Mengasuh dan Tumbuh Bersama Innerchild -part 3

Bismillahirrahmanirrahim

Meneruskan tulisan yang lalu, tentang cara memutus rantai kekerasan dalam pengasuhan melalui proses rewired, tulisan hasil olah sharing dengan teteh-teteh bageur di grup ITBMotherhood kali ini akan banyak membahas bagaimana seharusnya diri kita sebagai anak bersikap kepada orangtua kita sendiri, sehingga kita berhasil memutus rantai kekerasan dalam mengasuh anak kita dan tumbuh bersama innerchild diri kita ke arah yang lebih baik.

Apa kaitannya?

Ada orang-orang yang ketika menyadari dirinya memiliki vulnerable child dan angry child yang belum damai, yang disalahkan adalah orangtua. Gara-gara mereka saya begini, gara-gara ayah saya begino, gara-gara mama saya beginu.

Saya pernah juga ngerasa gini, dulu waktu masih kuliah tingkat dua apa semester dua ya. Waktu itu saya ultah ke-17, trus sholat lama di mushola Matematika. Biasa lah, ultah teh momen introspeksi kan. Nangis aja gitu, menyesalkan kenapa saya jadi orang yang minderan dan haus pengakuan orang gara-gara ortu memperlakukan saya begini dan begitu. Wkwkwk. Ble’e yah 😀

Saya ga nyesel juga sih pernah ngerasa gitu, saya perlu sampe ‘maqom’ itu agar saya tau bahwa untuk survive, sama sekali ga butuh pengakuan orang lain, termasuk orangtua sendiri, cukup Allah..

Nah, perjalanan menuju sadarnya itu rasanya perjuangaaaaaaaaaaaan banget. Antara enak dan ga enak sih. Enaknya, saya jadi ngerasa bisa melempar kesalahan dan tanggungjawab ke ortu atas hal buruk yang menempel dalam diri saya. Asli, playing victim itu enaaaaakkkkkk.. Di sisi lain, ngerasa durhaka banget gitu lhoooo.. ga enak banget kan.

Oke, back to topic.

Jadi, bagaimana seharusnya diri kita sebagai anak bersikap kepada orangtua kita sendiri, sehingga kita berhasil memutus rantai kekerasan dalam mengasuh anak kita dan tumbuh bersama innerchild diri kita ke arah yang lebih baik?

Memaklumi dan memaafkan ortu atas kekurangannya

Saya jadi inget waktu pak Asep ngasih materi Healing Innerchild Within, beliau bilang memaklumi dan memaafkan itu beda. Memaafkan itu melibatkan ilmu.

memaklumi → ibu saya tidak punya ilmu parenting, jadi saya tidak akan mempermasalahkan kesalahan perlakuannya pada saya

memaafkan → dia tau banget psikologi manusia, tapi kenapa dia memperlakukan saya seperti ini?

Memaafkan lebih sulit daripada memaklumi. Jadi, tips move on dari kesalahan pengasuhan ortu kita adalah, maklumi aja lah.. ga perlu dibawa-bawa ke memaafkan.

Saya pernah nulis kalimat pak Asep itu di status FB saya, lalu saya dapat respon yang menarik.

Ada yang bilang, kalo cuma sampe memaklumi, ga tuntas dong? Itulah kenapa pesan pak Asep adalah kalo ortu kita itu “ga punya ilmu” yang benar tentang pengasuhan, make it simple, jangan dibawa rumit ke memaafkan.

Sewaktu saya baru melahirkan, Mama saya datang. Saya dan Mama jarang sekali ngobrol mendalam membahas masa lalu. Namun, 3 hari beliau di rumah saya adalah salahsatu waktu terbaik yang saya miliki. Saya dan Mama ngobrol dari hati ke hati, mulai dari sama-sama teriak (wkwkwk, jangan dicontoh) hingga sama-sama tenang dan bisa benar-benar bicara dan mendengar.

Satu hal yang akan terus saya teladani atasnya adalah keberaniannya mengatakan kekurangan diri. Mama saya dengan wajah merasa bersalah bilang, “Maafin Mama ya Neng, Mama ini bodoh. Ga sempat belajar jadi ibu kayak kamu. Ambil yang baik dari Mama, jangan dicontoh yang jelek-jeleknya. Kamu itu anak Mama yang dari kecilnya susah, tolong jagain ya Husnan.” Meleleh ga? wkwkwk

Sebetulnya sejak bertahun-tahun lalu, saya sudah memaklumi dan memaafkan Mama saya atas pengasuhannya pada saya. Cirinya, saya kalo disuruh cerita pengasuhan saya waktu kecil udah ga ngerasa kasuat-suat gimana gitu. Biasa aja, bersyukur malah. Kalo masih ada rasa nyeredet, itu tanda belum selesai.

Masa-masa itu saya sedang marah ke Mama karena melanggar perjanjian (Mama dan adik saya ada sesuatu lah). Tapi, setelah Mama mengakui kelemahan dirinya, maklum saya makin besaaaaar. Saya marah ke Mama karena masalahnya dengan adik saya teh berbulan-bulan lho karena ga diomongin, tapi setelah maklum, pemaafan bisa langsung sedetik selesai. Ga repot.

Memaklumi bukan berarti membenarkan kesalahan seseorang, hanya harap maklum ada anjing galak aja, ga membenarkan anjing galak berkeliaran hehehe.

Mau ngutip dari bukunya Pak Asep Haerul Gani, Forgiveness Therapy (bisi ada yang nanya gimana cara dapet bukunya, saya ga tau apa ini bisa beli, saya dikasih buku ini saat ikut workshop dengan judul yang sama) :

MEMAAFKAN MELAMPAUI :
1. Menerima apa yang terjadi
2. Menunda kemarahan
3. Bersikap netral terhadap orang lain
4. Membuat diri sendiri merasa lebih baik

MEMAAFKAN BUKANLAH :
1. Memaklumi
2. Melupakan
3. Memberi pembenaran
4. Menenangkan
5. Memaafkan palsu dengan menyatakan “saya memaafkanmu”
6. Memaafkan TIDAK SAMA dengan tidak mengadili
7. Memaafkan TIDAK SELALU harus diiringi dengan perdamaian

Jadi memang beda antara memaafkan dan memaklumi. Contoh kasus, masalah saya sama seseorang yang menurut saya dia punya ilmu yang mumpuni manusia itu seperti apa. Pak Asep bilang, ada kata “harusnya” yang bercokol di dada saya sehingga pemakluman ga diberikan pada orang itu. Harusnya dia tau cara bersikap dan bicara yang seperti itu akan membuat orang terluka. Nah, karena ada “harusnya” ini, memaafkan jadi labih susah kan dari memaklumi?

Apakah saya udah berhasil memaafkan? Kalo jawabannya biner, belum T-T. Alhamdulillahnya pemaafan itu rentang, proses penghayatan lah yang bisa menjawab dari skala 0-100%, yaaa 70% lah saya mendekati pemaafan. 30%nya masih butuh jarak.

Ada yang bilang, “time will heal”Kenyataannya ga bisa, emosi bermasalah yang masuk alam bawah sadar justru lebih bahaya, bisa jadi kesumat (penyakit psikis, sosial, maupun fisik bagi yang menanggungnya).

Pak Asep bilang, memaafkan adalah mengundang kembali rasa kasih dan sayang yang kita biarkan pergi meninggalkan hati kita, sehingga hati kita kosong dan diisi amarah dan rasa sakit.

Oya, perlu saya share juga ga ya soal forgiveness ini di lain tulisan? Teaser dulu aja lah ya wkwk, mumpung pernah bikin quote 😀

Soal memaafkan ini dodol-dodol gimanaaaa gitu. Secara nalar udah tau, secara hati tetep weh hesye.

Pahami, everybody is special and unique

Biasanya, kita menggunakan mantra ini untuk memahami dan memaklumi anak kita. Namun, kadang lupa kita gunakan saat memandang diri sendiri dan orangtua kita. Ini adalah cara yang diajarkan Siaware pada saya.

Saya diajak untuk look in, membaca diri mengapa saya begini dan begitu, oh karena saya diasuh ini dan itu oleh orangtua saya. Lalu diajak mundur, mengapa ortu saya mengasuh saya dengan cara ini dan itu, oh karena mereka hidup dengan cara demikian dan diasuh oleh kakek nenek dengan cara gini gitu. Di ajak mundur lagi terus ke atas yang saya tau.

Di ITBMh, ada yang cerita bahwa orangtua mengasuh teteh itu dengan permisif, karena kakek neneknya pun mengasuh ortu teteh itu dengan permisif. Namun, ada juga teteh yang cerita ortunya mengasuh dengan permisif karena kakek neneknya dulu mengasuh ortu teteh itu dengan keras. Ada juga yang cerita sebaliknya, ortunya mengasuh si teteh dengan keras karena kakek neneknya dulu mengasuh ortu teteh itu dengan permisif, sedangkan uyutnya ngasuh kakek nenek dengan keras.

Begitulah proses belajar manusia, makanya saya bilang di tulisan ini kalo pengalaman hidup itu ga linier, rantai kekerasan dalam pengasuhan bisa diputus dengan unwired dan rewired. Yang kita lakukan sekarang adalah rewired, belajar pola baru.

Jadi, apa yang bisa dilakukan di proses ini? Kudu dikasih PR kayaknya, biar ga cuma paham “everybody is unique” tapi ga sampe perilaku wkwk.

Buat Genealogi Sifat dan Karakter

Saya ambil teknik ini dari kelas Healing Innerchild Within dan Family Therapy yang pak Asep pandu, aslinya membuat genealogi kekerasan yang ingin diputus di tangan kita. Bisa juga ngerjain ini sekalian dengan menuliskan sifat dan karakter anggota keluarga yang menurun pada kita namun tetap ingin dipertahankan.

Hasil gambar untuk family tree

  1. Telusuri perjalanan hidup kita sejak dalam kandungan (jika masih ingat, saya ingat lho) hingga kini. Tulis sifat dan karakter kita apa aja, tentu di tiap tahapan usia ada perubahan-perubahan sifat. Tuliskan saja semuanya. Lalu tulis juga kekerasan yang kita alami. Identifikasi dari siapa sifat, karakter, dan kekerasan itu kita wariskan.
  2. Telusuri perjalanan hidup kedua orangtua kita yang kita ketahui, sejak masa kecilnya hingga ia menjadi orangtua kita kini. Tulis sifat dan karakter mereka. Tulis juga kekerasan yang dialami ayah dan ibu kita apa saja, identifikasi mana yang kita warisi. Mana yang mau dipertahankan, mana yang akan diputus.
  3. Lanjutkan terus ke atas untuk kakek nenek dan buyut

Cara ini bermanfaat untuk menginventarisasi sifat, karakter, dan jenis-jenis kekerasan yang diwariskan turun temurun. Di tangan kita lah inventaris itu akan digunakan untuk apa.

Setelah kita memahami sifat dan karakter ortu, dan kaitannya dengan sifat dan karakter kakek nenek, diharapkan peluang pemakluman dan pemaafan menjadi lebih besar. Kita jadi bisa lebih berempati atas kekurangan orangtua serta menerima mereka dengan lebih manusiawi, bukan malaikat yang sempurna. Jika kita yang menjalani peran hidup mereka, tidak ada jaminan diri kita akan lebih baik dari mereka bukan?

Setelah kita mengetahui jenis kekerasan yang turun temurun, keputusan ada di tangan kita apakah akan diteruskan atau akan didamaikan.

 

Menjauh Secukupnya Jika Ortu Menuntut Kesempurnaan

Ini tips kece dari sohib saya, bu Indri Ayu Lestari. Berlaku untuk semua yang menuntut kesempurnaan sih, bukan hanya ortu. Menjauh secukupnya, bukan berarti tidak menjaga silaturahim (plak!). Kata bu Inday, menjauh dari tuntutan tidak melulu dalam bentuk lahiriah. Menjauh ini maksudnya membuat batasan mana komentar yang perlu didengar, mana masukan yang perlu diwujudkan, dan mana tuntutan yang perlu disesuaikan. Intinya membuat filter, dasarnya visi misi keluarga.

Kebayang ga kalo keluarga ga punya visi misi?

Oya, ini juga berlaku saat kita belum punya anak atau belum menikah. Ga jarang ortu yang mengarahkan kuliah jurusan apa, abis lulus kerja dimana, setelah punya anak kerja atau enggak. Yang terakhir ini biasanya masalah laten.

Saya belajar jadi “kodok budek” waktu SMA. Tau cerita kodok budek ga? Jadi, di suatu olimpiade kodok, ada perlombaan memanjat suatu menara yang tinggiiiiii banget buat mereka. Penonton sejak awal udah berkomentar ga akan ada kodok yang sanggup ke puncak menara. Pasti kelelahan sebelum sampai di atas. Riuh lah pokoknya, “waaa tinggi banget, ga mungkin ada yang menang”, “ah taruhan kalo ada yang menang mah”, “paling sampe tengah juga pada kecapean”.

Dimulailah perlombaan itu, dan benar saja. Banyak sekali kodok yang berguguran dan kelelahan. Namun, semua mata tertuju pada satu kodok yang lompatannya stabil. Kelihatan kelelahan tapi dia bisa ngatur diri. Penonton semakin riuh dan mulai terdengar decak kagum ketika kodok itu semakin mendekati puncak. Sorak sorai bergema, tibalah kodok itu di puncak. Ia menjadi pemenang.

Setelah penyerahan medali, para wartawan bertanya, “kekuatan apa yang membuatnya bertahan?”. Kodok itu hanya tersenyum, dia melihat ke arah penerjemah dan memberi isyarat, “saya tuli”. Kodok itu menang karena tidak mendengar komentar-komentar yang menjatuhkan mental.

SMA saya cuma SMA kampung. Sebulan les bareng anak-anak SMA favorit, kerjaan mereka selalu menjatuhkan mental anak kampung. Lulusan SMA saya yang masuk universitas negeri sedikit. ITB? cuma dua orang, 4 tahun di atas angkatan saya. Sebelumnya dan setelahnya, belum pernah ada lagi wkwk. Guru meragukan. Duit ga punya. Mama pengen saya ke STAN. Tapi saya yakin sama hasil istikharah saya.

Sekarang saya udah jadi member ITBMotherhood (salahsatu hal yang paling saya syukuri dari takdir masuk ITB adalah berteman dengan orang hebat yang humble).

Si anak SMA favorit yang sekelas pas les? Ga ada yang lolos SPMB :p

Gimana saya menyikapi keinginan Mama? Saya tetep tes STAN, tapi ga seniat ngerjain soal SPMB. Alhamdulillah saya ga lolos, hehehe. Saya tetep tes karena komunikasi mah udah failed. Tetep harus tes dulu, ceunah.

Nah, kebayang ga kalo hidup ga jelas tujuan? XD

Kalo ada konflik antara tujuan hidup atau visi misi keluarga dengan tuntutan eksternal (termasuk dari ortu), gimana? Yaaa komunikasikan baik-baik laaa

 

Berdoa Mohon Kelembutan Hati Agar Bisa Memintakan Ampunan Allah Bagi Kedua Orangtua

Mampu mendoakan orang yang menyakiti dengan tulus adalah bentuk datangnya kasih sayang, yang insyaAllah menggantikan amarah dalam diri kita. Pak Asep bilang (kuping pak Asep panas siga na disebut2 terus wkwk), amarah itu kayak gelap, dia akan hadir kalo cahaya ga hadir. Cahaya itu adalah kasih sayang. Jadi, untuk meniadakan gelap, datangkan cahayanya 🙂 *ngomong aja gampang wkwk. Syemangat! Nih, dikasih semangat… Al Imran: 159

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Dulu, jaman saya masih ababil (dan belum move on), saya selalu doain seseorang (well yah cowo masa lalu). Suatu ketika, entah dorongan dari mana (setan sih kayaknya, wkwk) ingin aja gitu saya kirim kalimat motivasi ke orang itu. Lalu orang itu (masih) ngegombal, “Thanks ya motivasinya, saya ga ngerti kenapa kamu selalu kasih semangat di saat yang tepat meski saya ga cerita”. 

Saya langsung sadar, ini ga bener. Lalu mikir, jangan-jangan gara-gara sering ngedoain jadi masih nyambung aja perasaannya. Akhirnya saya berhenti doain orang itu, demi suksesnya move on wkwk. It works!

Saya jadi lebih gampang move on dan kayak dilihatin gitu sama Allah kalo orang itu ga tipe saya banget. Sekarang malah dapet suami yang lebih bagus segala-galanya :p

Pelajaran yang saya ambil adalah : doa itu pengikat hati. Tanda kalo saya udah maafin orang (kayak yang saya singgung di atas), selain udah ga kasuat-suat adalah saya bisa doain kebaikan buat orang tersebut dengan ikhlas.

Nah, poin ini jadi pengantar selanjutnya..

“Musyawarah” dengan bahasa yang baik

Masih nyambung dengan ayat di atas.. entah kenapa saya ngerasa itu petunjuk Allah dalam rekonsiliasi, dengan siapapun. Kalo baca dari ayat 156, itu tentang orang munafik yang bilang ke muslim, “coba dia denger apa kata saya (ga ikut perang), dia bakalan masih hidup sekarang, ga mati”. Bikin sakit hati banget ga dengernya?

Nah, Allah bilang ke muslim : kalo bukan karena rahmat-Ku, kamu ga akan bisa lemah lembut sama mereka. Maafin aja, mohonkan ampunanKu buat mereka, lalu musyawarahlah dengan mereka tentang itu (ucapan yang bikin sakit hati).

Jadi, Allah menganjurkan untuk ngobrol baik-baik untuk menuntaskan. Namun, kalo mereka nyolot atau ga bisa diajak komunikasi, “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah.” ceuk ceunah mah do the best, let Him do the rest. 

Apakah semua hal perlu diobrolkan untuk menuntaskan? Lihat situasi dan kondisi kali ya. Kalo udah selesai di memaafkan dan memohon ampunkan, ya ga perlu sih. Karena butuh skill komunikasi yang mumpuni supaya apa yang kita ucap dipahami dengan baik sejak niat hingga isinya. Kalo enggak, malah tambah runyam.

Lihat juga kesiapan orang yang kita hadapi, termasuk ortu kita. Jika kondisinya tidak memungkinkan untuk bermusyawarah, ya jangan dulu. Mudah-mudahan dengan gigihnya upaya kita memaafkan dan mendoakan ampunan, bisa tuntas sebelum ngobrol langsung.

komunikasi imajiner

Nah, kalo di kelas-kelas workshopnya pak Asep, bisa juga dimediasi dengan “komunikasi imajiner”. Kita hadirkan orangtua kita di hadapan kita, lalu bicaralah apa yang ingin dibicarakan. Bicarakan semua mulai dari apa yang dirasakan, dampak apa yang kita terima dari perlakuannya, apa perasaan kita terhadap orangtua kita, apa yang kita inginkan darinya, hingga tuntas.

Lalu, bayangkan saja orangtua kita memberikan segala yang kita inginkan darinya. Permintaan maaf, pelukan hangat, belaian lembut, apa saja. Bayangkan saja orangtua kita melakukannya untuk kita.

Teknik ini biasanya bermanfaat untuk orang-orang yang ortunya sudah meninggal namun masih ada masalah yang belum selesai. Tidak hanya ortu sih, bisa pada siapa saja yang terkendala “pertemuan”.

Jika ortu atau orang yang bermasalah dengan kita masih hidup, memang lebih baik ada komunikasi langsung jika diperlukan. Selain agar tidak mengalami kejadian berulang (karena tidak dikomunikasikan), juga agar mendapat pahala menjaga silaturahim. Alhamdulillah saya ke Mama saya udah, dan legaaaaaaaa.. Saya doakan siapapun yang membaca tulisan ini punya kesempatan yang sama untuk merasakan kelapangan hati setelah berkomunikasi menuntaskan masalah, aamiinnnn..

 

Yeah, tulisan ini lebih panjang dari part kemaren, wkwkwk. Lebih banyak 1000 kata! Maaf yah kalo mblenger. Ini juga masih belum selesai da, masih PR untuk membahas bagaimana cara memutus rantai kekerasan dalam pengasuhan dari sisi peran kita sebagai orangtua dan sebagai insan.

Segitu dulu ya, doakan dikasih kelonggaran waktu dan kesehatan segenap keluarga saya supaya lantjar nerusin PR selanjutnya.

 

….Tuhan tolong tunjukkan apa yang kan datang, hikmah dari semua misteri yang tak terpecahkan : yang kau inginkan tak selalu yang kau butuhkan, mungkin memang yang paling penting cobalah untuk membuka mata hati telinga.

— Maliq & d’essentials

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *