Sifat Istimewa (2) : Layyin

Tulisan ini adalah lanjutan dari seri Sifat Istimewa, tulisan pertama membahas sifat Hayyin. Sekarang lanjut ke sifat kedua yaa

Layyin adalah sifat lembut namun tegas. Lembut tidak sama dengan lemah. Tegas adalah sifat mulia, bukan kasar. Kasar adalah akhlak tercela. Dua sifat mulia bisa dipadupadankan, namun mustahil sifat mulia dan sifat tercela dapat disatukan.

Kisah dalam Alquran yang paling menjelaskan sifat ini adalah kisah Musa as saat sedang ditarbiyah oleh Allah untuk mendakwahi Firaun.

Firaun bukan hanya sombong, ia mengaku dirinya tuhan, bahkan mengaku tuhan yang paling tinggi. Allah mendidik Musa untuk bersifat layyin pada Firaun.

Allah khusus mendidik Musa karena tabiatnya yang sangat keras terhadap kebatilan, berbeda dengan Harun yang pada dasarnya memiliki sifat lembut.

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaahaa: 44)

Bagaimana kalimat layyin yang mereka katakan pada Firaun?

فَقُلْ هَلْ لَكَ إِلَى أَنْ تَزَكَّى () وَأَهْدِيَكَ إِلَى رَبِّكَ فَتَخْشَى

Dan katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)” Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?”.” (QS. Al-Naazi’aat: 18-19)

Begitu pula Nabi Ibrahim as mencontohkan ketika sudah mentok ngobrol dengan ayahnya. Namun, nabi Ibrahim tetap menjawabnya dengan kata-kata yang lembut dan santun.

قَالَ سَلَٰمٌ عَلَيكَۖ سَأَستَغفِرُ لَكَ رَبِّيۖ إِنَّهُۥ كَانَ بِي حَفِيّا

Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” (QS. Maryam: 47).

Pemilihan kata سلام عليك menurut Ibnu Katsir juga bermakna ‘engkau tidak akan mendapatkan balasan yang tidak menyenangkan dariku, dari sisiku engkau aman’, bahkan nabi Ibrahim mendoakan kebaikan.

Jadi doanya tulus, bukan nyinyir.

Di ayat-ayat sebelumnya, nabi Ibrahim juga konsisten menggunakan kata “abati” intead of “abi” sebagai kata sapa.

Ustadz Khalid bilang, abati itu panggilan kepada ayah dengan makna “ayahku tersayang“, sedangkan abi bermakna “ayahku” saja.

Rasulullah sang teladan tertinggi juga memberi contoh dalam kisah fenomenal ketika orang badui pipis di masjid nabawi.

Memang tidak ada riwayat Rasul bicara apa pada orang badui itu, namun orang itu akhirnya memeluk Islam dan berdoa, “Ya Allah, rahmatilah Rasulullah, rahmatilah aku, tapi orang-orang itu (sahabat lainnya) jangan“. Wkwkwk, sebel soalnya dia sama yang lain.

Rasulullah menegur baik-baik, akhirnya badui itu merevisi doanya mendoakan rahmat untuk semua.

Kisah lain tentang sifat lemah lembut dalam Islam yang tanpa kehilangan ketegasannya adalah ketika ada seorang muslim yang melanggar syariat (mabuk) dan ditangkap membuat keonaran saat mabuk.
Rasulullah tetap memerintahkan orang itu dihukum demi hak syariat.

Orang itu diikat di tiang mesjid, lalu siapapun yang melewatinya diperintahkan memukul orang itu dengan sandal. Namun, hanya boleh di bagian tertentu dan tidak melukai (tangan dan kaki).

Lalu, ada seorang sahabat yang memukul sambil mencela “celaka kamu!“. Rasulullah pun menegur sahabat itu, “Jangan begitu, jangan membantu setan untuk mencelakakan saudaramu“.

Dalam Islam, tidak ada ruang bagi akhlak tercela. Hukum wajib tegak sebagai hak dari Islam, namun celaan bukan bagian dari Islam.

Bukhari meriwayatkan dari Aisyah hadits no.6927 bahwa Rasulullah bersabda,

يَاعَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِيْ الأَمْرِ كُلِّهِ

Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Mahalembut dan mencintai kelembutan di dalam semua urusan

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim no. 2593 dengan lafaz.

يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيْقٌ يُحِبُ الرِّفْقَ وَيُعْطِى عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعطِِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَالاَ يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

Wahai Aisyah, sesunguhnya Allah itu Mahalembut dan mencintai kelembutan. Allah memberi kepada kelembutan hal-hal yang tidak diberikan kepada kekerasan dan sifat-sifat lainnya

Muslim juga meriwayatkan hadits no. 2592 dari Jabir bin Abdullah bahwa Nabi bersabda,

مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ

Barangsiapa yang tidak memiliki sifat lembut, maka tidak akan mendapatkan kebaikan.

…..bersambung

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *