Pro Kontra dan Timbangan

Tidaklah suatu peristiwa terjadi dalam hidup kita, baik mengalaminya langsung atau sekedar mengamati, melainkan adalah maksud Allah mendidik kita menjadi hamba yang dicintainya.

Termasuk ketika saya masuk dalam selubung rasa takut saat menghadapi orang-orang yang berbeda pemahaman dengan saya. Saya dan mereka berdiri di sudut yang berbeda dalam memahami vaksinasi dan terapi kimiawi (H2O2).

Saya mendukung program pemerintah dan menolak terapi zat berbahaya itu, sedang mereka kebalikannya. Untuk membuat ini sederhana, saya kerucutkan pada vaksinasi saja.

Saya punya keyakinan program pemerintah bermaksud baik. Nakes yang melaksanakan (menurut mereka memaksakan) program ini pun berniat baik.

Tidak masuk dalam alam pikir saya jika pemerintah rela mengeluarkan dana besar untuk mencelakakan penerus bangsa. Tak masuk juga dalam logika saya jika nakes yang rela jiwanya terancam dalam menangani penyakit yang terjangkit ini hanya berniat memperkaya diri. Berapa lah harga nyawa, hanya satu pula jatahnya.

Namun mereka menganggap vaksin haram hingga ada sertifikat halalnya. Mereka merasa punya bukti vaksin ini mencelakakan semua anak karena zat berbahaya yang terkandung di dalamnya. Susaaaaaah kalo suatu keputusan diambil atas dasar rasa curiga. Mereka menyebut anak yang terkena KIPI sebagai martir. Mereka yakin pencegahan dan pengobatan yang benar hanyalah dengan memanfaatkan apa-apa yang halal dan thoyib serta yang tersebut dalam hadist Nabi.

Beberapa kali saya berkomunikasi lewat kata dengan mereka, membuat saya justru semakin mengkhawatirkan diri sendiri. Ya siapa saya juga sih perlu mengkhawatirkan mereka😅.

Ada yang berkata :

“Pelajari akidah lagi”

“Cek lagi hatinya, masih percaya Allah dan Rasulullah ga?”

“Jika makanan yang anda konsumsi HALAL, harusnya terima masukan saya”

“Penyembah vaksin detected”

Ya ya, saya tidak mengatakan mereka SEMUA berkata seperti itu. Itu bisa jadi kalimat emosional oknum yang kebetulan termasuk garda terdepan yang militan. Saya tidak akan menggeneralisir.

Jikapun yang mengatakan hal ini adalah orang-orang yang sepaham dengan saya, rasanya tetap sama. Rasa sedih dan khawatir itupun tetap menggelayuti.

Sedih karena yang diucap seperti itu sesama muslim. Khawatir tergelincir dalam penilaian yang menjatuhkan saya di mata Allah.

Memerintahkan orang lain untuk memeriksa akidahnya, apakah sudah sebegitu murninya akidah kita sehingga bisa menilai apa yang ada dalam hati seseorang?

Namun, karena itu perintah baik, ya saya kerjain aja xixixi. Jadilah saya baca bab 1 buku Syarah 10 Muwashofat (Salimul Aqidah, Aqidah yang Selamat). Baca deh, ada syarat diterimanya syahadat, ada macam-macam tauhid, ragam ibadah tauhid, dsb.

Satu hal yang jadi renungan saya adalah…

Segini beratnya kalimat syahadat. Bahkan bisa menyelamatkan pendosa dari kekal di neraka karena keimanannya.

Pertanyaannya, apakah maknanya sampai pada hati, kaki, tangan, dan lisan? Atau hanya indah di angan?

“Ketundukan terhadap apa saja yang ditunjukkan oleh kalimat syahadat itu harus mampu menghilangkan sikap inkonsisten terhadap kalimat tersebut.” Muhammad Husain Isa Ali Manshur, menuliskannya di bab 1 Syarah 10 Muwashofat.

Saya khawatir ketika kita meyakini sesuatu sebagai kebenaran mutlak padahal itu hanya penafsiran kita yang terbatas, apakah ini salahsatu bentuk inkonsistensi terhadap kalimat syahadat.

Ada pergulatan ego yang merasa benar dan hati yang adil. Akibatnya, muncullah kata-kata “periksa akidah” dan pertanyaan “masih percaya Allah dan Rasulullah?”.

Saya menegur diri saya sendiri untuk sangat berhati-hati. Kebenaran mutlak itu sampai kapanpun akan tetap benar meski tak ada pendukungnya, sedangkan penafsiran kita akan kebenaran selalu ada celah karena keterbatasan kita sendiri yang sangat manusiawi.

Pun begitu ketika seseorang berkata, “Jika makanan yang anda konsumsi HALAL, harusnya terima masukan saya”.

Kalimat ini tidak ditujukan kepada saya, namun saya merasa kalimat ini berbahaya sekali. Saya tidak ingin menilai yang mengatakan sebagai orang takabur, siapalah saya ini. Namun, kalimat kesombongan seperti itu dapat mengundang murka Allah.

Orang yang berselisih dengan kita terkait menghukumi sesuatu menjadi halal atau haram bukan berarti ada di kutub berlawanan dengan halal. Bukan juga berarti apa yang dimakannya tidak halal.

Perbedaan pendapat itu tidak seperti orang berdiri di atas sumbu x, ada yang berdiri di axis positif dan ada yang di axis negatif.

Perbedaan pendapat itu seperti orang duduk di meja yang bundar. Ada ragam perspektif terhadap benda di tengah meja, sedangkan kebenaran itu adalah benda itu sendiri. Lagi-lagi, bukan penilaian kita terhadap benda itu.

“Penyembah vaksin detected” adalah tuduhan paling keji yang saya simak dari pro-kontra ini.

Menganggap vaksin tanpa cela masih kesalahan manusiawi yang serupa dengan menganggap kacang tanah baik untuk kesehatan SEMUA orang. Namun, menuduh orang yang mengira kacang tanah baik untuk semua orang sebagai penyembah kacang sama saja dengan menghardiknya sebagai musyrik : penyembah selain Allah.

Apakah kita lupa bahwa tuduhan “penyembah selain Allah” kepada seorang muslim akan kembali pada penuduhnya?

Tak beda dengan pertanyaan, “jadi siapa tuhan mereka sebenarnya?”. Betul ini pertanyaan, bukan tuduhan. Namun, mengapa dan dari mana pertanyaan ini muncul?

Cara mengejawantahkan syahadat pada Allah tak hanya satu. Ranah akidah akan tetap menjadi ranah akidah. Allah jaminkan mereka yang kukuh pada akidahnya kelak tetap masuk surga. Ranah ikhtiar akan tetap menjadi ranah ikhtiar. Allah jaminkan pahala bagi siapapun yang berikhtiar sebagai ibadah di jalanNya.

Pelajaran terbesar dari pro-kontra adalah melatih otot emosi agar pikiran tetap sadar akan isi, melenturkan otot sosialisasi agar tak merasa benar sendiri, dan menguatkan otot spiritual agar tidak terjerat selendang yang hanya Allah boleh memakainya.

Siapapun yang berjuang untuk hidup di jalan halal tetap mendapat pahala di sisiNya dari jalan itu, pun tetap mendapat konsekuensi dari setiap pilihan hidupnya yang lain.

 

In my humble opinion, vaksin halal karena dalam proses hanya bersinggungan yang kemudian dibersihkan dengan teknologi canggih sehingga tidak ada unsur haram di hasil akhir. Kalaupun masih ada unsur haram, Rasulullah membolehkan menggunakan zat haram sebagai ikhtiar jika belum ada penggantinya.

Tentang zat berbahaya, bagaimana mungkin kalian merasa aman pada H2O2 sedangkan thimerosal yang kadarnya jauuuuuuh lebih kecil dicap berbahaya. Ya kalo gitu standar ganda ama thimerosal atuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *