Ra Ha Mim

Pagi tadi saya meeting kilat dengan suami dan Biboy, bahas project upgrading diri yang akan dijalankan oleh masing-masing kami. Biboy sih iya-iya aja katanya πŸ˜…

Sebagai makhluk yang dapet jatah amanah khalifah fil ardl, meeting rutin penting! Supaya kita teguh menjalani visi misi hidup dan visi misi pernikahan.

Suami fokus ke upgrading leadership skills baik di kantor maupun di rumah. Doi sedang ngos-ngosan menangani beberapa project yang deadlinenya bersamaan. Saking ngos-ngosannya, sampe turun gunung ikut nyolder2 πŸ˜‚. Akhirnya si istri yg sedih selalu dilemburin wkwkwk

Saya fokus ke tazkiyatun nafs, dengan langkah awal belajar dari nol Asmaul Husna. Lalu praktek.

Hari ini saya belajar sifat ArRahman dan ArRahim dari buku AaGym. Saya baru tau ternyata keduanya berasal dari akar kata yang sama : rahima, yang artinya belas kasih.

Kata Rahman dan Rahim tersusun dari huruf yang sama : ra ha mim. Kata Rahman setimbang dengan fa’lan yang menunjukkan kesempurnaan dan kesementaraan. Sedangkan Rahim setimbang dengan fi’il yang menunjukkan kesinambungan dan kemantapan.

Rahman tidak memiliki kata jamak, karena kesempurnaannya. Maka, hanya Allah yang berhak menyandang nama Rahman. Sedangkan Rahim mempunyai kata jamak Ruhama, yang mewujud pada sifat Rasulullah yang penuh belas kasih.

Bentuk rahmat Allah adalah karuniaNya yang sempurna pada semua makhluk tanpa pandang bulu. Namun, sifatnya sementara, hanya di dunia saja. Sedangkan bentuk sifat rahim bersinambung kepada ia yang terpilih hingga kehidupan abadi.

Lalu, bagaimana cara meneladani kedua sifat Allah ini?

Dalam konteks keluarga, sebisa mungkin menyalurkan letupan emosi tidak nyaman dengan cara yang baik agar rasa kasih dan sayang dalam diri saya tetap tumbuh dan tidak rusak.

Letupan emosi tak nyaman hari ini lumayan banyak.

Dengan anak saya menyalurkannya dengan mengajaknya bermain air di halaman belakang. Saya bisa menghirup udara segar sambil merekam tawanya saat bermain dengan riang menggunakan ponsel. Lihat anak ketawa bahagia pasti mereduksi sampah emosi, ya ga?

Dengan suami? Hufft. Komunikasi adalah koentji. “Pesan saya” dan “mendengar aktif” is never failed lah.

Satu lagi adalah yang sedang heboh di laman sosmed saya : H2O2 yang katanya bisa dikonsumsi dengan meneteskannya ke air minum 3-10 tetes.

Kadang, rasa kasih dan rasa kasihan itu jauh bedanya. Sebelum saya ditendang dari grup itu, saya kasihan.

Setelah saya mencermati bagaimana interaksi para member, saya baru menyadari satu hal : apakah rasa kasihan yang saya rasakan itu aman bagi jiwa saya?

Saya perlu bertanya lebih jauh ke dalam diri, mengapa saya mengasihani mereka? Karena menganggap mereka sesat, tersesat, dan menyesatkan? Licin sekali jalannya untuk tergelincir dalam kesombongan.

Istighfar. Jangan yaa.. jangan sampe terbersit menilai orang lain lebih rendah, lebih terbelakang, lebih bodoh, dan sejenisnya.

Setelah dipikir-pikir juga ahhhh, ruh emang akan ketemu dengan yang sefrekuensi. Ceuk bu Septi mah murid siap, guru datang. Mereka nyambung, karena memang siapnya ketemu dengan yang ada di grupnya. Kalo mereka siap dengan guru yang lain, pasti bakal sampe juga kok. Ruh itu mendekat karena saling mengenal, bukan?

Rasa kasihan itu mudah-mudahan berubah jadi rasa kasih, sesederhana mendoakan kita semua (termasuk saya) dibersihkan hatinya oleh Allah, supaya mendekat ke Pemilik Kebenaran Hakiki.

Eh, saya jadi pengen nulis obrolan dengan suami soal kenapa ada kubu dan siapa yang benar-benar pencari kebenaran, siapa yang sekedar pencari pembenaran. Lain kali lah ya.. gambarnya aja dulu, hehe

#tantangan_ hari_ ke2

#kelasbunsayIip3

#game_ level3

#kami_ bisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *