(Jadi Ortu) PeDe Aja Lagi

Bismillahirrahmanirrahim

Sebenernya ini tulisan lama yang ada di FB, tapi berhubung ada penulis kondang yang ingin baca tapi ga punya FB (wkwkwk), yaudah dipindahin aja sekalian ditambahin kalo ada insight baru.

Topiknya, sebenernya tentang rasa percaya diri dalam menjalani peran sebagai orangtua.

Waktu itu saya tulis setelah ketemu temen deket yang udah lamaaaaa banget ga ketemu dan saat itu udah punya bocah unyul yang ganteng dan murah senyum banget. Adorable!

Cerita banyak banget terutama soal pengalaman pertama dia dan suaminya jadi orangtua. Yang saya highlight adalah yang paling penting buat jadi orangtua hebat ternyata bukan hanya pengetahuan yang banyak tentang parenting, tapi kesadaran diri.

Sepulang saya dari ketemuan ama temen itu, saya nanya sama bu Elly Risman, “Bu, ilmu parenting itu ga penting ya?”. Pertanyaan yang ‘dong’ banget ga si, nanyanya ke pakar parenting pula 

Jawabannya adalah,

“Iya. Ibu-nya ibu kan ga belajar parenting tapi mengasuh ibu dengan sangat baik. Allah sudah sediakan perangkatnya dalam tubuh kita dengan menginstal ‘hardware dan software’nya, ditambah juknis Al Quran dan Sunnah”.

Yang beda agama, tentu ada di kitab suci masing-masing. Saya ga tau, silakan digging yaa 
Bahan tulisan ini berasal dari materi yang disampaikan oleh ibu Elly Risman di Konferensi Keluarga Indonesia 2014 yang diselenggarakan oleh BKKBN. Materi ini katanya dikembangkan oleh mereka menjadi modul BKB BKKBN dan edukasi ke BKKBN daerah oleh BKKBN Pusat.
~~~

Ngomong-ngomong soal peran sebagai orangtua, kan kata Bu Elly sebenernya kita ga perlu belajar parenting, asal kita taati juknis hidup dan satu lagi yang beliau tekankan : punya thinking skill, alias kemampuan berpikir.

Kenapa kemampuan berpikir diperlukan untuk menjalankan peran sebagai orangtua?

Nanti dijawab di bawah yaa…

Pada kenyataannya, banyak dari kita (saya, maksudnya 

) masih ragu-ragu dengan kemampuan diri (saya) sendiri.
Pertama, karena emang anak milenial jarang ada yang disiapin buat jadi orangtua. 
Kedua, masih punya unfinished business dengan diri sendiri dan masa lalu, ditambah yang ketiga, sekarang belajar parenting udah kayak gaya hidup. Ya karena ga disiapin buat jadi ortu tadi.

Seakan ada anggapan, jika ingin mampu mengasuh dengan baik, banyak-banyaklah belajar dari berbagai ahli agar bisa melihat dari berbagai sumber dan literatur.

Namun, apakah shopping knowledge itu tepat?

Awalnya semangat belajar parenting supaya punya modal menjalani pengasuhan, kok malah jadi kebingungan? Ternyata parenting banyak aliran ya?

Jadi, biar ga bingung, biar PEDE jadi ortu, harus gimana?

Hardware 1 : The Director

Setiap manusia dikaruniai Allah bagian otak yang paling canggih bernama Pre Frontal Cortex (PFC). Bagian otak yang hanya dimiliki manusia sebagai penciptaan yang paling sempurna.

PFC ini membuat kita memiliki kemampuan untuk memilih dan memiliki adab atau nilai-nilai fitrah (kebenaran). Itu bukan kata saya, tapi kata Jordan Grafman, PhD, peneliti Neuroscience dari University of Wisconsin-Madison.

PFC ini adalah direkturnya diri kita. Bagian ini adalah bagian untuk :

  1. perencanaan masa depan (keliatan kok di doa sewaktu anak baru lahir, ingin ntar anaknya jadi shaleh, sehat, bermanfaat, sehingga ortu ngedidiknya ke arah sana –kalo ga lupa ama harapan sendiri  ),
  2. pengorganisasian diri (harus bangun jam berapa anak masuk pagi, misal),
  3. pengaturan emosi (inget otak anak belom bersambungan saat mereka bikin sumbu pendek mau meledak),
  4. kemampuan menunda kepuasan (lagi pengeeeeen banget kalung bagus tapi tiba2 inget belum nabung bayaran sekolah anak),
  5. pengontrolan diri (biar ga senggol bacok kalo kesel ama anak )
  6. mengetahui dan mempertimbangkan konsekuensi dan mengambil keputusan (bikin seseorang jadi bertanggungjawab sama setiap pilihan hidupnya, meski cuma shouting anak ketika kesel #plak), dan
  7. menunjukkan ekspresi kepribadian (kalo posting foto selfie bikin malu keluarga ga kira-kira, misal)

Sampe sini jelas ga kenapa muslim itu kudu aqil bersamaan saat baligh? Karena setelah baligh, selain dia sudah bisa menghasilkan keturunan jika menikah, juga dia kena tanggungan syariat termasuk syariat dalam rumah tangga 

Mari kita jaga baik-baik PFC kita, dan kita tumbuhkembangkan baik-baik PFC punya anak-anak kita.

Karena jika kita menumbuhkembangkan PFC anak-anak kita dengan baik, kita sedang berinvestasi mendidik cucu kita dengan baik pula 🙂

Hardware 2 : Penciptaan Otak dan Sistem Tubuh Laki-laki dan Perempuan yang Berbeda

Allah Menginstall Perangkat Kemanusiaan untuk Mendukung Peran Seseorang (Menjadi Orangtua) Dengan Sempurna

Apaan nih maksudnya? Ini hardware juga. Ada di Sistem Syaraf dan Sistem Endokrin atau bahasa gaulnya mah Nervous System and Endocrine System. Perangkatnya adalah otak dan hormon.

Otak laki-laki dan otak perempuan diciptain beda. Hormonnya pun beda.

Sejak sel telur dan sel sperma bertemu dan mengalami fertilisasi, dan saat itu pula (anak biologi pasti tau) “organ” pertama yang terbentuk adalah BAKAL OTAK (lebih tepatnya sistem saraf). Pertama-tama berupa neural plate kemudian menggulung menjadi neural tube hingga akhirnya terbentuk dengan sempurna dua belahan otak.

Sekarang, lihat gambar di atas. Sinyal listrik (diwakili dengan garis acak di gambar otak) pada bayi laki-laki tidak banyak berlintasan antar dua belahan otak, sedangkan pada bayi perempuan sinyal listrik berlintasan dengan mudah antar dua belahan otak. Sehingga, jembatan (Corpus callosum) antar kedua belahan otak perempuan lebih tebal daripada otak laki-laki.

Corpus callosum adalah bagian dari otak manusia yang menghubungkan belahan otak kiri dengan otak kanan. Sekaligus menghubungkan otak emosi (limbic system) dengan otak rasional (neocortex).
Apa akibatnya?

Otak perempuan lebih mudah mengakses kedua belah otaknya sekaligus limbik dan korteksnya.

Kalo cewe marah (emosi di sistem limbik meletup2), aliran listrik di otak masih aktif ngalir dari limbik ke otak rasionalnya dan sebaliknya, dari otak kanan ke kiri dan sebaliknya. Jatoh2nya paling kata2nya ga bisa dikontrol dan udah gitu ga habis2 ngomeeeelllllll.

Sedangkan kalo laki-laki kalo udah terjebak di emosi, bisa irrasional. Duh keingetan tawuran sepak bola euy. Ok, saya baru sadar kenapa kata “talak” itu adanya di mulut laki-laki.

Kemudian soal hormonnya. Laki-laki lebih banyak testosteron, sedangkan perempuan lebih banyak serotonin dan oksitosin.

Testosteron bikin orang jadi fokus. Lagi kerja pikirannya ya kerja. Lagi maen sama anak pikirannya maen sama anak. Ga akan sempet lirik sana-sini kalo hatinya beriman. Chips ini diinstall Allah supaya para ayah menjadi orang yang bertanggungjawab terhadap keluarganya.

Kalo emak2, serotonin lebih banyak karena buat pereda setres apalagi dikala anak-anak balita pada meraung semua kayak sirine ambulan barengan! Belum lagi urusan domestik rumahtangga lainnya yang ga abis-abis. Sedangkan oksitosin dikasih supaya kalo abis kesel ama anak, bisa cepet iba karena sayang 

Intinya, perempuan emang diinstal chips multitasking dan self-healing supaya perannya sebagai ibu jadi optimal.

Maka, laki-laki dan perempuan dengan otaknya dan hormonnya yang berbeda itu, sudah dipersiapkan oleh Allah untuk menjadi ayah dan untuk menjadi ibu.

Nah kalo pernikahan sejenis gitu, begimana ya? secara otak dan hormonnya kan udah diciptainnya laki-laki jadi ayah, perempuan jadi ibu *wondering

Software 1 : Understand.exe dan Ilmu.exe

Andai diri kita ini komputer, perangkat processor (PFC) kita diberi seri yang tercanggih, RAM dan komponen lainnya pun demikian. Dan, ternyata kita sudah diinstallkan pula software dasar seperti windows office, media player, dll.

Sebagai manusia, kita juga diberi software understand.exe agar kita bisa belajar memahami dunia tempat kita tinggal, dan ilmu.exe agar semakin banyak hal yang bisa kita pelajari.

Ilmu Allah saaaaaangat luas. Dari yang Kauniyah maupun qauliyah. Asal kita merawat perangkat hardware kita dengan baik, ditambah dengan mengupgrade terus software menjadi versi yang lebih baik, kita bisa belajar apapun secara valid dari mana aja.

Dalam QS Al-‘Alaq Ayat 3-5, Allah bilang : Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Allah mengajarkan Ilmu-Nya

Sedangkan dalam QS Al-Baqarah Ayat 269, Allah bilang : Allah menganugerahkan al hikmah (kepahaman yang dalam) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).

Artinya ini pemberian.

Gimana ya caranya supaya Allah yang Mahabaik ini ngasih terus update-an versi terbaru understand.exe dan ilmu.exe ke kita?

Kita harus mampu menilai apa yang kita ketahui benar atau salah (self critic) dan mampu mengambil ilmu yang benar (bukan hoax atau pseudo). Jadi enggak halu sama apa yang kita ketahui, lalu kita ngerasa benar.

Kepahaman ini Allah kasih hanya pada orang yang mau capek-capek berpikir hingga mendapat ilmu yang benar.

Artinya, kita sangat perlu memiliki kemampuan berpikir yang baik. Supaya kita bisa melihat garis merah dari segala informasi (connecting the dot) dan ga terombang-ambing oleh informasi, sehingga kita ga salah ambil kesimpulan dan keputusan karena salah dan sesat pikir.

Betapa banyak saya melihat orang-orang yang bilang teori dan praktek ga sejalan seakan-akan teori itu yang ga valid.

Software 2 : Sadar.exe dan learning.exe

Image may contain: 1 person, text and closeup

Saya baru menghayati tulisan yang ada di gambar. Saya belajar parenting sejak 2009, hingga akhirnya saya punya anak di 2016, saya merasa siap praktek.

Nyatanya, parenting itu bukan praktek dari apa yang kita tau. Ada fitnah-fitnah ilmu yang berdasarkan pengalaman saya membuat kita terhalang dari praktek karena adanya ‘bugs’. Di antaranya adalah bugs ‘gangguan setan’, bugs ‘innerchild’, bugs ‘capek’, bugs ‘lapar’, dan bugs lainnya.

Sampai sini, sebenernya manusia bisa menjadi orangtua hebat. Orangtua hebat ga kenal agama, bukan cuma muslim doang yang bisa jadi ortu hebat, atau kristen doang, atau yahudi doang. As long as 2 hardware tadi optimal, anak-anak mereka aman di dunia.

Nah, kalo ngomongin akhirat, udah beda lagi.

Bener, parenting itu learning, oleh karenanya kita sangat perlu terhubung ke Allah agar Ia selalu kirimin kita update dari semua software buatanNya.

Caranya?

Ada manual book yang Allah buat saat bikin hardware dan software di atas. Ngoprek sendiri ketika ada trouble emang bisa, tapi apakah selamanya kita bisa? Pesawat Air Asia yang jatuh beberapa tahun lalu, adalah dampak dari pilot yang melakukan troubleshooting di luar petunjuk manual pembuat pesawat.

Manual Book : Al Quran dan Sunnah

Sekarang ilmu parenting berlimpah-limpah. Praktisi parenting buanyaaak. Dari yang Danish parenting, French parenting, Parenting ala Tiger Mom, Parenting Nabawiyah, sampe Neuroparenting.

Era digital lah ya, semua ada. Dunia berasa kayak piring, datar.

Kalo kata bu Elly mah, ortu selalu punya pilihan : Membeo apa kata ahli, Mengulang sejarah pengasuhan yang dikasih orangtuanya, atau Merubah pikiran dari apa yang dipelajari baik dari pengalaman maupun dari orang lain, lalu disesuaikan dengan juknis kehidupan.

Apa tuh juknis kehidupan kita sebagai muslim?

Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah bersabda, “Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu : Kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya“. [HR. Malik]

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [QS. An-Nisaa’ : 59]

Jadi, apapun ilmu yang kita pelajari, selalu kembalikan pada dua pegangan ini. Allah sudah jaminkan.

Mengerucut pada ilmu parenting, kalo di Quran mah ada ya ajaran-ajaran parenting. Qauliyahnya ada, kauniyahnya juga ada. Betapa banyak kisah-kisah parenting dari mulai Nabi Ibrahim sampai keluarga Imran dan nasihat Luqman! Betapa beragam latar belakang keluarga yang diceritakan mulai dari LDR, single parent, hingga anak yatim piatu. Semua ada juknis dan role modelnya.

EXTRA : ortu hebat itu…

Kewajiban orangtua yang paling mendasar adalah memahami siapa anak kita. Anak adalah Takdir (Al-Qasas : 68; Ash-Syura : 49 – 50), Anak adalah amanah (Al-Anfal : 27 – 28), Anak Penyejuk Mata (Al-Furqan : 74), Anak adalah Perhiasan (Al-Kahf : 46; Al-Imran : 14), Anak adalah Ujian (At-Taghabun : 15; Al-Munafikun : 9), dan Anak adalah Musuh (At-Taghabun : 14).

Ada 4 poin paling mendasar yang menjadi hak anak dan kewajiban kita sebagai orangtua :

a. Penghayatan akan adanya Allah dalam setiap jenak kehidupannya.

Dimulai dari siapa? Orangtuanya dulu yang menghayati kehadiran Allah dan anak akan meneladani. Kenapa? Karena teladan bersuara lebih nyaring dari berjuta kata-kata

b. Buat anak merasa dirinya berharga.

Biasakan menyapa perasaannya, memanggilnya dengan panggilan sayang, memeluk, membelai, dll.

4 pelukan perhari membuat anak merasa ada, 8 pelukan perhari membuat anak merasa diterima, 12-20 pelukan perhari membuat anak merasa berharga. Sehingga ia tidak akan mencari kasih sayang dari orang lain karena sudah mendapatkannya dari rumah.

c. Kemampuan berpikir kritis.

Bukan.. kritis itu bukan yang anak yang pandai berargumen saja jika ibu bapaknynya memberikan arahan.

Berpikir kritis adalah kemampuan memilih, mempertimbangkan resiko, merencanakan masa depan, mengatur emosi, menunda kepuasan, mengontrol diri, mengambil keputusan, dan bertanggungjawab atas segala keputusannya. Itu lhoooo yang tadi fungsi PFC.

Duh, kok kayaknya susah banget yaa.. by age lah yaa.. kalo masih piyik bisa dimulai dengan mempercayai pilihan dia saat pake baju, atau dia yang nentuin menu makan siangnya sendiri, atau bikin kesepakatan jadwal harian (berapa jam main game di gadget, berapa jam main game outdoor, kapan mandi, kapan makan, dll)

d. Kalo udah dibiasakan, anak akan terbiasa mandiri dan bertanggungjawabterhadap pilihan-pilihan hidupnya.

Jika empat poin ini ditunaikan, insyaAllah anak-anak kita akan selamat dari ancaman era digital.

Orangtua juga wajib punya kesepakatan dengan pasangan mengenai jumlah anak yang disanggupi dan bagaimana jaraknya. Bukan tentang rizkinya, Allah sudah janjikan bahwa setiap makhluk akan punya rizkinya masing-masing. Tapi lebih kepada kemampuan emosional.

Sebagai seorang ibu, sanggup punya anak berapa yang tidak marah-marah, bapak sanggup punya anak berapa yang tidak mudah membentak dan memukul, sehingga anak mendapat hak jiwa dan spiritual yang cukup.

Orangtua masa kini wajib sepakat untuk dual parenting. Ayah harus hadir dalam pengasuhan karena anak laki-laki akan belajar menjadi penentu GBHK –Garis Besar Haluan Keluarga (sebagai suami dan ayah) dari ayahnya. Dan anak peremuan akan belajar menghargai dirinya dari perlakuan ayahnya kepada dirinya.

Tidak hanya buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Begitu pula anak. Ada penjelasan detailnya mengenai wiring di sel saraf, tapi ntar aja yaa.. ga sekarang 

ini udah kepanjangan.

~~~~~~~~

Lihat deh, dari modal utama menjadi orangtua hebat di atas, hampir semuanya given (terberi), yang ada dalam kendali kita hanyalah disuruh sadar dan mikir doang!

Jadi, kalo anak kita bener, pinter, bageur, normalnya makin bikin kita tawadhu yah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *