Priority

Menentukan prioritas hidup, menurut saya adalah kemampuan yang wajib dimiliki semua manusia. Salah menata prioritas adalah awal dari salah mengambil langkah hidup.

Apa prioritas keluarga kami di 2018 ini?

Memperkuat ikatan internal keluarga, seperti grand design keluarga kami di 5 tahun pertama.

Ikatan itu membutuhkan ragam kecerdasan dalam merangkai temalinya. Utamanya, spiritual dan emosi.

So, kita mulai saja dengan mendisiplinkan diri ibadah dengan kualitas prima, memeluk alquran lebih erat (dengan hati) dan mengontrol diri.

Bismillah

Oia, setelah menjalani tantangan di level 2 kemarin, saya merasa “curang” terhadap Biboy. Saya “memaksa”nya berlatih tanpa mampu mengenal apa yang dihayatinya. Berkali-kali saya merasa, “is it good for him? Is it enough? Is it ok? Is it true?”.

Berhubung pepatah tv mengatakan “buat anak kok coba-coba”, maka setelah ini saya bersungguh-sungguh berlatih sendiri dulu, menghayatinya, baru menstimulasikannya ke Biboy.

Stimulasi lho ya, bukan melatih. Masih jauh rimbanya usia Biboy dari masa pelatihan. Stimulasi artinya menuai-menebar-menyemai. Masih jauh dari musim panen.

Biboy sendiri 24 jam hidup dengan saya. 12 jam hanya berdua dengan saya dan jeda tidurnya 1,5-2,5 jam saja. Sedangkan 12 jam sisanya hanya 2 jam saja waktu terjaga. Sisanya ya tidur.

Artinya, di hampir seluruh waktu terjaganya, yang dia lihat saya terus. Jadi, kehidupan baginya adalah apa yang saya lakukan bersamanya. Penghayatannya atas kehidupan itulah stimulasi dan pelajaran baginya. Penghayatan : sensorimotor + emosi.

Mari kita lihat kesehariannya. Saya sholat, dia berputar di sekeliling rok saya. Saya ngaji, dia berguling di pangkuan saya. Saya cuci piring, dia berpegangan pundak saya (literally, dia berdiri di pinggir sink ingin lihat proses cuci cuci). Saya mandi, dia setia tunggu di depan pintu. Saya wudlu, dia ikut membasuh kaki.

Awalnya saya tidak terlalu menyadari bahwa dia sudah mengkopi.

Sekarang dia sudah mahir menirukan gerakan takbir meski tangannya lebih mirip dirijen upacara 😂. Dia juga suka sekali menirukan gerakan sujud, meski lebih mirip ibuknya nungging waktu hamil dia di trimester 3, wkwkwk.

Soal gerakan, yasudah lah ya. Apa yang terlihat lebih mudah diikuti. Buat saya yang paling menantang justru membuat jangkar adzan-sholat. Saya belum disiplin langsung sholat seketika setelah adzan berkumandang. Padahal Biboy kelak harus berjamaah di mesjid. Dan ga lucu kan kalo jamaah munfarid mulu, apalagi kalo lewat sejam. Jamaah sama jam dinding apa?😅

#tantangan_ hari_ ke1
#kelasbunsayIip3
#game_ level3
#kami_ bisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *