Mengasuh dan Tumbuh Bersama Innerchild -part 2

Bismillahirrahmanirrahim

Beberapa waktu lalu saya diserang insecure, mempertanyakan kemampuan diri sendiri apakah bisa jadi ibu yang baik buat anak saya (baca : mampu memutus rantai kekerasan dalam pengasuhan). Vulnerable child dan angry child saya juga sedang minta perhatian, meski ga sampe kenapa-kenapa juga.

“Kamu teh kenapa?”, kata seorang teman saat saya mulai tanya-tanya soal PAUD di sekolah tempat saya ngajar dulu. Saya lebih percaya kemampuan guru-guru disana (daripada diri saya sendiri). Kebetulan saya ditawari mengajar lagi di level SMA hahaha.

Perasaan ini ga bisa diabaikan, saya pikir. Saya perlu melakukan sesuatu. Seperti yang udah saya bilang di tulisan sebelumnya, bahwa untuk memutus rantai kekerasan dalam pengasuhan itu ada dua cara :

  • unwired, yaitu tidak menggunakan lagi atau tidak mengulang cara pengasuhan yang tidak diinginkan agar jalur saraf lama di otak tentang itu perlahan terputus
  • rewired, yaitu mencari dan mempraktekkan model pengasuhan yang baik untuk ditiru agar terbentuk jalur saraf baru tentang pengasuhan cara baik itu di otak

Unwired dulu, atau rewired dulu?

Tidak bisa pilih satu, kecuali jika masih single masih bisa fokus unwired dulu. Namun, jika anak sudah di depan mata, dua-duanya berkejaran dengan tumbuh kembang anak kita.

Dalam kondisi emosi terkendali, proses unwired lebih mudah dikerjakan. Namun, ketika situasi “panas”, tubuh kita yang dewasa tiba-tiba diperbudak oleh hasrat, kemarahan, keinginan, kebutuhan, dan ketakutan, innerchild yang vulnerable dan angry. Sehingga, cara kita bergerak, cara kita berpikir, cara kita berespon, sangat dipengaruhi oleh innerchild yang vulnerable dan angry.

Proses unwired dan rewired ini saling mendukung. Untuk bisa unwired, butuh alternatif cara baru agar tidak mengulang cara lama. Jelas saya butuh cara baru agar saat muncul situasi “panas”, saya bisa bergerak, berpikir, dan berespon dengan sabar, sadar, dan tenang.

Masalahnya, role model saya tentang “sabar”, “sadar”, dan “tenang” tuh dikiiiiiiiiiiiiiiit. Dari yang dikit itu, model “sabar” dan “tenang”nya juga cocoknya untuk diaplikasikan dalam menghadapi orang yang lebih punya otoritas dibanding kita. Sedangkan, dalam pengasuhan, otoritas itu justru di tangan kita (sebagai orangtua).

Mencari Role Model untuk Rewired

Lalu, dari mana saya dapat model baru untuk rewired? Akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya ke teteh-teteh bageur di grup ITBMotherhood. Lebih tepatnya minta cerita pengalaman (boleh diri sendiri, orangtua, atau kenalan) yang berhasil mengasuh dan tumbuh bersama innerchildnya. Berhasil maksudnya tidak meneruskan rantai kekerasan dalam pengasuhan, bahkan mengubah kualitas pengasuhan menjadi lebih baik.

Saya bersyukur banget tehteteh meuni humble, dan meski ga semua yang sharing udah berhasil, namun semangat perbaikan itu sangat terasa. Merasakan semangat mereka aja, bikin saya jadi semakin terpacu juga. Beginilah memang kekuatan sebuah komunitas (support group). Mendengar banyak pengalaman dari mereka, saya jadi ingin membagi juga disini. Saya sudah minta ijin ke semua yang sharing dan alhamdulillah diijinkan.

Insight yang saya dapat dari tehteteh kece itu meliputi kesadaran diri atas posisi kita sebagai hamba, sebagai anak, sebagai ortu, sekaligus sebagai diri. Disclaimer : tulisan ini lebih fokus pada proses rewired, bukan unwired (meski ada dicolek-colek dikit).

Memutus Rantai Kekerasan dalam Pengasuhan

Sebagai Hamba
Menerima takdir dengan rasa syukur

Beberapa waktu lalu saya mendengar kajian Ustadz Hanan Attaki bertema “Tazkiyatun Nafs”. Beliau mengatakan pangkal penyakit hati dari semua penyakit hati adalah tidak percaya pada Allah. Tidak perlu menjadi atheist untuk tidak percaya Allah. Menyesalkan dan tidak menerima takdir hidup yang Allah gariskan atas diri kita, sudah cukup membuat kita menjadi hamba yang tidak percaya pada Allah. Bukankah tidak ada satu kejadianpun di dunia ini kecuali dengan sepengetahuan dan seijin-Nya?

Suatu hari, suami saya pernah bilang, “sepahit apapun suatu episode hidup kita alami, sejatinya selalu kasih sayang Allah, landasannya Allah ga pernah dzalim sama hambaNya. Bukan soalan sempit dan lapang, asal kita bisa menikmati berkah dari kesempitan dan kelapangan itu“. Saya masih ngangguk-ngangguk bloon.

Sampai suatu hari saya dapat insight usai merenung cuci piring, “Cuy, setelah dipikir-pikir, bener ya peristiwa pahit teh kasih sayang Allah. Bukankah setiap ujian dan masalah itu pencuci dosa dan penambah pahala kalo kita menyikapinya seperti yang Allah mau? Orang shaleh yang hidupnya banyak ujian, bisa-bisa dosanya dikit dan pahalanya banyak hehehe“. Suami saya nyengir.

Percaya Allah Mahaadil

Ini adalah mantra yang saya rapal sejak piyiiiiiiiik, SMP kayaknya. Saya selalu percaya kalo Allah ambil atau ga kasih kita satu hal, artinya kita dikasih hal lain yang sama baik atau lebih baik. Kalo Allah ga kasih keluarga yang hangat, Allah kasih sahabat yang dekat. Kalo Allah ga kasih ortu yang layak digugu, Allah kasih sosok lain untuk ditiru.

Biasakan diri dengan dzikir dan tilawah

Masih dari ceramah Ustadz Hanan Attaki, kali ini sang istri (Ustadzah Haneen Akira) yang bilang bahwa obatnya luka batin itu dzikir. Katanya, asalnya hati adalah langit, maka obatnya pun dari langit. Bukankah, dengan mengingat Allah hati kita menjadi tenang?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’d: 28)

Saya udah rajin dzikir, kok masih ngerasa berat sama pengalaman-pengalaman menyakitkan itu ya? Kata Ust Hanan mah itu artinya dzikir kita masih gombal. Kalo hati kita bener-bener menghayati lisan kita, PASTI hati kita tenang. Itu sudah ucapan Allah sendiri yang menjamin.

Lalu, jadi ingat kajian akhir zaman yang menceritakan bahwa masa dukhan hingga datangnya dajjal itu adalah masa paceklik panjang hingga sulit sekali orang bertahan hidup. Manusia dan hewan ternak banyak yang mati. Namun, laparnya orang beriman terpenuhi hanya dengan kalimat dzikir. Dzikir bikin kenyang!

Perbanyak Istighfar, Minta Ampunan Allah

Nyambung dengan bahasan di atas tentang percaya pada Allah, istighfar adalah respon yang Allah inginkan dari kita agar Ia punya alasan mengampuni perbuatan kita. Iya, bahkan datangnya musibah yang kita alami, yang secara letterlijk dikatakan tersebab perbuatan kita sendiri, bukan karena Allah ingin menghukumi kita, tapi Allah ingin mengampuni kita.

Nah, kalo misalnya pasangan kita nyebelin banget, kita tuh pengen dia minta maaf atas kesalahannya, lalu dia melakukannya. Apa yang kita rasakan? Seneng banget kan? Allah juga gitu. Seneeeeeeng banget. Kalo Allah seneng banget sama kita, insyaAllah kita akan dihujani petunjuk demi petunjuk sepanjang hidup kita (biar ga kejebur ‘got’ mulu).

Saya pengen temen-temen buka tafsir ayat di bawah. Kalo baca selewat seakan-akan Allah mau menghukum karena kita bersalah, ternyata bukan gitu maksudnya. Tukan, kata suami saya mah, “jangan pernah gagal untuk percaya bahwa kasih sayang Allah itu SELALU mendahului murkaNya“.

وَما أَصابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِما كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ كَثِيرٍ

“Dan segala musibah yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian. Dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan kalian)” (QS. Asy-Syuuraa: 30).

Trus, saya baru dapet insight, kudu belajar mengaplikasikan ayat ini dalam kehidupan, terutama dalam tema-tema memaafkan. Padahal Pak Asep udah bilang, sulitnya kita memaafkan bukan karena rasa marah yang membuncah. Tapi karena hilangnya kasih sayang dari ruang hati kita, seperti hilangnya cahaya sehingga hadirlah gulita.

Memohon pada Allah agar diri kita dibimbing langsung oleh-Nya

Allah adalah muara segala kebaikan. Sabar, tenang, kasih sayang, ridha, hidayah, you named it. Kalo kita ingin itu semua, kenapa kita ga minta sama Yang Punya? Sesungguhnya, sekeras apapun usaha kita untuk sabar, untuk tenang, untuk ridha, akan sia-sia jika Allah tidak memberikan. Makanya, Pi… jangan menuhankan ikhtiar. Plak!

Saya jadi ingat doa yang tidak sengaja saya dengar dilantunkan oleh AaGym, bukan doa spesial sih, dzikir pagi dan petang.. cuman saya aja yang kurang gaul XD

Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits, wa ash-lihlii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan”

Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dari-Mu selamanya.” (HR. Ibnu As Sunni, Sanad Hasan)
Doa ini menunjukkan betapa diri kita lemah, bahkan menolong diri sendiripun tidak bisa. Jangankan menolong diri sendiri, mengatur apa yang ada di dalam dada pun tidak bisa. Seperti yang Allah firmankan dalam Surat Al-Anfal Ayat 24 :

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan“.

 

sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya“, seperti dalam tafsir Fi Zhilalil Quran karya Sayyid Quthb, dituliskan, “Betapa menakutkan gambaran tentang kekuasaan yang nyata tapi halus ini. Membatasi antara manusia dan hatinya, lalu memisahkan, menguasai, dan menghalangi, memperlakukan bagaimana saja Dia inginkan, dan membolakbalikkan bagaimana saja Dia kehendaki. Pemiliknya tidak berkuasa sedikitpun terhadapnya, padahal hati itu adalah hatinya sendiri yang ada di dadanya“.

Di bagian ini saya merasa ketampar-tampar. Iya ya, berapa lama waktu yang saya butuhkan hanya untuk menerima dan memaafkan satu momen tertentu, hanya karena saya tidak memohon diberi hati yang memaafkan. Saya teruuuuuus saja berusaha memaafkan, yang kemudian lukanya kumat lagi kumat lagi, karena saya gombal abis dalam berdoa, terutama untuk poin yang ini.

Menyuburkan Pohon Takwa

Manusia terlahir dengan dua benih fitrah, yaitu benih fujur dan benih takwa. Dalam Asy-Syams: 8, “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.

Selain itu, Allah semayamkan qalbu dalam jiwa manusia sebagai tempat tumbuh dua benih itu. Benih fujur akan subur dalam qalbu yang kotor, penuh dengki, amarah, dan kemurkaan. Sedangkan benih takwa akan lebat dalam qalbu yang sehat, bersih, penuh kasih sayang, dan keridhaan.

Petani yang cerdas tentu akan mengerdilkan benih fujur dan menyuburkan benih takwa hingga menjadi pohon yang lebat. Caranya? “sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan merugilah orang yang mengotorinya.” As-Syams : 9-10.

Namun, betapa sulitnya menilai kesucian jiwa. Mahabaik Allah, Ia memberitahu kita cara menilainya dengan mengidentifikasi apakah takwa kita menjadi pohon yang lebat.

Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan izin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” QS Ibrahim : 24-25

Buah adalah apa yang bisa dinikmati orang yang ada di sekitar pohon itu, buah takwa tak lain adalah akhlak yang mulia. Bagaimana akhlak kita pada pasangan, pada anak, pada orangtua, pada tetangga, pada sahabat, pada kerabat, pada masyarakat?

Selain itu, buah takwa adalah ilmu. Ilmu dapat mengubah diri dan masyarakat dari jahil menjadi iman. Ilmu dapat melembutkan hati dan menggerus sifat sombong dalam dada. Ilmu, kata Ibu RA Kartini, mengantarkan manusia dari kegelapan pada cahaya terang. Jadi, berilmulah dan sebarkanlah ilmu. Ia tak hanya menjadi pelembut hatimu, ia juga menjadi tabungan jariyahmu.

Lalu, buah yang lainnya adalah amal. Betapa banyak amal islam yang berkaitan langsung maupun tak langsung dengan kehidupan sosial. Katakanlah pengharaman khamr, amalan ini menghindarkan terjadinya kejahatan. Atau sholat? Allah sudah menjamin barangsiapa yang baik sholatnya, baik pula akhlaknya.

Kejarlah terus hidayah Allah, Rasul mengatakan hidayah itu laksana hujan yang membersihkan.Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu (al-Qur’an) dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada (hati manusia), dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Yuunus: 57).

Mulai saat ini, luangkan waktu untuk mendengarkan kata hati. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari jawaban, sehingga tidak punya waktu untuk mendengar jawaban itu padahal ia sudah ada di dalam sana.

Ga kerasa udah hampir 1800 kata, artinya udah panjang banget padahal masih ada bahasan bagaimana cara memutus rantai kekerasan dalam pengasuhan dengan kacamata sebagai anak, sebagai ortu, dan sebagai diri. FYI, saya nulis yang bagian “sebagai hamba” ini lumayan lama. Jadi daripada kelamaan jadi draft atau kehapus kayak kejadian kemarin (wkwkwk, iya, kemarin udah dapet 5 paragraf panjang trus kehapus bayi), bahasan lainnya menyusul yaa..

Doain dikasih kelapangan waktu dan keefektifan mengurusi hidup yaa.. Akhirul kata, semoga Allah selalu memberkahi kita hidayah yaa 🙂

3 Comments

  1. Dhara

    Ooo mangkanya pipi. Kata alvan pradiansyah memaafkan itu kuadran langit, perlu energi Tuhan untuk melakukannya.

    Amiiin…. semoga pipi dimudahkan urusannya dan dapat berbagi ilmu….

  2. Dianingbanyuasih

    Teh pipi aku ga bisa bicara apa2 lagi,yang aku sadari aku banyak ga ikhlas dengan ketentuan Alloh dan sering mempertanyakan kenapa we terus….yang akhirnya membuat aku semakin jauh dari Alloh terimakasih diingatkan untuk kembali memerbaiki hubungan dengan Alloh,dzikir,doa tilawah tadabbur dan tafakur asa udah lama ga ngelakuin ini semua….benar2 ngandelin ikhtiar da asanya mah semuanya akan bisa terwujud hanya karena ikhtiar…..teh pi ditunggu tulisan berikutnya…

  3. Pingback: Mengasuh dan Tumbuh Bersama Innerchild -part 3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *