Mengasuh dan Tumbuh Bersama Innerchild

Bismillahirrahmanirrahim..

Di tulisan yang lalu, saya janji akan membahas soal innerchild vs parent dalam kepribadian kita dan bagaimana caranya merespon kehadiran innerchild yang vulnerable dan angry agar kita menjadi tuan bagi diri kita sendiri.

Saya rangkum dulu inti dari tulisan sebelumnya, bahwa sangat wajar jika kita punya innerchild. Ia adalah bagian dari kepribadian kita. Secara umum, setiap orang memiliki innerchild yang creative, playful, spiritual, vulnerable dan angry. Mana innerchild yang lebih dominan dalam kepribadian kita, tergantung pengalaman hidup masing-masing.

Struktur Kepribadian

Konsep struktur kepribadian ini mengadopsi ilmu Sigmund Freud, ya wajar lah yaa.. Pak Asep kan memang psikolog. Aslinya saya awam, jadi saran saya selain baca disini tentang konsep ini, baca juga dari artikel dan buku lain yaa 🙂

Pak Asep menjelaskan bahwa struktur kepribadian kita terdiri dari 3 state, yaitu ID, EGO, dan SUPEREGO. Penjelasan singkatnya :

  • ID adalah dorongan alamiah “yang perlu dipuaskan dan dipenuhi atau untuk menghindari ketidaknyamanan” dalam kadar cukup. Jika dorongan itu tidak lagi sesuai kebutuhan alamiah dan berlebihan dalam kadar cukup, atau sebenarnya tidak perlu, sudah bukan ID lagi. Contoh : hoyong bakso disaat sutris, laper mata lihat barang unyu buat anak, dll.
  • EGO adalah kepribadian kita yang menghadapi realitas kehidupan, yang mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan rasio dan logika, yang mengendalikan keinginan atau kebutuhan ID jika tidak bisa direalisasikan karena situasi real tertentu.
  • SUPEREGO adalah kepribadian kita yang menjadi guardian of value dan moral compass, nilai dan moral yang diambil biasanya dipelajari dari orangtua atau lingkungan. Superego adalah diri kita di tataran ideal. Dia juga yang mempengaruhi EGO untuk bertahan pada nilai dan moral daripada mencari kesenangan dan menghindari ketidaknyamanan semata.

 

Saya nemu gambar unyu buat jelasin konsep ini!

Image result for id ego superego

sumber gambar disini.

 

Nah, posisinya ID, EGO, dan SUPEREGO itu dalam pikiran kita ada dimana?

Image result for id ego superego

Sumber gambar dari Wikipedia.

Ini menggambarkan bahwa dorongan ID itu dari bawah sadar, sedangkan EGO dan SUPEREGO ada mulai dari bawah sadar, pertengahan, sampe alam sadar.

Family of the Self

Kaitannya dengan innerchild gimana? Sabaaaar hehehe.. saya masih perlu nyeritain konsep “Family of the Self” dulu buat nanti jelasin innerchild vs parent dalam diri kita sendiri maupun saat berinteraksi dengan orang lain (anak, pasangan, ortu, teman, dll).

Family of the Self” adalah konsep dari Eric Berne, yang menyatakan bahwa dalam alam pikir manusia itu ada family member ego state yang membentuk satu kesatuan kepribadian seseorang.

Family member ini sebetulnya jalur saraf di otak yang ditempa oleh koneksi kimia sebagai hasil dari pemikiran (thinking), perasaan (emotion) atau tindakan (action) —disingkat T.E.A— yang sama berulang-ulang, dari tahun ke tahun. Bahasa neurosainsnya mah wiring

Sebetulnya, Allah menciptakan mekanisme ini untuk kita jadikan alat saat menghadapi situasi tertentu. Kita bisa memanggil salahsatu dari family member ini sesuai kebutuhan.

Siapa saja family member itu? Yaitu, anak kecil (child), orang dewasa (adult), dan orangtua (parent). Masing-masing punya karakteristiknya.

  • child ego state — perilaku, keyakinan, pikiran, dan perasaan kita yang dikopi atau mengadopsi dari pengalaman masa kanak-kanak, atau usia sebelumnya, atau pengalaman masa kini.
  • adult ego state — perilaku, keyakinan, pikiran, dan perasaan kita yang merupakan respon langsung dari situasi saat ini sebagai diri kita yang dewasa
  • parent ego state — perilaku, keyakinan, pikiran, dan perasaan kita yang dikopi atau mengadopsi dari orangtua, atau figur yang dituakan, termasuk kakak, pembantu, babysitter yang mengasuh kita dulu, paman, tokoh, guru, teman yang berpengaruh, dll.

 

Idealnya, innerchild dan innerparent yang bahagia mendukung sosok dewasa kita sehat lahir batin seperti gambar di bawah ini.

Sayangnya, pengalaman hidup tidak menyenangkan yang tidak membuahkan kebijaksanaan justru membuat kacau sistem ini. Ketiganya saling mengkontaminasi, sehingga kita yang adult pola pikir dan sikapnya bisa dipengaruhi oleh innerchild dan innerparent.

Mengasuh dan Tumbuh Bersama Innerchild

Buat menjelaskan kekacauan sistem ini, saya perlu memberikan gambar functional ego state dulu dan sifat spesifik masing-masing. Ini dia… Parent ada dua sifat spesifik, yaitu yang gemar mengkritik (critical parent) dan yang senang mengasuh (nurturing parent). Adult tidak ada pembagian, sedangkan Child dibedakan lagi dengan Free, Rebel, dan adapted child. 

Image result for ego states

Contoh kekacauan sistem yang terjadi seperti ini :

Situasi : anak menumpahkan makanan
Yang terjadi:

Innerchild mesabotase si adult dalam diri kita dengan merasa bahwa anak kita menyianyiakan makanan yang kita buat susah payah. Lalu, kita marah-marah (respon si rebellious child). Namun, dalam sekian waktu innerparent mesabotase juga dengan mengkritik diri kita sendiri, “kamu kok jadi ibu kasar begitu, kamu ga becus banget jadi ibu” (respon si critical parent).

Merespon kehadiran innerchild yang vulnerable dan angry agar kita menjadi tuan bagi diri kita sendiri :

Si Adult dalam diri kita mengendalikan situasi dengan tidak menghakimi anak kita dengan pikiran “menyianyiakan makanan”. Reality based aja, tangkap bahasa tubuh anak. Jika ia terlihat terkejut, sudah pasti dia tidak sengaja. Jika ia terlihat senang, mungkin dia sedang menjadi “little professor”.

Lalu panggil nurturing parent dalam diri kita dengan sapa perasaan anak berdasarkan bahasa tubuh yang kita baca. “oooo adek ga sengaja tumpahin makanan ya? kaget ya makanannya tumpah?” atau “wahhh anak ayah lagi belajar hukum gravitasi? anak bunda sedang apa ini?”. 

 

Contoh di atas bisa diaplikasikan untuk P3K ketika menghadapi kejadian tak terduga sehari-hari. Mudah-mudahan dengan sering praktek, sumbu kita jadi tambah panjang, ehehehe.

 

Contoh 2 untuk interaksi dengan sesama orang dewasa.

Situasi : suami terlambat pulang tidak memberi kabar. Istri panik, khawatir, sekaligus kesal. Ego state istri jelas-jelas sedang jadi rebel child (kadang dalam sepersekian detik berubah juga jadi critical parent).

Akan terjadi chaos jika saat pulang istri sudah marah-marah, suami justru menggunakan rebel child atau critical parent juga dengan protes “kenapa sih harus marah-marah? Suami pulang bukannya disambut. Nanya dulu kek, ga usah nuduh-nuduh”. 

Suasana akan mendingin jika suami memanggil nurturing parentnya dengan mengatakan, “Adek khawatir ya? Maaf tadi hapenya keburu mati”. 

 

Membaca ego state orang lain lalu memilih ego state yang tepat untuk meresponnya adalah salahsatu kunci merespon kehadiran innerchild agar kita menjadi tuan bagi diri kita sendiri, dan ini merupakan keterampilan yang perlu dilatih. 

Teorinya sih gampang, wkwkwk. Intinya, setelah tau teori ini, banyak praktek aja yuuuuk.. dikit-dikit aja. Slogan “sing waras ngalah” udah bener banget deh.

 

Oia, biar ga berkecil hati kalo belum berkesempatan ikutan workshop atau konsultasi sama psikolog dan terapis, saya mau bilang bahwa salah satu inti dari self healing memang remodelling, alias mencari, mengimitasi, membentuk model perilaku yang baru hingga kita nyaman dan menjadi kebiasaan otomatis alias praktek langsung respon-respon yang bener seperti apa.

Dalam neurosains disebut “rewired” atau pengkabelan jalur baru saraf di otak sehingga ga pake sistem error T.E.A-nya family member of the self. 

Sedangkan yang orang-orang pikir sebagai trauma healing atau healing innerchild buat diri sendiri agar tidak lagi terpengaruh innerchild bermasalah itu, di tulisan ini masih belum saya bahas.

Dalam neurosains trauma healing atau healing innerchild semacam itu disebut “unwired” atau memutus kabel lama di jalur saraf di otak agar ga dipake lagi. Namun, ini di bahas di tulisan lain aja ya.. biar fokus hehe.

 

Iyaaa.. kunci self healing mah unwired dan rewired aja kok.. mana weh duluan yang bisa dikerjain. hehehehe

 

Oia, buat bonus bisi ada yang penasaran innerchild yang creative, playful, spiritual, vulnerable dan angry asalnya dari mana, silakan lanjutkan bacaan. Kalo ga penasaran cukup sampai sini yaa..

Image result for ego states

Jadi, Child kan tadi sifatnya ada 3, free child, adapted child, dan rebel child. Free child ini terdiri dari creative dan playful child. Adapted child ini yang spiritual child. Nah, yang vulnerable dan angry dari mana? Dia ngumpeeeeeet di dalam sub ego state.

Jadi di dalam child ego state itu ada sub ego state sehingga ada parent’s child, adult’s child, dan child’s child. Nah, vulnerable dan angry child itu ada di parent’s child barengan sama critical parent of parent’s child. wkwkwk.

Image result for ego states

 

2 Comments

  1. Pingback: Mengasuh dan Tumbuh Bersama Innerchild -part 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *