Turn Back Hoax

WELCOME TO DIGITAL ERA!

Bismillahirrahmanirrahim

Ya, saya buka tulisan ini dengan kalimat pembuka tersebut karena (mungkin sebagian masyarakat Indonesia aja) sedang mengalami apa yang disebut “information flooding“, alias banjir informasi. Termasuk informasi-informasi hoax juga membanjir. Yaaa.. ini-lah wajah era digital, dimana semua orang bebas bicara tanpa takut konsekuensi perbuatannya karena berlindung di balik layar dengan wajah anonim.

2003 adalah tahun dimana internet secara massive dikenal masyarakat Indonesia. Media sosial saat itu masih terbatas Yahoo Messanger (yang sudah RIP, pukpuk), Friendster, dan MiRC. Setidaknya ini yang saya ketahui, berhubung cuma main itu aja, wkwk. Oia, tahun 2006-2007 juga dunia internet ramai dengan para blogger. Seru loh! Blog walking itu salahsatu hobi saya dulu wkwk. Ada plurk juga ya? hehehe. Ga maen plurk tapi saya mah.

2008 adalah tahun dimana media sosial terbesar saat ini aka Facebook diluncurkan. Mulanya dunia adem ayem. Timeline penuh dengan foto-foto seru dan status-status galau berisi curcolan yang kemudian mengundang komentar untuk menjalin silaturahim dengan teman-teman sekolah dan kuliah.

Hingga akhirnya Negara Api menyerang dan duarrrrrr… mungkin sekitar 2013-2014.

Website-website tumbuh seperti jamur di musim hujan. Media sosial semakin banyak pilihan. Tombol share di facebook diciptakan. Siapapun bisa menulis apapun. Siapapun bisa membagi apapun.

Dunia terhampar tanpa jarak.

Unfortunately, persebaran berita baik dan berita palsu tak pernah seimbang. Mengutip narasi video dari BNPT, konon ketika berita baik baru bergerak beberapa kilometer, berita buruk melesat mengelilingi bola dunia. Ga percaya? Saya mengalami sendiri. Saat ada berita palsu mengatasnamakan bos saya menjadi viral (dari penyebar pertamanya sudah ratusan ribu), berita klarifikasinya tak tembus puluhan ribu.

 

Hoax

Istilah lainnya adalah berita palsu. Definisinya berdasarkan merriam-webster adalah

 to trick into believing or accepting as genuine something false and often preposterous 

Wikipedia menjabarkannya sebagai usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengar untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu.

Menurut survei yang diadakan oleh Mastel (Masyarakat Telematika Indonesia), seperti saya kutip dari sini, jenis hoax bertema sosial politik menempati urutan tertinggi dengan persentase 91.8%. Disusul hoax dengan isu SARA 88.6%, hoax kesehatan 41.2%, hoax makanan dan minuman 32.6%, kemudian hoax penipuan keuangan 24.5%, dan hoax-hoax lain seputar iptek, berita duka, candaan, bencana alam, dan lalu lintas.

Jenis berita hoax yang paling sering beredar di whatsapp saya adalah berita bertema kesehatan, makanan dan minuman, penipuan keuangan, dan keamanan. Tema-tema ini adalah (kalo bahasa neurosainsnya) tema yang ada di area batang otak. Batang otak adalah bagian dari otak yang salahsatu tugasnya sebagai pusat perlindungan diri, tugas lainnya adalah pusat gerak refleks.

Berita-berita yang berisi ancaman terhadap kesehatan (termasuk makanan dan minuman) dan keamanan cenderung direspon tanpa pikir panjang karena yaaa.. lihat ajalah yang kerja siapa.

 

Ciri-ciri hoax
  1. Judul menggunakan kata-kata yang bombastis atau membuat penasaran. Misal : “Ternyata MSG adalah Penyebab Kanker!” atau “Inilah 5 Makanan Penyebab Kanker”
  2. Mengandung kalimat referensi yang tidak bertanggungjawab, seperti : “info dari grup sebelah”, “copas dari xxxx (tidak ada link)”, atau asal catut aja semacam “Sumber : Toyota 2000 (tanpa link)”. Ini sebenarnya bermaksud agar orang yang membaca tidak bisa melakukan kroscek ke sumber referensi melalui link.
  3. Mengandung ajakan untuk menyebarluaskan berita tersebut, misal “Sebarkan!” atau ” Partisipasi Anda akan menyelamatkan orang lain. Ayo Peduli Sesama. Tolong share ke group2 yang lain” atau “Hanya butuh 1 detik untuk menyampaikan kebaikan”, dsb banyak lagi jenisnya. Bahkan ada yang mengancam, “Jika Anda tidak membagikan info ini, ada jiwa melayang di luar sana” dan tentu ada juga yang ga masuk akal, “jika Anda tidak membagikan info ini, keburukan akan menimpa keluarga Anda”.
  4. Mencatut nama-nama tokoh atau lembaga tertentu, ada yang hanya nama panggilan, ada yang hanya dengan menyebut profesi, ada juga yang lengkap dengan gelar Prof Dr dr Syalalala, SpOG. Lagi-lagi tidak ada link sebagai sumber referensi untuk mengkroscek apakah tokoh tersebut mengeluarkan pernyataan seperti yang diberitakan. Tujuan pencatutan ini untuk mengesankan informasinya berasal dari orang terpercaya.
  5. Jika ada referensi berupa link, seringkali berasal dari blog (blogspot, wordpress. dsj) atau website yang tidak kredibel. Seburuk-buruknya framing media mainstream, mereka masih terikat etika jurnalistik dan bisa dicabut izin siarnya jika terlalu banyak melanggar.

Udah nih? Cuma lima cirinya?

Sejauh ini, yang terpikir oleh saya baru lima ini. DIKIT YA TERNYATA. Sehingga lebih mudah dan sederhana buat kita mengidentifikasinya. Sebetulnya ada satu ciri lagi, yaitu isinya GA LOGIS. Tapi ya kemampuan logika orang beda-beda, jadi ga bisa dijadikan ukuran.

 

turn back hoax

Jadi, gimana nih caranya kita melawan hoax? Kata AaGym, kita mulai dari diri sendiri dulu. Yuk, miliki kemampuan membedakan suatu berita bisa dipercaya atau hoax. Caranya gimana?

Sadari bahwa kita adalah MUSLIM

Ya, poin pertama saya adalah ini. Setiap liku hidup seorang muslim sudah diatur sedemikian rupa sejak bangun tidur hingga tidur lagi sebagai bentuk kasih sayang Allah swt. Allah dan RasulNya tau betapa sulit hidup di akhir zaman seperti kita. Maka Allah dan Rasulullah memberi panduan adab seorang muslim ketika menerima berita :

  • Tabayyun alias Kroscek untuk memeriksa kebenarannya

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat: 6).

Itu untuk yang jelas-jelas fasik, apalagi yang kita tidak tau apakah pembuat berita itu fasik atau bukan.

Untuk poin ini, suami saya memberikan insight yang keren menurut saya. Doi bilang, “Jeleknya whatsapp (dan internet -pen) itu mengaburkan sense kita akan berbohong/berdusta yang jelas itu dilarang dalam Islam. Kalau misal kita tiba-tiba didatangi orang dan disuruh menyebarkan berita yang kita tidak tahu kebenarannya atau disuruh berbohong secara lisan, sudah pasti kita akan langsung menolak tegas. Tetapi entah kenapa, kalau via whatsapp (dan internet -pen) jadi ga kerasa. Mudah untuk share dan forward tanpa kroscek. Padahal intinya sama, kita jadi berdusta.

 

  • Pertimbangkan apakah isinya bermanfaat dan dampaknya baik bagi yang menerimanya

Rasulullah saw bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar.” (HR. Muslim).

Disini kita dituntut untuk berpikir kritis, mempertimbangkan dampak dan manfaat dari tersebarnya suatu informasi dari jari dan lisan kita. Jika kita sudah memastikan beritanya benar namun tidak bermanfaat atau menimbulkan dampak yang tidak baik atau belum tentu baik pada yang menerimanya, sebaiknya tahan diri kita dari membagikannya pada orang lain.

 

Install pola pikir skeptis (skeptical thinking)

Ini ilmu dari materi MIIP yang pertama, bu Septi Peni yang mengemukakan istilah “skeptical thinking” ini untuk mendefinisikan agar kita tidak mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik. Pola pikir ini diharapkan anak mendorong kita meninggalkan batang otak (pusat refleks) ke neokorteks (pusat pikir) sehingga kita melakukan adab seorang muslim yang udah diurai di atas

 

Gunakan teknologi, bersahabatlah dengan Om Google!

Sekarang kita sangat dimudahkan oleh teknologi. Jika kita menerima suatu berita, cukup buka google, ketik kata kunci yang mewakili, kurang dari 1 menit kita akan mendapatkan ribuan bahkan jutaan jawaban untuk membuktika berita itu hoax atau bukan.

Contoh, saya mendapatkan berita tentang nasi yang dihangatkan lebih dari 12 jam di magic com akan menjadi penyebab kanker dan diabetes. Ketik : “nasi magic com kanker”. Saya dapat 76.700 hasil pencarian dalam NOL KOMA TUJUH LIMA DETIK!

 

Hafalkan 10 ayat pertama atau 10 ayat terakhir Surat Al Kahfi

Hapaaaahhhh???

Suatu malam, saya dan suami ngobrol soal bencana akhir zaman, terutama tentang fitnah akhir zaman, terutama lagi tentang Dajjal. Kebetulan minggu-minggu itu kami sedang getol menyimak video Ustadz Khalid Basalamah dan Ust Zulkifli M Ali terkait akhir zaman.

Dalam obrolan itu, kami sama-sama merinding membayangkan bagaimana kami dan keturunan kami harus mampu bertahan ditengah fitnah Dajjal.

Secara logika, siapa yang mau percaya Dajjal? Wajahnya buruk rupa, perawakannya pendek dan gempal (ga banget lah), matanya picek satu (kayak kismis, kebayang ga?), enggak banget lah. Kalo dibandingkan dengan para Nabi yang tampan-tampan, gagah-gagah, tapi susaaaaaaaaaaaah banget mempengaruhi orang untuk beriman, Dajjal ini kebalikannya. Tapi, Dajjal punya banyaaaaaaaaak pengikut dengan mudah.

Kok bisa? Saat itu seluruh permukaan bumi mengalami paceklik bertahun-tahun dan diselimuti kabut asap (dukhan), hewan ternak mati, tumbuhan mati, orang banyak yang mati kelaparan.

Kalo mau hidupnya “terselamatkan” jadi pengikut Dajjal aja. Sihirnya mampu menyuburkan tanah tandus, mendatangkan air, dan keluarga yang sudah meninggal pun bisa dihidupkan kembali. Padahal itu semua hanya ilusi. Ini lah mengapa fitnah Dajjal adalah seberat-berat fitnah akhir zaman.

Nah, kalo dengan fitnah berita hoax yang tidak mewujud seperti mukjizat seperti fitnah Dajjal aja kita ga sanggup hadapi, gimana kita menghadapi fitnah Dajjal yang penuh tipu daya?

Maka, saya dan suami menyimpulkan untuk selamat dari fitnah akhir zaman yang berupa berita hoax ini, jika mengikuti petunjuk Rasulullah agar kita selamat dari fitnah Dajjal adalah dengan menghafalkan 10 ayat pertama atau terakhir surat Al Kahfi. Haaa.. ayo semangat! Kita amalkan agar kita dengan mudah mengajarkan pada anak-anak kita. Sehingga jika pun kita tidak bertemu Dajjal, kita sudah membekali anak keturunan kita.

 

Last but not least, ingatkan diri untuk senantiasa berdoa memohon perlindungan dari fitnah dunia

Rasulullah saw bersabda kepada para sahabat,

تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

Berlindunglah kepada Allah dari setiap fitnah, yang nampak maupun yang tidak nampak. (HR. Muslim 7392)

Doanya macam-macam, bisa googling sendiri yaa..

Segitu dulu aja, mudah-mudahan tulisan ini jadi pengingat bagi diri saya sendiri 🙂

 

Bandung, 15 Juli 2017

-mift

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.