Pengalaman Hidup dan Sekumpulan Data

Saya seringkali dihantui khawatir setiap kali menengok masa lalu. Fasilitator saya saat ST (Self Transformation) dulu bilang, masa lalu itu seperti spion. Keberadaannya bermanfaat, namun cukup dilihat sekali-sekali saja.

Saat dia bilang itu pada saya (tahun 2010), saya protes! Hahaha.. Saya pikir dia tidak menakar berapa derajat khawatir yang saya rasakan akibat melihat spion. Dulu yang saya inginkan adalah : pecahkan saja spionnya, hahaha!

7 tahun berlalu, apakah saya masih ingin memecahkan kaca spion itu? Nggak laaaa. Saya sudah menjalani ribuan pengalaman.

Hikmah itu mengkristal ketika kemampuan saya menjadi ibu diragukan oleh seseorang atas dasar masa lalu saya. Para ahli bilang, orang yang besar dengan cubitan akan menjadi ibu pencubit. Orang yang besar dengan emosi tidak stabil, akan menjadi ibu yang emotionally unstable.

Tidak sepenuhnya salah, ini memang teorema umum jika orang tersebut merasa tidak ada yang salah dengan dirinya sehingga tidak melakukan perbaikan.

Dalam konteks neurosains, hal ini disebut wiring, yaitu jalur saraf di otak yang ditempa oleh koneksi kimia sebagai hasil dari pemikiran (thinking), perasaan (emotion) atau tindakan (action) —disingkat T.E.A— yang sama berulang-ulang, dari tahun ke tahun.  Wiring terkuat akan otomatis dipakai jika situasi emosi yang mirip terjadi.

Gampangnya gini deh.. anggap saja di otak kita itu banyak sekali kabel dan stop kontak. Setiap kejadian yang membekas, punya stop kontak dan kabelnya sendiri-sendiri. Kejadian A, punya stop kontak dan kabel A. Kejadian B, punya stop kontak dan kabel B. Nah, jika kita mengalami pengalaman mirip kejadian A, besar kemungkinan otak menyalakan stop kontak A. Inilah mengapa kecenderungan yang terjadi adalah pengasuhan itu dituruntemurunkan. INGAT : kecenderungan. 

Saya bold karena inti tulisan saya adalah tentang ini. Kecenderungan artinya mengarah kesana jika tidak ada daya untuk mengubahnya.

Allah Mahabaik, ia beri otak manusia kemampuan luar biasa. Meski Ia menciptakan konsep “wiring” sebagai mekanisme alamiah, namun manusia yang diciptakanNya sebagai makhluk paling sempurna diberiNya pula kemampuan “unwire”. Yaitu memutus jalur saraf di otak yang telah terbentuk itu dengan usaha.

Allah ciptakan otak manusia bersifat plastis, alias secara struktur bisa berubah. Di sini lah letak kasih sayang Allah, Ia sediakan ruang taubat itu sejak menciptakan apa yang ada dalam tempurung kepala. Saya jadi terharu deh, betapa Allah itu ingin kita terus menjadi baik setiap hari, itu pun kita udah dimodalin.

Kaitannya dengan judul, jika memang pengalaman hidup adalah sekumpulan data, kita tidak bisa menyederhanakan begitu saja data-data itu dalam suatu persamaan y = mx + c lalu diregresikan dalam satu kurva regresi linier. Jika x segini, maka y segitu. Ga bisaaaaa.. Jika anak kurang gizi, nanti dia jadi bodoh. Jika anak terlalu dini diajarkan bilingual, nanti dia speech delay. Jika anak dibiarkan baca komik, nanti dia ga suka buku teks. Jika begini maka begitu.

Hasil gambar untuk linear regression equation
Ndak bisa disederhanakan kayak gini yaaa

Pengalaman hidup manusia, setiap datanya punya penghayatan dan makna yang berbeda. Jatuh hari ini dengan jatuh kemarin lusa penghayatan dan maknanya bisa beda, padahal sama-sama jatuh.

Hasil gambar untuk data information knowledge

Jadi, untuk pengalaman hidup manusia tuh ‘regresi’ yang benernya kayak gini… Semakin dalam kesadaran hati dan semakin luas cakrawala pikir orang tersebut atas semua pengalaman hidupnya, kelak data-data itu akan menjadi kebijaksanaan yang bermanfaat dalam mengambil keputusan hidup.

Dalam konteks ini, otak akan memberikan penilaian mana data yang penting dan bermakna (dan apa maknanya), mana yang tidak. Mana data yang maknanya berkaitan, mana yang tidak. Kemampuan ini diperlukan dalam proses unwired dan rewired. Memutus rantai kesalahan pengasuhan, dan mencari model pengasuhan yang baik untuk ditiru.

Jadi, apakah orang yang diasuh dengan cubitan akan menjadi ibu pencubit? Tidak, jika ia mau memutus rantai kesalahan pengasuhannya.

Lalu, apakah orang yang diasuh dalam ketidakstabilan emosi akan menjadi orangtua yang tidak stabil secara emosi? Tidak, jika (kata teh Yeti mah) ia terus berlatih mengARTIKULASIkan emosinya : menyebut NAMA emosi, apa yang diPIKIRkan, diRASAkan, ingin diLAKUkan dan diBUTUHkan.

Gimana cara memutus rantai kesalahan pengasuhan itu? Kita bahas di lain tulisan yaa

3 Comments

  1. Pingback: Mengasuh dan Tumbuh Bersama Innerchild -part 3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *