Ibu Macam Apa Kamu?! -Aliran Rasa

It’s enough“, sebuah chat whatsapp aku layangkan pada seseorang yang tau duduk masalahku. Butuh waktu 2 tahun bagiku untuk mengetahui bahwa aku tidak sedang berlomba, menang dan kalah. Aku memang sedang berlari, mengejar ketertinggalanku. Namun, aku tidak berlari di lapang arena. Aku berlari mengejar misi hidupku sendiri, bukan mengejar penilaian dan penghargaan orang lain.

Siang itu, sudah menjadi bukti nyata bahwa aku ada dalam naungan yang salah.

What a mother! Aku sudah lama meragukan kemampuanmu menjadi ibu dan istri!“, katanya.

Suamiku yang tak sengaja melihat pesan itu sontak kaget, apalagi aku. Aku langsung menghapus pesan itu saking kagetnya.

Ibu macam apa kamu?, katanya.

Padahal, saat itu aku sedang meminta doanya karena musibah yang mengenai putraku.

Oleh karena kelalaian sekali, yang bahkan bukan oleh perbuatanku sendiri, apakah sudah bisa jadi bahan penilaian seumur hidup?

Penilaian itu begitu menghujam, setelah beberapa bulan lalu ia juga mengatakan, “Kayaknya anak kamu bagus begini karena suami kamu ya?

Suamiku berjuta kali mengatakan, “tidak!“. “Bagaimana mungkin karena aku? Kamulah yang 24/7 bersama anak kita“, sambungnya. Kupikir kata-kata suamiku hanyalah penghiburan. Aku tetap saja ingin bunuh diri karena rasa tidak berharga dan tidak mampu. Bukankah lebih baik anak dan suamiku menemukan ibu baru yang tak perlu diragukan lagi kemampuannya oleh orang yang menjadi “Parenting Goals” di lingkungan sekitarku?

 

9 Minggu Itu

9 minggu terbaik dalam hidupku, adalah jawaban Allah atas permohonan pertolonganku. Setiap minggu, aku terus diajak memahami bahwa aku tidak sedang berlari mengejar piala. Aku sedang berlari mengejar pahala.

Ibu macam apa aku? Kini, aku bisa menjawab pertanyaanmu. Aku, ibu yang berharga dan berani!

Aku adalah perempuan yang cukup berharga memperjuangkan misi hidupku, yang sudah lelah kutemukan dan tak akan rela begitu saja dihempaskan olehmu. Aku adalah perempuan yang cukup berani membebaskan diri dari segala belenggu kata-kata dan penilaianmu.

Kau boleh menilaiku begitu rupa, tapi luka yang kau toreh tak akan membuatku menderita.

Kau boleh mengancamku dengan aneka serapah, tapi harga diriku tak akan goyah.

Kau boleh meragukanku atas masa laluku, tapi aku tau kemana aku menuju.

Kau boleh mengerdilkan aku sekecil yang kau mau, tapi aku tau siapa yang perlu ku gugu.

Aku tak ingin membencimu. Aku memaafkanmu. Aku melepaskanmu. Aku ingin mendoakanmu, semoga Allah memberkahi langkah juangmu.

 

 

Terimakasih MIIP, terimakasih Teh Tyas, terimakasih teman-teman, sudah membersamai perjalananku hingga aku kembali yakin siapa diriku dan kemana arah hidupku 🙂

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *