Sifat Istimewa (1) : Hayyin

Saya, orang yang ibadahnya odong ini, pernah merasa patah hati karena setiap kali mendengar kajian disebutkan bahwa para ahli surga adalah mereka yang ahli sholat dan ahli shaum.

Atuh saya mah jauh pisan lah dari derajat khusyu. Shaum pun ya begitu aja, belum sampe mengubah karakter. Ibadah saya belum mampu memperbaiki perilaku saya.

Jadi, rasanya hopeless gitu bakal masuk surga kecuali atas RahmatNya dan syafaat RasulNya.

Saya terus bertanya-tanya, apakah saya bisa pulang ke surga dengan amalan yang begini adanya? Hingga di suatu malam, dalam angkot Stasiun-Sadang Serang, duduk di pojok, dengan badan lelah pulang kerja. Saya menyalakan radio dan mendengarkan kajian Aagym menggunakan earphone. Di luar hujan gerimis.

AaGym saat itu bertanya, “Hadirin, apakah ada orang yang mampu mengalahkan derajat ahli sholat dan ahli puasa?“. Tak terdengar jawaban jelas dari para hadirin, mungkin mereka ga yakin juga ada enggak ya? Sholat dan puasa adalah rukun Islam, man!

Lalu AaGym menjawab ADA. Orang yang amalannya mampu mengalahkan ahli sholat dan puasa adalah orang yang berakhlak mulia. Air mata saya meleleh saat itu.

مَا مِنْ شَيْءٍ يُوضَعُ فِي الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلاَةِ

Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat timbangannya dari akhlak mulia ketika diletakkan di atas mizan (timbangan amal) dan sungguh pemilik akhlak mulia akan mencapai derajat orang yang mengerjakan puasa dan shalat.” (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah No. 876)

Tumbuhlah harapan saya setelah AaGym membacakan hadist di atas. Saat itu, saya banyak disayang orang. Murid-murid saya, rekan kerja, teman kosan, ibu kos, keluarga, saya rasa akhlak saya pada mereka cukup baik, karena itu lah mereka menyayangi saya.

Lalu, negara api menyerang wkwkwk. Saya merasa mulai banyak masalah karena akhlak saya yang tidak cukup baik. Entah karena kesalahpahaman, ketersinggungan, sikap yang sok akrab (atau justru sikap yang menutup diri), perkataan yang menyakitkan, perasaan dimanfaatkan, dan ragam perilaku lain yang tidak baik.

Saya pernah ada di fase trauma berteman karena takut bermasalah lagi. Tidak mau mengangkat telpon padahal dulu suka berhahahihi berjam-jam. Jutek parah padahal dulu saya kenyang tanpa jajan kalo backpacking sendirian (dijajanin orang mulu karena suka ngobrol).

Saya tau saya perlu berubah, tapi mulai dari mana? Clueless banget. Lalu, saya hopeless hahaha. Yaudahlah, mungkin ini akan menjadi kepribadian dan nasib saya. Perbaiki ibadah ajalah.

Akhirnya Allah menakdirkan saya mendengar ceramah ustadz Hanan Attaki. Dibuka dengan Rasulullah SAW bersabda :

عَنْ عَبْـدِ اللهِ بْنِ مَسْـعُودٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ أَلاَ أُخْـبِرُكُمْ بِـمَنْ يَحْـرُمُ عَلىَ الـنَّارِ أَوْ بِـمَنْ تَحْـرُمُ عَلَـيْهِ الـنَّارُ عَلىَ كُلِّ قَرِيـبٍ هَـيِّنٍ سَـهْلٍ

Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Mas’ud ra berkata, ”Rasulullah saw telah bersabda, ”Maukah kalian aku beri tahu orang-orang yang tidak akan disentuh api neraka? Atau, orang-orang yang tidak akan masuk neraka? Dia-lah orang yang mudah bergaul [dalam kebaikan], berlemah-lembut, dan tidak mempersulit” (Hr.Tirmidzi).

Ya, mulai dari 4 sifat ini.

Saya jadi kembali bersemangat karena Allah hidayahkan ini. Bahkan pemilik sifat ini diimingi janji yang begitu menggiurkan. Dan yang paling utama, ini adalah 4 sifat yang paling disukai Allah.

Hayyin

Hayyin artinya rendah hati. Rendah hati, menurut Ustadz Hanan Attaki, adalah sifat dasar seorang hamba. Tidak mungkin seseorang disebut hamba, jika ia tidak menempatkan dirinya lebih rendah dari Rabbnya.

Jika kita perhatikan ayat-ayat tentang penciptaan, Allah mengingatkan manusia agar tetap rendah hati dengan cara menyebutkan asal muasal penciptaannya (tanah kering, air yang hina, segumpal darah), yang intinya manusia harus tau diri bahwa kita bukan siapa-siapa. Allah yang memberi kehormatan dan kemuliaan.

Begitu pula wahyu yang Rasulullah terima pertama kali, ada dua tema besar disana : kebesaran Allah dan kehinaan seorang hamba.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ، خَلَقَ الْأِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ، اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ، الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْأِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia —- kebesaran Allah

dari segumpal darah. —- kehinaan hamba

Baca, dan Tuhanmu paling mulia. Yang mengajar manusia dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan —- kebesaran Allah

manusia apa yang tidak diketahuinya (manusia tersebut)kehinaan hamba

Ternyata, yang pertama Allah ingin ajarkan pada kita adalah untuk menyadari bahwa hakikatnya kita ini rendah, bahkan Allah lah yang mengangkat derajat seorang hamba.

Tidak akan berkurang harta yang dishadaqahkan dan Allah tidak akan menambah bagi seorang hamba yang pemaaf melainkan kemuliaan dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan akan Allah angkat derajatnya.” (Shahih, HR. Muslim no. 556 dari shahabat Abu Hurairah )

Allah ingin kita rendah diri di hadapan Allah dan rendah hati di hadapan makhluk. Namun sebaliknya, jika kita memposisikan diri di tempat yang lebih tinggi, maka Allah akan menjatuhkan seperti Allah menjatuhkan iblis.

Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kesombongan.” Salah seorang shahabat lantas bertanya: “Sesungguhnya seseorang senang jika bajunya bagus dan sandalnya baik?” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Dzat yang Maha Indah dan senang dengan keindahan, Al-Kibru (sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”(HR Muslim dalam Shahih-nya)

Hayyin adalah identitas asli seorang hamba, hayyin adalah sifat yang paling dicintai Allah, dan orang yang memiliki sifat ini mempunyai ciri hamba yang dicintaiNya.

Salahsatu teladan Rasulullah yang menunjukkan sifat hayyin adalah ketika ia berkata : “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi pun melainkan dirinya pasti pernah menggembala kambing”.

Sering kali kisah ini dijadikan landasan dalam islamic leadership skills, namun melalui kisah ini Rasulullah juga ingin mengesankan bahwa dirinya setara dengan sahabatnya yang juga penggembala.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *