Inilah Kisah Awal Mula Manusia yang Kekal di Neraka

Alkisah, sejak masa Adam as, hidup para iblis selalu galau.

Mereka memikirkan masa depan anak cucunya, dan selalu julid dengan keshalehan anak cucu Adam as.

Mereka stress memikirkan cara untuk membuat anak keturunan Adam as membersamai mereka kekal di neraka

Ribuan tahun lamanya berpikir, namun iblis baru mampu membuat anak Adam bermaksiat berat

Maksiat membunuh seperti yang dilakukan Qabil kepada adiknya, bahkan tidak cukup berat membuat manusia di neraka selamanya

Iblis nyesek parah ketika maksiat sebesar apapun masih bisa dicuci di neraka untuk kemudian dengan rahmat Allah swt keturunan Adam as akan ditarik ke surga (S&K).
.
“Ugh! Damn.. Anak keturunan gue abadi di neraka, sedangkan anak Adam walau senista apapun tetep ujungnya ke surga? Big NO! Plis!
Ibadah gue sebelum ada si Adam, udah keren, salah gue cuma ga mau sujud sama makhluk hina itu!!! Mereka ga pantas di surga! Harusnya itu rumah gue dan anak-anak gue! Anak Adam harus di neraka selamanya!”, rutuk si Iblis penuh dendam.

Keturunan Adam as semasa hidupnya hingga keturunan Idris as adalah orang-orang shaleh.

Mereka menyembah Allah swt dan tidak menyekutukanNya.

Memang ada di antara mereka yang bermaksiat, namun aqidah mereka lurus dan mentauhidkanNya.

Di masa Nuh as lah ide gila iblis untuk membuat keturunan Adam as tak akan kembali ke syurga itu mewujud.

Iblis akhirnya tau apa cara jitu untuk membuat keturunan Adam as kekal bersamanya di neraka : kesyirikan.

Tapi, setelah mendapat ide itu, kepala mereka mumet lagi. wkwkwk.. ciyan

“Cem mana lah bikin mereka itu syirik.
Kalo tak bilangin, “udah ga usah nyembah Allah, nyembah berhala aja” pasti gue diejek abis-abisan oleh mereka๐Ÿ˜ญ. Mending cuma diejek, mereka pasti mukulin dan lemparin gue pake batu๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ. Gimana iniiii๐Ÿ˜ซ

Iblis pun berpikir keras dan terus merenung.

Pusing tujuh keliling!

….sampai akhirnya…

“Eh, mereka ini kan tetep sholeh gini karena mengidolakan leluhurnya yang sholeh-sholeh itu kan?

Aha!

Ada ideeeeย ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Iblis pun bergegas menemui salah satu dari umat Nuh as dengan cara menyerupai manusia.

Iblis bertanya padanya :

๐Ÿ‘นย : eh kamu sedih ga sih orang sholeh di antara kita udah banyak yang meninggal?

๐Ÿ‘ณย : sedih banget lah

๐Ÿ‘นย : gimana rasanya? Nyesek ya? Dada kamu kerasa sempit ya?

๐Ÿ‘ณย : Nyesek bangeeeet.. Sedih ngebayanginnya doang juga. Udah ga bisa lihat mereka lagi.

____iblis aja KBBM yak, menyapa perasaan dulu. Kagak langsung menggurui gituuu

๐Ÿ‘นย : Kalo gitu kenapa kalian ga lihat mereka tiap hari?

๐Ÿ‘ณย : Hah? Gimana caranya? Kan mereka udah meninggal?

๐Ÿ‘นย : Coba aja dilukis wajah mereka, kan jadi seakan-akan bisa lihat mereka terus

Dan si manusia pun terkagum-kagum dengan ide si iblis laknatullah

………….tambah kompooorrrr

๐Ÿ‘นย : Wajah mereka bisa jadi pengingat juga kan.. supaya kita tetap semangat beribadah kayak mereka. Supaya sama-sama masuk syurga sama seperti merekaย ๐Ÿ˜ˆ

Duh sok iye banget si mas ib, seolah-olah jadi amazing motivator, membungkus ide laknat itu dengan kebaikan.

Nostalgia kemenangan saat berhasil mengelabui Adam dan Hawa yah..

Nah, bisikan syetan yang dibungkus seolah-olah baik ini disebut syubhat. Familiar?

“Udah bunuh aja anak kamu, mumpung masih bayi bisa masuk surga. Kalo kamu asuh, kasian dia diasuh ibu yg stress dan ga becus kayak kamu. Kalo gede dan dia berbuat maksiat, dia berdosa.. kamu juga berdosa”

Bisikan syubhat lebih berbahaya daripada bisikan maksiat.

Orang yang dibisiki untuk bermaksiat bisa menolak karena hati nuraninya bisa mengenali perbuatan maksiat.

Sedangkan orang yang dibisiki syubhat hatinya tertipu dan terperdaya karena mengira perbuatan itu adalah hal yang baik.

Saat terkena fitnah syubhat, manusia tidak bisa membedakan yang benar dan yang salah menurut syariat.

Bahkan orang yang menuruti syubhat bisa melakukannya berulang-ulang tanpa rasa bersalah.

Seperti ibu yang membunuh 3 anaknya sekaligus.

Sedangkan orang bermaksiat, sekali dia melakukan pun bisa langsung sadar dan taubat.

Manusia akhirnya benar-benar melukis wajah orang-orang sholeh yang sudah meninggal.

Mereka memajangnya di rumah-rumah dan tempat ibadah mereka.

Mereka memperlakukannya sekedar pengingat dan motivasi, namun hati mereka masih mentauhidkan Allah.

Iblis gimana?
Kesel ga?
Merasa gagal ga?

Beuuuhhhhh sabar dia mahhhhh..

Trus ya kenapa kita suka gampang nyentak yak๐Ÿ™ˆ
Padahal katanya marah itu berasal dari setan.

Udah gitu pengennya instan. Kayak indomie seleraku. Direbus 3 menit, jadi. Duh autongiler. Ngajarin anak sekali, pengen langsung bisa. Setan aja sabarnya sampe ribuan taun.ย ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ

Ok back to topic

Tidak berhenti sampai situ, mereka mulai mengembangkannya menjadi relief-relief (gambar 3D kayak di candi Borobudur).

Sampai di sini, mereka juga memperlakukannya masih sekedar motivasi. Mereka masih bertauhid meski mereka meletakkan relief-relief itu di rumah-rumah dan di tempat ibadah.

Mereka meyakini relief itu tidak memberi manfaat dan mudharat, serta tidak mendatangkan rizki bagi mereka.

Akan tetapi mereka bertabarruk (mengambil berkah) dan mengagungkannya karena itu relief orang shaleh.

Selanjutnya, diperbanyaklah relief ini dan semakin diagungkan pula.

Setiap ada orang shaleh meninggal, pasti dibuatkan reliefnya dan diberi nama orang shaleh tersebut.

Setelah waktu yang lama generasi anak melihat bapak-bapak mereka mengagungkan relief, mereka mengembangkannya pula menjadi patung.

Semula bapak-bapak mereka mengambil keberkahan dan mengagungkan relief-relief itu (ini udah syirik sebenernya, tapi mereka ga sadar), generasi anak tambah mengagungkan patung dengan sangat.

Bapak-bapak mereka mengusap-usap, mencium, dan beribadah di samping relief, rukuk di samping relief, dan mempercayai dengan demikian ibadahnya lebih berkah. Namun, tidak menyembah relief itu.

Generasi anaknya kok ndilalah melenceng kejauhan.

Generasi anak bukan cuma membuat patung, tapi beribadah di hadapannya.

Mereka juga bertanya dan meminta pada patung tersebut, berqurban untuknya, dan begitulah akhirnya patung orang shaleh itu menjadi berhala sesembahan mereka.

Mereka beribadah pada berhala sebagaimana sebelumnya mereka beribadah pada Allah.

Mereka memperbanyak patung itu padahal tidak memberi manfaat dan rizqi bagi mereka.

Itulah kisah awal mula dan pertama kali manusia menyekutukan Allah swt hingga Ia mengutus Nuh as menjadi Rasul yang pertama.

Bagaimana mungkin mereka berjalan di muka bumi tapi menyekutukan Allah?

Umat Nuh as menganggap diri mereka cerdas dan Nuh lah yang bodoh, padahal mereka lah sebodoh-bodohnya manusia.

Apakah berhala itu yang menciptakan mereka?

Memberi makan mereka?

Menurunkan hujan untuk kebun mereka?

Kini, berhala itu mungkin bukan patung.

Bisa jadi pekerjaan, bos, pasangan, anak, jabatan, popularitas, idealisme, keyakinan dan kebenaran semu.

Kita tidak sadar, karena begitulah cara kerja syubhat.

Yuk banyak taawudz

ุฃูŽุนููˆุฐู ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุฌููŠู…ู

#catetankelasย tag buguruย Mila Anasanti

Maraji: diambil dari kitab Qasasin Nabiyyin by Syaikh An Nadwi (Kisah2 para Nabi oleh Syaikh An Nadwi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.