaian diri yang berhasil
  • Menyusun kurikulum dan portofolio untuk Habibie setiap tanggal 18
  • Marah seminggu 2 kali saja :p

Iya, berhubung pelajaran saya di KM 0 ini tentang tazkiyatun nafs dan Self Healing (ilmu-ilmu dari Pak Asep) dengan Minor : ilmu komunikasi, perkembangan manusia, pembuatan cerita dan lagu anak, jadi ada sesi materi dan banyak sesi praktek. Ilmu dasar saya tarik ke KM 0 karena itu “NHW”nya paksu dan saya juga butuh buat tazkiyatun nafs.

 

Materialize

Sebelum mengimplementasikan learning design yang telah dibuat, dilakukan dulu uji “kelayakan” apakah rancangan pembelajaran ini sudah fit in buat saya. Tahapannya adalah Test baru Implementation.

TEST

Tujuan akhir dari proses ini adalah learning design ini nyaman buat saya, serta mungkin dan bisa saya kerjakan sepanjang hidup. Saya akan membuat evaluasi setiap bulan selama 3 bulan.

Perbaikan learning design akan sangat mungkin terjadi dan akan diupdate di versi selanjutnya. Bisa targetnya yang diubah, atau metodenya yang sama sekali berubah.

Agar mekanisme feedbacknya objektif, selain saya jujur dalam mengobservasi perubahan diri saya sendiri, saya juga akan minta tolong buddy saya untuk menilai. Trus jadi aja kepikiran apa indikator pencapaiannya hahaha.

Indikatornya adalah apakah saya mencapai target yang dicanangkan, apakah saya nyaman melakukannya dan apakah saya menjadi produktif di segala jurusan yang saya pilih.

Huaaaaa.. 2.363 kata. Pas-in sekalian lah biar 2.370 wkwkwk. Alhamdulillah. Bismillah semoga dimudahkan. Doakan yaa semuanya.. semoga berkah proses belajarnya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *