Salahkah Jika Aku Punya Innerchild?

Bismillahirrahimanirrahim

Intro dulu, sejujurnya saya udah lamaaaa pengen sharing ini tapi ga jadi-jadi karena minder. Siapa gueeee gitu, ada master dan jedi topik ini. Psikolog juga bukan, cuma pernah ikut pelatihan.

Namun, setelah mendengar kajian ust Adi Hidayat, katanya salahsatu bisikan setan adalah bisikan yang membuat manusia tidak ingin atau tidak jadi beramal. Ada juga teman yang sharing kalo kita takut beramal tuh sebenarnya kita sedang riya’, jadi lurusin niaaaaaat hanya untuk Allah.

Pamungkasnya curhat ama Ami, wkwkwk. Bahwa ga banyak orang yang membagi ilmu dengan menyajikan humble content, jujur, dan bisa langsung dipraktekkan. Sayangnya, topik ini belum umum, perlu semacam awareness dulu dengan paham ilmu dasarnya.

Jadi, dengan niat menjalankan hasil Matrikulasi IIP kemarin, saya akan mulai perjalanan Pembersihan Jiwa ini dengan menata hati, pikiran, dan perilaku memanfaatkan ilmu yang pernah saya peroleh dari Pak Asep Haerul Gani dan buku Tazkiyatun Nafs Said Hawwa.

Sekian intronya.

Innerchild

Setahun terakhir istilah Innerchild mulai dikenal luas oleh orang-orang di lingkaran pertemanan saya. Saya mendapati pemahaman sebagian orang tentang innerchild ini tidak jauh berbeda dengan unfinished business.

Memang mirip-mirip konteksnya, sama-sama tentang pengalaman masa lalu yang mempengaruhi cara merasa, berpikir, dan berperilaku seseorang, namun istilah innerchild lebih tepat jika diletakkan sebagai subjek atau gaya berespon. Gaya berespon child antara lain perilaku tak berdaya, ngambek, ngeluh, intinya merasa jadi korban lah. Maka, innerchild ini tidak selalu tentang pengalaman masa kanak-kanak, pengalaman 3 hari lalu bisa masuk kategori ini.

Jadi, innerchild itu adalah sesosok anak kecil yang merespon situasi terkini dengan gaya “child”nya menggunakan tubuh dewasa kita. Dia bagian dari kepribadian kita (nanti dijelaskan lebih lanjut). Sedangkan unfinished business adalah situasi dimana kita belum selesai dengan masalah tertentu di masa yang lalu.

Beda kan?

Saya merasa perlu menjelaskan perbedaan keduanya, karena seringkali istilah innerchild tendensinya negatif. Padahal, innerchild ini seringkali malah jadi penyelamat kita (saya) saat menghadapi masalah.

5 jenis innerchild

Saya perlu mengurai poin ini untuk menjawab judul : Salahkah Jika Aku Punya Innerchild? Seperti yang saya katakan sebelumnya, bahwa pemahaman yang beredar di lingkungan saya tentang innerchild tendensinya negatif. Sehingga kesannya jawaban untuk judul tulisan ini adalah : ya. Padahal, enggak juga.

Innerchild ada 5 karakteristik :
  1. Vulnerable child, adalah anak kecil yang merasa tidak berdaya, tidak mampu menolong diri sendiri, dan menjadi korban dari keadaan atau perlakuan orang lain.
  2. Angry child, adalah anak kecil yang marah dengan situasi, kondisi, dan perlakuan yang diterimanya.
  3. Creative child, adalah anak kecil yang dirinya dipenuhi berbagai imajinasi, mengekspresikannya dengan hati, tidak takut terhadap penilaian orang lain, hidup dengan mendengarkan intuisi.
  4. Playful child, adalah anak kecil yang sangat mampu menikmati hidup, tanpa beban. Kalo salah, coba lagi. Kalo kesel, cepet maafinnya. Kalo ada yang serem, ajak main aja yang seremnya.
  5. Spiritual child, adalah anak kecil yang memandu spiritualitas kita, yang selalu bertanya mau kemana hidup ini diarahkan, apa makna hidup yang dirasakan saat ini, apa hal penting yang perlu dilakukan, dan usia yang tersisa ini akan digunakan untuk kebermanfaatan apa.
berdamai dengan diri sendiri

Sebetulnya, dalam proses berdamai dengan diri sendiri hanya dua karakter innerchild saja yang perlu dibantu. Vulnerable child dan angry child. Yang lain justru mensupport dua anak ini. Di tulisan lain mungkin saya bakal lebih detail bahas soal innerchild vs parent dalam kepribadian kita. Sekarang mah fokus di innerchild-nya aja dulu ya.

Kebutuhan vulnerable dan angry child adalah untuk didengar dan diekspresikan perasaannya agar kita-yang-dewasa bisa melibatkan mereka dalam perjalanan hidup kita menjadi diri yang lebih baik, lebih mulia, dan mendapat yang terbaik. Creative child, playful child, dan spiritual child juga sangat bisa membantu yang vulnerable dan angry lho…

Masalahnya, kita jarang muter memori alias manggil alias berkomunikasi lagi dengan innerchild yang creative, playful, dan spiritual. Energi kita habis-habisan dipake oleh yang vulnerable dan angry.

Pak Asep bilang, mereka seakan-akan jadi tuan bagi diri kita dan kita jadi budaknya. Tubuh kita yang sudah dewasa ini diperbudak oleh hasrat, kemarahan, keinginan, kebutuhan, dan ketakutan, innerchild yang vulnerable dan angry. Sehingga, cara kita bergerak, cara kita berpikir, cara kita berespon, sangat dipengaruhi oleh innerchild yang vulnerable dan angry.

Bagaimana caranya merespon kehadiran innerchild yang vulnerable dan angry agar kita menjadi tuan bagi diri kita sendiri? Jawabannya di tulisan selanjutnya aja yaaaaa hahaha.. biar ga panjang-panjang.

 

 

 

4 Comments

  1. Pingback: P3K Dalam Parenting Agar Tidak Diperbudak Oleh Innerchild Bermasalah

  2. Pingback: Mengasuh dan Tumbuh Bersama Innerchild

  3. Pingback: Mengasuh dan Tumbuh Bersama Innerchild -part 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *